19 Maret 2023

CERPEN : Kartini dan Seekor Sapi



MATAHARI sudah meninggi ketika Kartini membuka mata pada hari itu. Semua orang membiarkan ia tidur lebih lama, tak ada yang membangunkan. Padahal, biasanya pagi-pagi sekali sebelum ayam berkokok, suara ibunya sudah nyaring menyuruhnya segera bangun.

Hari ini memang berbeda. Udara menghangat, tapi Kartini merasakan dingin menjalari kaki dan seluruh tubuhnya. Di luar rumah, ketika semua orang telah disibukkan dengan berbagai kegiatan--orang-orang tua di kebun, pemuda-pemuda di pabrik, dan anak-anak di sekolah--Kartini merasa dunia bergeming. Tak bergerak dan tak bersuara, beku sekaligus kejam. Namun, sebagaimana kata Bapaknya semalam, hari ini nasibnya akan ditentukan dan ia berharap semua keterasingan yang dirasakannya akan berakhir.  

Kartini masih tak beranjak dari kasur alas tidurnya. Ia tetap berbaring sambil menarik kakinya pelan-pelan, meringkuk, mencari rasa aman.
Di belakangnya, suara milik Bapak dan kakak lelaki satu-satunya, terdengar pelan tertahan.
“Jadi bagaimana, Pak? Dipikir-pikir dulu, Apa benar cuma itu? Kenapa Bapak tidak coba minta tanah atau sawah juga?”

“Hmm... benar juga, tapi kata Pak Polem, kalau minta terlalu tinggi, Pak Kades malah tidak akan kasih apa-apa sebab katanya semua ini terjadi karena kesalahan Kartini juga. Anak itu memang tumbuh terlalu cepat. Masih bagus Pak Kades ada niat baik mau kasih sesuatu meski kita belum tahu apa itu.”
“Kalau dikasih tanah, buat saya ya, Pak. Buat bangun rumah kalau besok nikah dengan Sulasih.”
Bapak tak menyahut.
“Lihat saja nanti,” katanya kemudian. ”Ya sudah, Bapak mau perbaiki pagar kebun. Kamu berangkatlah segera ke pabrik. Datang lebih awal dari jam kerjamu kan lebih baik.”
“Iya, Pak.”

Kartini mendengar langkah keduanya menjauh. Suara pintu terdengar membuka, lalu menutup lagi. Lalu sepi.
Keheningan mengoyak kekuatan Kartini. Air matanya menderas. Remaja berumur 14 tahun itu tersedu tanpa suara.

Kartini pikir, ketika ia terbangun hari ini, dunia akan kembali seperti semula. Bahwa ia dapat bebas keluar rumah, membantu ibunya mencuci, memasak, dan segala macam urusan rumah di kediaman Pak Kades. Lalu siang hari, ketika pekerjaan ibunya telah selesai, ia akan bertemu dan mengobrol banyak hal bersama Laras dan Sati, sahabatnya ketika belajar di sekolah dasar dulu. Namun, sepertinya, itu tidak akan terjadi. Tidak hari ini.

Terbayang wajah semua orang yang memandangnya jijik. Belum lagi, ibu Laras dan Sati yang merenggut tangan anak mereka dengan kasar lalu menarik mereka masuk ke rumah ketika Kartini datang untuk mengajak bermain bersama. Semua orang, sebagaimana dikatakan Bapak dan kakak lelakinya, menganggap ia pendosa.
***
Tak seperti anak-anak perempuan lain di desanya, tubuh Kartini memang telah mekar. Kakinya panjang jenjang, pinggulnya ramping, dua belah payudaranya telah tumbuh sebagaimana perempuan dewasa. Kulitnya cokelat, tetapi bersih. Hidungnya mungil sebagaimana kebanyakan perempuan di desanya, rambutnya yang kemerahan mengurai seadanya, berderai ke mana pun angin membelai.

Pesona Kartini ialah kesahajaan yang membuat seorang pemuda tidak membutuhkan hal-hal berlebihan dari seorang perempuan. Lantas, jika ia dianggap membuat pemuda di kampungnya, termasuk anak Pak Kades, tergoda, apakah itu dosanya?

Anak Pak Kades ialah pemuda yang sejak lama dikirim belajar ke kota. Ia sedang menempuh pendidikan tinggi agar kelak menjadi pembesar, bekerja di pemerintahan, atau menjadi wakil rakyat yang hebat. Ia pulang ke desa hanya sebentar, sekadar memenuhi panggilan rindu ibu-bapaknya.

Kartini ingat, anak Pak Kades memanggilnya ketika ia sedang membantu ibunya memasak di rumah majikannya itu. Pemuda itu meminta bantuan Kartini untuk menata buku yang baru ia keluarkan dari kotak-kotak kardus yang ia paketkan dari kota.

Sambil menata buku, anak Pak Kades mengajak Kartini bicara banyak hal. Ia bicara tentang anak perempuan seusia Kartini di kota yang masih bersekolah, bahkan banyak teman perempuannya yang belajar di perguruan tinggi. Mulanya, Kartini hanya diam mendengarkan cerita anak Pak Kades, lama-lama keingintahuan mengalahkan rasa malu dan sungkannya.

“Untuk apa perempuan bersekolah setinggi itu?” tanya Kartini heran. Setahunya, perempuan di desanya paling tinggi hanya menyelesaikan pendidikan mereka di bangku SMP. Untuk melanjutkan SMA, apalagi perguruan tinggi, mereka enggan bersusah payah menempuh jarak yang sangat jauh di kota, juga biaya yang tak murah.

“Begini, bersekolah itu agar kita bisa menempati posisi-posisi penting di pemerintahan atau di perusahaan. Perusahaan itu misalnya pabrik yang ada di desa kita, pemimpin itu contohnya bapak saya, Pak Kades, sedangkan rakyat atau warga contohnya seperti kamu ini, Kartini. Kalau jadi pemimpin, kita bisa membuat orang lain bekerja untuk kita, menghasilkan banyak uang untuk kita, atau membuat orang lain menuruti perkataan kita,” jawab anak Pak Kades.

“Apakah Kartini pernah memperhatikan, dalam kenduri-kenduri desa, bukankah hanya para pemimpin yang mendapatkan jamuan terbaik, tempat duduk terbaik dan penghormatan terbaik? Intinya, mempunyai pendidikan tinggi dan menjadi lebih pintar dari orang lain itu banyak keuntungannya. Apakah kamu mengerti?”  

Kartini berusaha mencerna kata-kata anak Pak Kades sambil membayangkan acara kenduri dan berangkatnya pemuda-pemuda desa ke pabrik. Terbayang bahwa selama ini Pak Kades dan istrinya selalu duduk di bangku paling pertama di setiap acara di desa. Semua orang juga membungkuk pada mereka.

Ketika pabrik desa hendak didirikan, Pak Kades ditemui oleh orang penting dari kota dan menurut cerita yang ia dengar dari mulut Bapak, Pak Kades mendapatkan banyak uang dari pemilik pabrik agar pabrik bisa berdiri tanpa ada penolakan. Sejak saat itu, Pak Kades dan pemilik pabrik pun berteman baik. Setiap kali ada masalah antara warga desa yang bekerja di pabrik dan pemilik pabrik, Pak Kades akan ikut menyelesaikan dan berbicara atas nama pemilik pabrik. Kehidupan Pak Kades semakin makmur, istri Pak Kades memakai banyak perhiasan, wajahnya berkilau dan tubuhnya wangi, ke mana-mana mengendarai mobil mahal dan bagus. Seluruh tanah di desa ini, kecuali tanah tempat pabrik berdiri, sudah dimiliki Pak Kades, termasuk tanah yang digarap bapak Kartini.   

Ketika Kartini sedang memikirkan semua itu sambil berkutat dengan buku yang sedang ditatanya, ia tak sadar jika anak Pak Kades sejak tadi gelisah, berusaha mengenyahkan pesona wajah dan tubuh Kartini. Rasa itu semakin tak tertahankan ketika Kartini berdiri dan mencoba meletakkan sebuah buku di atas rak. Di mata anak Pak Kades, Kartini sangat ranum, tak terlihat seperti anak-anak. Ia pun lantas memanggil ibu Kartini dan menyuruhnya mengantar beberapa buku ke kantor kepala desa, sedangkan di rumahnya yang sepi, ia memetik tubuh Kartini.
***
Hari dengan cepat berubah sore. Bapak Kartini baru kembali dari berkebun. Seminggu ini ia menjadi terbiasa dengan ketidakhadiran istrinya saat pulang ke rumah. Ia tahu istrinya marah, tapi ia yakin seiring waktu kemarahan itu akan hilang dengan sendirinya. Sementara itu, Kartini yang mengetahui bapaknya pulang, buru-buru naik lagi ke atas kasur, berbaring memunggungi pintu kamar.

Kartini mendengar bapaknya memasak air untuk menyeduh kopi, lalu duduk--mungkin di ruang tamu--sambil membakar sebatang rokok.
Suara pintu diketuk dan sekalimat salam terdengar dari luar. Bapak menyahut dan segera membukakan pintu. Dengan nada hormat dan kegembiraan berlebihan, Bapak menyilakan tamunya masuk.

Di kamarnya, Kartini menggigil. Pelan-pelan ia menarik kakinya, meringkuk, mencari rasa aman. Ia tak tahu apa yang sedang terjadi, dan tak tahu mengapa saat itu satu tangan anak Pak Kades tiba-tiba memeluknya, sedangkan tangan yang lain membekap mulutnya.

Kartini menginginkan Ibunya. Ia sangat membutuhkan ibunya lebih dari apa pun sekarang. Walau ibunya hanya diam ketika Bapak menudingnya tidak bisa mengurus anak perempuan mereka, walau ibunya juga tidak protes ketika Bapak dan kakak lelakinya setuju pada penawaran Pak Polem untuk mengganti rugi perbuatan anak Pak Kades kepadanya, tetapi ia akan merasa tenang jika ibunya ada di sisinya sekarang.    

Semenjak berita tentang Kartini yang sudah tidak perawan menyebar ke penjuru desa, ibu Kartini berhenti berkata-kata kepada siapa pun. Ibunya juga diam seribu bahasa saat para tetangga mengabarkan anak Pak Kades telah berangkat lagi ke kota. Sejak hari itu, ibunya tak lagi bekerja di rumah Pak Kades. Sejak hari itu pula, ibunya, setelah memasak nasi dan sekadar lauk di pagi buta, selalu pergi dan menghilang sepanjang hari. Ia kembali saat hari gelap, membersihkan diri sebentar, lalu tidur di samping Kartini, memeluk anak perempuannya itu, tanpa berkata-kata.

Kartini semakin gelisah. Ia membolak-balik badannya. Terdengar suara Pak Polem dan bapaknya berbicara. Di telinga Kartini, tak jelas lagi apa yang mereka bicarakan, yang ia dengar hanyalah kata ‘Kartini’, dan ‘seekor sapi’.
Kartini terus menggigil. Dunia terasa dingin, beku, dan kejam. Kartini tak tahu lagi bagaimana harus menjalani hidup saat dunia, dua sahabatnya--Laras dan Sati--serta segala yang ia ketahui, direnggut dan digantikan dengan seekor sapi.


Penulis:
Nilla A Asrudian ialah seorang cerpenis dan penulis lepas yang kini berdomisili di Depok. Selain buku cerpen Warna Cinta (-mu Apa?), ia juga sudah merampungkan dua novel, yaitu Aku Adiva dan Simulacrum. Kedua novel itu belum diterbitkan.

Sumber berita : mediaindonesia.com