10 Februari 2025

GURINDAM

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Gurindam secara umum merupakan susunan sajak yang terdiri dua baris dan mengandung petuah hidup. Karya Gurindam adalah sebuah nasehat kepada sesama manusia agar menjalankan kebaikan.

Menurut buku Mengenal Lebih Dekat “Puisi Rakyat” (2020) karya Sri Khairani Lubis, dkk, gurindam adalah jenis puisi lama yang berasal dari negara India. Gurindam identik dengan moral dan nilai agama. Pada zaman dahulu, masyarakat menjadikan gurindam sebagai norma kehidupan. Menurut Fitria Rosa, dkk dalam buku Karya Sastra Melayu Riau (2017), gurindam merupakan bentuk puisi Melayu lama yang terdiri dari dua larik (baris), memiliki irama akhir sama dan merupakan satu kesatuan utuh. Larik pertama berisikan soal atau perjanjian. Sementara larik kedua memuat jawaban soal atau akibat dari perjanjian tersebut.

 

Pendapat Para Ahli Lain

1. Masruchin (2017)

Karya sastra lama yang berbentuk puisi, yang terdiri dari dua baris kalimat yang memiliki rima atau sajak yang sama. Gurindam sendiri memiliki lebih dari satu bait yang terdiri dari dua baris tiap baitnya. Dalam baris pertama sebagai baris syarat, masalah, persoalan dan perjanjian. Sementara baris kedua sebagai jawaban akibat dari masalah atau hal yang terjadi pada baris pertama.

 

2. Raja Ali Haji (1989)

Salah satu bentuk puisi Melayu yang terdiri dari dua baris yang berpasangan, bersajak atau berima dan memberikan ide yang lengkap atau sempurna dalam pasangannya. Dengan keadaan yang demikian, baris pertamanya dapat dianggap sebagai syarat (protasis) dan baris kedua sebagai jawab (apodosis).

 

3. Ismail Hamid (1989)

Gurindam berasal dari kata sanskrit yaitu Kirindam yang berarti perumpamaan. Gurindam ini berkembang dalam masyarakat Melayu dan memiliki bentuk teks atau naskah tersendiri.

 

4. Sutan Takdir Alisjahbana

Sebuah kalimat majemuk yang terbagi menjadi dua baris yang bersajak. Tiap baris merupakan kalimat yang terhubung, yang terdiri dari anak kalimat dan induk kalimat, dengan jumlah suku kata yang tidak ditentukan tiap barisnya.


5. Harun Mat Piah

Gurindam adalah puisi Melayu lama, yang memiliki bentuk terikat dan tidak terikat. Bentuk yang terikat terdiri dari dua baris serangkap dan memiliki tiga hingga enam patah perkataan dengan rima a-a.

 

Ciri-Ciri Gurindam

Dikutip dari buku Master Bahasa Indonesia (2015) oleh Ainia Prihantini, berikut ciri-ciri gurindam

  1. Tiap bait terdiri atas dua larik atau baris, 
  2. Dua baris dalam gurindam membentuk kalimat majemuk.
  3. Antara baris pertama dan kedua memiliki hubungan sebab akibat. Baris pertama memuat soal, masalah, atau perjanjian. Baris kedua berisikan jawaban soal atau akibat masalah atau perjanjian pada baris pertama.
  4. Isi gurindam tercantum pada larik kedua
  5. Umumnya gurindam berisikan nasihat atau pelajaran
  6. Jumlah suku kata tiap baris tidak tetap, tetapi biasanya berjumlah antara 8 hingga dua 12 suku kata.
  7. Ada gurindam yang bersajak penuh (A-A, B-B, C-C), namun ada pula yang tidak.

 

Jenis Gurindam

Karya sastra puisi lama gurindam, memiliki dua jenis yang perlu sobat Grameds ketahui. Gurindam berkait dan gurindam berangkai. Agar tidak bingung membedakannya, yuk langsung saja kupas satu persatu.

 

1. Gurindam berkait

Gurindam jenis pertama ini memiliki teks berkait antara baris satu dan dua. Begitupun dengan baru selanjutnya terus berkaitan.

2. Gurindam berangkai

Berbeda dengan gurindam berkait, gurindam ini memiliki kata yang sama pada setiap dua baris. Jadi selain bunyi konsonan sama, kata awal juga memiliki kesamaan.

 

Fungsi Karya Sastra Gurindam

Karya sastra gurindam dibuat secara khusus dan mendalam tersebut pasti ada fungsinya. Tentu saja fungsinya mengarah kepada kebaikan dan menghindari dari keburukan. Seseorang yang membacai karya sastra gurindam maka ia akan mendapatkan fungsi secara intelektual dari teks-teks berbaris tidak lebih dari 6 kata itu.

 

1. Mendidik jiwa

Keaslian sebuah karya sastra yang dibarengi penghayatan hidup secara otomatis akan  mendidik jiwa baik si pembuatnya maupun pembaca. Gurindam yang sebagian besar berupa petuah agama dapat berfungsi untuk mendidik sisi kejiwaan manusia.

 

2. Menghibur manusia

Sebagai karya rekaan manusia selain berfungsi untuk mendidik jiwa manusia lebih baik lagi, gurindam bisa berfungsi untuk menghibur juga lho. Tema-tema gurindam yang berlatar “kasmaran” biasanya sangat menghibur pembaca. Sebab dari sana dilihatkan bagaimana lebay dan konyolnya orang yang sedang jatuh cinta.

 

3. Merekam kondisi sosial masyarakat

Kreativitas penulis gurindam yang dapat merekam kondisi sosial masyarakat menjadikan karya sastra puisi lama ini berfungsi untuk mengamati kondisi sosial budaya masyarakat. Gurindam mampu merekam segala kejadian dalam beberapa kalimat pendek.

 

4. Menyampaikan dakwah agama

Adanya karya sastra gurindam, akhirnya memudahkan para da’i menyebarkan ajaran-ajaran agama. Agama manapun yang tujuannya agar manusia melakukan kebaikan dan senantiasa menghindari keburukan.

 

Bahkan banyak karya sastra gurindam yang mengandung nilai-nilai ajaran luhur agama Islam dan budaya bangsa. Sebab gurindam sendiyoun dari budaya Melayu yang memiliki kedekatan dengan agama.

 

Contoh Gurindam

Salah satu karya sastra puisi lama Gurindam yang terkenal adalah milik Raja Ali Haji. Karya sastra puisi lama milik Raja Ali Haji berisikan 12 pasal.

 

Gurindam Dua Belas

 

Pasal 1:

Barang siapa tiada memegang agama,

sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama.

Barang siapa mengenal yang empat,

maka ia itulah orang yang ma’rifat.

Barang siapa mengenal Allah,

suruh dan tegahnya tiada ia menyalah.

Barang siapa mengenal diri,

maka telah mengenal akan Tuhan yang bahri.

Barang siapa mengenal dunia,

tahulah ia barang yang teperdaya.

Barang siapa mengenal akhirat,

tahulah Ia dunia mudarat.

 

Pasal 2:

Barang siapa mengenal yang tersebut,

tahulah ia makna takut.

Barang siapa meninggalkan sembahyang,

seperti rumah tiada bertiang.

Barang siapa meninggalkan puasa,

tidaklah mendapat dua termasa.

Barang siapa meninggalkan zakat,

tiadalah hartanya beroleh berkat.

Barang siapa meninggalkan haji,

tiadalah ia menyempurnakan janji.

 

Pasal 3:

Apabila terpelihara mata,

sedikitlah cita-cita.

Apabila terpelihara kuping,

khabar yang jahat tiadaiah damping.

Apabila terpelihara lidah,

niscaya dapat daripadanya paedah.

Bersungguh-sungguh engkau memeliharakan tangan,

daripada segala berat dan ringan.

Apabila perut terlalu penuh,

keluarlah fi’il yang tiada senunuh.

Anggota tengah hendaklah ingat,

di situlah banyak orang yang hilang semangat.

Hendaklah peliharakan kaki,

daripada berjaian yang membawa rugi.

 

Pasal 4:

Hail kerajaan di dalam tubuh,

jikalau lalim segala anggotapun rubuh.

Apabila dengki sudah bertanah,

datanglah daripadanya beberapa anak panah.

Mengumpat dan memuji hendaklah pikir,

di situlah banyak orang yang tergelincir.

Pekerjaan marah jangan dibela,

nanti hilang akal di kepala.

Jika sedikitpun berbuat bohong,

boleh diumpamakan mulutnya itu pekong.

Tanda orang yang amat celaka,

aib dirinya tiada ia sangka.

Bakhil jangan diberi singgah,

itupun perampok yang amat gagah.

Barang siapa yang sudah besar,

janganlah kelakuannya membuat kasar.

Barang siapa perkataan kotor,

mulutnya itu umpama ketur.

Di mana tahu salah diri,

jika tidak orang lain yang berperi.

 

Pasal 5:

Jika hendak mengenai orang berbangsa,

lihat kepada budi dan bahasa,

Jika hendak mengenal orang yang berbahagia,

sangat memeliharakan yang sia-sia.

Jika hendak mengenal orang mulia,

lihatlah kepada kelakuan dia.

Jika hendak mengenal orang yang berilmu,

bertanya dan belajar tiadalah jemu.

Jika hendak mengenal orang yang berakal,

di dalam dunia mengambil bekal.

Jika hendak mengenal orang yang baik perangai,

lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai.

 

Pasal 6:

Cahari olehmu akan sahabat,

yang boleh dijadikan obat.

Cahari olehmu akan guru,

yang boleh tahukan tiap seteru.

Cahari olehmu akan isteri,

yang boleh dimenyerahkan diri.

Cahari olehmu akan kawan,

pilih segala orang yang setiawan.

Cahari olehmu akan abdi,

yang ada baik sedikit budi.

 

Pasal 7:

Apabila banyak berkata-kata,

di situlah jalan masuk dusta.

Apabila banyak berlebih-lebihan suka,

itulah landa hampirkan duka.

Apabila kita kurang siasat,

itulah tanda pekerjaan hendak sesat.

Apabila anak tidak dilatih,

I’ika besar bapanya letih.

Apabila banyak mencela orang,

itulah tanda dirinya kurang.

Apabila orang yang banyak tidur,

sia-sia sahajalah umur.

Apabila mendengar akan khabar,

menerimanya itu hendaklah sabar.

Apabila menengar akan aduan,

membicarakannya itu hendaklah cemburuan.

Apabila perkataan yang lemah-lembut,

lekaslah segala orang mengikut.

Apabila perkataan yang amat kasar,

lekaslah orang sekalian gusar.

Apabila pekerjaan yang amat benar,

tidak boleh orang berbuat onar.

 

Pasal 8:

Barang siapa khianat akan dirinya,

apalagi kepada lainnya.

Kepada dirinya ia aniaya,

orang itu jangan engkau percaya.

Lidah yang suka membenarkan dirinya,

daripada yang lain dapat kesalahannya.

Daripada memuji diri hendaklah sabar,

biar dan pada orang datangnya khabar.

Orang yang suka menampakkan jasa,

setengah daripada syirik mengaku kuasa.

Kejahatan diri sembunyikan,

kebalikan diri diamkan.

Keaiban orang jangan dibuka,

keaiban diri hendaklah sangka.

 

Pasal 9:

Tahu pekerjaan tak baik, tetapi dikerjakan,

bukannya manusia yaituiah syaitan.

Kejahatan seorang perempuan tua,

itulah iblis punya penggawa.

Kepada segaia hamba-hamba raja,

di situlah syaitan tempatnya manja.

Kebanyakan orang yang muda-muda,

di situlah syaitan tempat berkuda.

Perkumpulan laki-laki dengan perempuan,

di situlah syaitan punya jamuan.

Adapun orang tua yang hemat,

syaitan tak suka membuat sahabat.

Jika orang muda kuat berguru,

dengan syaitan jadi berseteru.

 

Pasal 10:

Dengan bapa jangan durhaka,

supaya Allah tidak murka.

Dengan ibu hendaklah hormat,

supaya badan dapat selamat.

Dengan anak janganlah lalai,

supaya boleh naik ke tengah balai.

Dengan isteri dan gundik janganlah alpa,

supaya kemaluan jangan menerpa.

Dengan kawan hendaklah adil supaya tangannya jadi kafill.

 

Pasal 11:

Hendaklah berjasa,

kepada yang sebangsa.

Hendaklah jadi kepala,

buang perangai yang cela.

Hendaklah memegang amanat, buanglah khianat.

Hendak marah, dahulukan hajat.

Hendak dimulai, jangan melalui.

Hendak ramai, murahkan perangai.

 

Pasal 12:

Raja muafakat dengan menteri,

seperti kebun berpagarkan duri.

Betul hati kepada raja,

tanda jadi sebarang kerja.

Hukum adil atas rakyat,

tanda raja beroleh anayat.

Kasihan orang yang berilmu,

tanda rahmat atas dirimu.

Hormat akan orang yang pandai,

tanda mengenal kasa dan cindai.

Ingatkan dirinya mati,

itulah asal berbuat bakti.

Akhirat itu terlalu nyata,

kepada hati yang tidak buta.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan Anda mengisi komentar jika mendapat manfaat dari uraian di atas. Hindari SARA dan junjung tinggi etika kesopanan... No SPAM...!!! Terima kasih...