#navbar-iframe-container, #navbar-iframe, .navbar { display: none !important; height: 0 !important; visibility: hidden !important; }

My Songs

Mars SMANSAKA (Orchestra Version) :

Dirgahayu Indonesia :

HUT SMANSAKA :

Welcome to SMANSAKA :

SMANSAKA Juara Lagi :

Ekskul Musik Anthem :

19 Maret 2023

CERPEN : Kartini dan Seekor Sapi



MATAHARI sudah meninggi ketika Kartini membuka mata pada hari itu. Semua orang membiarkan ia tidur lebih lama, tak ada yang membangunkan. Padahal, biasanya pagi-pagi sekali sebelum ayam berkokok, suara ibunya sudah nyaring menyuruhnya segera bangun.

Hari ini memang berbeda. Udara menghangat, tapi Kartini merasakan dingin menjalari kaki dan seluruh tubuhnya. Di luar rumah, ketika semua orang telah disibukkan dengan berbagai kegiatan--orang-orang tua di kebun, pemuda-pemuda di pabrik, dan anak-anak di sekolah--Kartini merasa dunia bergeming. Tak bergerak dan tak bersuara, beku sekaligus kejam. Namun, sebagaimana kata Bapaknya semalam, hari ini nasibnya akan ditentukan dan ia berharap semua keterasingan yang dirasakannya akan berakhir.  

Kartini masih tak beranjak dari kasur alas tidurnya. Ia tetap berbaring sambil menarik kakinya pelan-pelan, meringkuk, mencari rasa aman.
Di belakangnya, suara milik Bapak dan kakak lelaki satu-satunya, terdengar pelan tertahan.
“Jadi bagaimana, Pak? Dipikir-pikir dulu, Apa benar cuma itu? Kenapa Bapak tidak coba minta tanah atau sawah juga?”

“Hmm... benar juga, tapi kata Pak Polem, kalau minta terlalu tinggi, Pak Kades malah tidak akan kasih apa-apa sebab katanya semua ini terjadi karena kesalahan Kartini juga. Anak itu memang tumbuh terlalu cepat. Masih bagus Pak Kades ada niat baik mau kasih sesuatu meski kita belum tahu apa itu.”
“Kalau dikasih tanah, buat saya ya, Pak. Buat bangun rumah kalau besok nikah dengan Sulasih.”
Bapak tak menyahut.
“Lihat saja nanti,” katanya kemudian. ”Ya sudah, Bapak mau perbaiki pagar kebun. Kamu berangkatlah segera ke pabrik. Datang lebih awal dari jam kerjamu kan lebih baik.”
“Iya, Pak.”

Kartini mendengar langkah keduanya menjauh. Suara pintu terdengar membuka, lalu menutup lagi. Lalu sepi.
Keheningan mengoyak kekuatan Kartini. Air matanya menderas. Remaja berumur 14 tahun itu tersedu tanpa suara.

Kartini pikir, ketika ia terbangun hari ini, dunia akan kembali seperti semula. Bahwa ia dapat bebas keluar rumah, membantu ibunya mencuci, memasak, dan segala macam urusan rumah di kediaman Pak Kades. Lalu siang hari, ketika pekerjaan ibunya telah selesai, ia akan bertemu dan mengobrol banyak hal bersama Laras dan Sati, sahabatnya ketika belajar di sekolah dasar dulu. Namun, sepertinya, itu tidak akan terjadi. Tidak hari ini.

Terbayang wajah semua orang yang memandangnya jijik. Belum lagi, ibu Laras dan Sati yang merenggut tangan anak mereka dengan kasar lalu menarik mereka masuk ke rumah ketika Kartini datang untuk mengajak bermain bersama. Semua orang, sebagaimana dikatakan Bapak dan kakak lelakinya, menganggap ia pendosa.
***
Tak seperti anak-anak perempuan lain di desanya, tubuh Kartini memang telah mekar. Kakinya panjang jenjang, pinggulnya ramping, dua belah payudaranya telah tumbuh sebagaimana perempuan dewasa. Kulitnya cokelat, tetapi bersih. Hidungnya mungil sebagaimana kebanyakan perempuan di desanya, rambutnya yang kemerahan mengurai seadanya, berderai ke mana pun angin membelai.

Pesona Kartini ialah kesahajaan yang membuat seorang pemuda tidak membutuhkan hal-hal berlebihan dari seorang perempuan. Lantas, jika ia dianggap membuat pemuda di kampungnya, termasuk anak Pak Kades, tergoda, apakah itu dosanya?

Anak Pak Kades ialah pemuda yang sejak lama dikirim belajar ke kota. Ia sedang menempuh pendidikan tinggi agar kelak menjadi pembesar, bekerja di pemerintahan, atau menjadi wakil rakyat yang hebat. Ia pulang ke desa hanya sebentar, sekadar memenuhi panggilan rindu ibu-bapaknya.

Kartini ingat, anak Pak Kades memanggilnya ketika ia sedang membantu ibunya memasak di rumah majikannya itu. Pemuda itu meminta bantuan Kartini untuk menata buku yang baru ia keluarkan dari kotak-kotak kardus yang ia paketkan dari kota.

Sambil menata buku, anak Pak Kades mengajak Kartini bicara banyak hal. Ia bicara tentang anak perempuan seusia Kartini di kota yang masih bersekolah, bahkan banyak teman perempuannya yang belajar di perguruan tinggi. Mulanya, Kartini hanya diam mendengarkan cerita anak Pak Kades, lama-lama keingintahuan mengalahkan rasa malu dan sungkannya.

“Untuk apa perempuan bersekolah setinggi itu?” tanya Kartini heran. Setahunya, perempuan di desanya paling tinggi hanya menyelesaikan pendidikan mereka di bangku SMP. Untuk melanjutkan SMA, apalagi perguruan tinggi, mereka enggan bersusah payah menempuh jarak yang sangat jauh di kota, juga biaya yang tak murah.

“Begini, bersekolah itu agar kita bisa menempati posisi-posisi penting di pemerintahan atau di perusahaan. Perusahaan itu misalnya pabrik yang ada di desa kita, pemimpin itu contohnya bapak saya, Pak Kades, sedangkan rakyat atau warga contohnya seperti kamu ini, Kartini. Kalau jadi pemimpin, kita bisa membuat orang lain bekerja untuk kita, menghasilkan banyak uang untuk kita, atau membuat orang lain menuruti perkataan kita,” jawab anak Pak Kades.

“Apakah Kartini pernah memperhatikan, dalam kenduri-kenduri desa, bukankah hanya para pemimpin yang mendapatkan jamuan terbaik, tempat duduk terbaik dan penghormatan terbaik? Intinya, mempunyai pendidikan tinggi dan menjadi lebih pintar dari orang lain itu banyak keuntungannya. Apakah kamu mengerti?”  

Kartini berusaha mencerna kata-kata anak Pak Kades sambil membayangkan acara kenduri dan berangkatnya pemuda-pemuda desa ke pabrik. Terbayang bahwa selama ini Pak Kades dan istrinya selalu duduk di bangku paling pertama di setiap acara di desa. Semua orang juga membungkuk pada mereka.

Ketika pabrik desa hendak didirikan, Pak Kades ditemui oleh orang penting dari kota dan menurut cerita yang ia dengar dari mulut Bapak, Pak Kades mendapatkan banyak uang dari pemilik pabrik agar pabrik bisa berdiri tanpa ada penolakan. Sejak saat itu, Pak Kades dan pemilik pabrik pun berteman baik. Setiap kali ada masalah antara warga desa yang bekerja di pabrik dan pemilik pabrik, Pak Kades akan ikut menyelesaikan dan berbicara atas nama pemilik pabrik. Kehidupan Pak Kades semakin makmur, istri Pak Kades memakai banyak perhiasan, wajahnya berkilau dan tubuhnya wangi, ke mana-mana mengendarai mobil mahal dan bagus. Seluruh tanah di desa ini, kecuali tanah tempat pabrik berdiri, sudah dimiliki Pak Kades, termasuk tanah yang digarap bapak Kartini.   

Ketika Kartini sedang memikirkan semua itu sambil berkutat dengan buku yang sedang ditatanya, ia tak sadar jika anak Pak Kades sejak tadi gelisah, berusaha mengenyahkan pesona wajah dan tubuh Kartini. Rasa itu semakin tak tertahankan ketika Kartini berdiri dan mencoba meletakkan sebuah buku di atas rak. Di mata anak Pak Kades, Kartini sangat ranum, tak terlihat seperti anak-anak. Ia pun lantas memanggil ibu Kartini dan menyuruhnya mengantar beberapa buku ke kantor kepala desa, sedangkan di rumahnya yang sepi, ia memetik tubuh Kartini.
***
Hari dengan cepat berubah sore. Bapak Kartini baru kembali dari berkebun. Seminggu ini ia menjadi terbiasa dengan ketidakhadiran istrinya saat pulang ke rumah. Ia tahu istrinya marah, tapi ia yakin seiring waktu kemarahan itu akan hilang dengan sendirinya. Sementara itu, Kartini yang mengetahui bapaknya pulang, buru-buru naik lagi ke atas kasur, berbaring memunggungi pintu kamar.

Kartini mendengar bapaknya memasak air untuk menyeduh kopi, lalu duduk--mungkin di ruang tamu--sambil membakar sebatang rokok.
Suara pintu diketuk dan sekalimat salam terdengar dari luar. Bapak menyahut dan segera membukakan pintu. Dengan nada hormat dan kegembiraan berlebihan, Bapak menyilakan tamunya masuk.

Di kamarnya, Kartini menggigil. Pelan-pelan ia menarik kakinya, meringkuk, mencari rasa aman. Ia tak tahu apa yang sedang terjadi, dan tak tahu mengapa saat itu satu tangan anak Pak Kades tiba-tiba memeluknya, sedangkan tangan yang lain membekap mulutnya.

Kartini menginginkan Ibunya. Ia sangat membutuhkan ibunya lebih dari apa pun sekarang. Walau ibunya hanya diam ketika Bapak menudingnya tidak bisa mengurus anak perempuan mereka, walau ibunya juga tidak protes ketika Bapak dan kakak lelakinya setuju pada penawaran Pak Polem untuk mengganti rugi perbuatan anak Pak Kades kepadanya, tetapi ia akan merasa tenang jika ibunya ada di sisinya sekarang.    

Semenjak berita tentang Kartini yang sudah tidak perawan menyebar ke penjuru desa, ibu Kartini berhenti berkata-kata kepada siapa pun. Ibunya juga diam seribu bahasa saat para tetangga mengabarkan anak Pak Kades telah berangkat lagi ke kota. Sejak hari itu, ibunya tak lagi bekerja di rumah Pak Kades. Sejak hari itu pula, ibunya, setelah memasak nasi dan sekadar lauk di pagi buta, selalu pergi dan menghilang sepanjang hari. Ia kembali saat hari gelap, membersihkan diri sebentar, lalu tidur di samping Kartini, memeluk anak perempuannya itu, tanpa berkata-kata.

Kartini semakin gelisah. Ia membolak-balik badannya. Terdengar suara Pak Polem dan bapaknya berbicara. Di telinga Kartini, tak jelas lagi apa yang mereka bicarakan, yang ia dengar hanyalah kata ‘Kartini’, dan ‘seekor sapi’.
Kartini terus menggigil. Dunia terasa dingin, beku, dan kejam. Kartini tak tahu lagi bagaimana harus menjalani hidup saat dunia, dua sahabatnya--Laras dan Sati--serta segala yang ia ketahui, direnggut dan digantikan dengan seekor sapi.


Penulis:
Nilla A Asrudian ialah seorang cerpenis dan penulis lepas yang kini berdomisili di Depok. Selain buku cerpen Warna Cinta (-mu Apa?), ia juga sudah merampungkan dua novel, yaitu Aku Adiva dan Simulacrum. Kedua novel itu belum diterbitkan.

Sumber berita : mediaindonesia.com

CERPEN : Saat Ayah Meninggal Dunia


Saat itu tamu-tamu, baik saudara maupun kerabat dekat ayah sudah mulai berdatangan. Teman-teman saya pun datang dan itu membuat saya heran. Dari mana mereka mendapat kabar? Saya sama sekali belum sempat memberi kabar. Dan peristiwa itu terjadi saat saya masih berumur sebelas tahun, sekitar tahun delapan puluhan. Tidak seperti zaman sekarang di mana kita bisa tahu segala hal mulai dari pensil alis merek apa yang seseorang kenakan hari ini, makanan apa yang mereka konsumsi malam tadi, dan segala hal remeh-temeh lewat sosial media, zaman itu telepon genggam pun kami tak punya. Satu-satuya alat komunikasi di rumah kami hanyalah telepon warna jingga yang tak henti-hentinya berdering tanpa bisa saya mute atau reject, kecuali dengan cara mengangkat gagang telepon lalu menutup kembali atau dengan cara mencabut kabelnya. Tapi otak saya tengah enggan berpikir.

Keheranan saya begitu saja menguap di antara lantunan para tamu yang tengah berdzikir. Ucapan belasungkawa yang tak berhenti mengalir. Sedu-sedan. Pertanyaan-pertanyaan. Yang semua terdengar bagai suara ledakan kembang api yang selalu saya benci. Melengking dengan notasi tinggi sebelum menggelegar, bergetar di langit hitam yang mendadak warna-warni. Saya selalu benci dengan keindahan sejenis itu. Keindahan yang congkak, pekak, begitu memaksa untuk diaku. Dan saya membenci semua suara yang saya dengar saat itu. Selain satu suara, dari mulutnya yang tak sekali pun berkata-kata.

Ia datang bersama teman sekelas saya yang langsung menubruk, memeluk, dan menangis lebih keras daripada saya. Di belakang punggungnya bisa saya lihat antrean orang-orang yang menunggu giliran dengan tangis yang tak kalah kerasnya. Wajah-wajah yang saya kenal. Wajah-wajah yang tidak saya kenal. Wajah-wajah yang berusaha keras untuk menunjukkan simpati dengan akting sekelas pemain sinetron. Jika tidak bisa menangis, paling tidak mengernyit sedikit dengan mulut mengerut seperti ikatan balon. Seolah tahu diri, ia yang datang bersama teman saya langsung memisahkan diri. Ia hanya menganggukkan kepalanya kepada saya, lalu pergi. Hal itulah yang membuat saya menyadari.

Ada banyak cara untuk menunjukkan simpati. Dan antrean simpati memanjang yang mengingatkan saya dengan permainan ”Ular Naga Panjangnya Bukan Kepalang” ini, bukanlah bentuk simpati yang saya butuhkan. Bahkan saya merasa tidak semua dari mereka yang datang karena memang benar-benar ingin memberi dukungan. Banyak dari mereka yang hanya ingin melihat dan dilihat. Mungkin juga supaya wajahnya ikut masuk siaran berita. Mengingat ayah saya adalah seorang pelukis ternama. Atau mereka hanya ingin menjadi salah satu saksi, atas gosip apa yang mungkin timbul setelah ini. Atau bisa jadi ada yang berharap mendapat warisan. Semasa ayah hidup, tidak jarang saya menyaksikan keluarga maupun kerabat datang meminta bantuan. Saya masih di bawah umur, maka masih harus berada di bawah perwalian. Sementara sejak orangtua saya bercerai, Ibu bak raib ditelan bumi. Ada yang bilang ia masih sendiri. Ada yang bilang ia menikah lagi. Saya tak peduli. Tapi saya berharap mereka peduli di situasi seperti ini. Jadi tidaklah berlebihan jika saya merasa mereka hanya pura-pura menaruh simpati. Sebab jika memang mereka benar bersimpati, mengapa mereka tidak peduli dengan apa yang saya butuhkan? Mengapa mereka lebih banyak berbicara ketimbang mendengarkan? Saya hanya butuh sendiri. Terlebih saya tak butuh pertanyaan-pertanyaan seperti;

”Mama udah datang, Sayang?”

”Mama udah dikabari kan?”

”Mama kok belum keliatan?”

”Mama kamu di mana?”

”Mama?”

”Mana?”

”MAMA?”

”MANA?”

”DIAAAAAAAAM! BUBAR SEMUA KALIAN!”

Teman sekelas saya terjungkal dari pelukan. Entah karena ia sendiri yang melepaskan. Atau saya yang tidak dengan sengaja melontarkan. Suasana mendadak hening. Yang terdengar hanya suara putaran kipas angin, Wuuus… wuuus… wuuus… wuuus… Seolah mewakili dengus napas para tamu di dalam ruangan. Kini mereka benar-benar memerhatikan. Kini mereka benar-benar mendengarkan. Semua mata menatap ke satu tujuan. Mata-mata itu bagai lampu suar yang menyorot ke satu obyek. Lagi-lagi tidak untuk memelajari. Tapi...Menghakimi. Menelanjangi. Tanpa ampun. Sedikit pun.

Saya tidak pernah tahu jika yang lebih menyakitkan bukan menghadapi kematian melainkan menghadapi kehidupan. Kenyataan menjadi begitu sulit untuk diterima nalar. Dan seketika dunia saya jungkir balik. Pagi hari lebih menyerupai malam hari. Gurat senja lebih menyerupai lukisan nestapa. Kelopak bunga lebih menyerupai kelopak mata luka. Rintik hujan lebih menyerupai jarum kepedihan. Dan para tamu itu, lebih menyerupai hantu. Baik hantu masa depan maupun masa lalu.

Saya pun pergi meninggalkan ruangan dan masuk ke kamar. Menjauh dari para hantu yang sedang menyamar. Dari dalam kamar bisa saya dengar suara Wuuus… wuuus… wuuus… wuuus… kipas angin seketika dirubung suara Bzzz… bzzz… bzzz… bzzz… menyerupai lebah. Tangis saya pun pecah.

Entah berapa lama saya menangis sambil memejamkan mata. Yang saya tahu ketika membuka mata, ia sudah berada di sana. Duduk di atas kursi meja belajar saya. Tak berkata-kata. Tapi bisa saya rasakan ada ketulusan di matanya. Ketulusan dari seseorang yang baru saya kenal beberapa saat setelah ayah meninggal dunia. Saya balik menatapnya. Dan kami terlibat perbincangan panjang tanpa kata-kata. Saya menikmati caranya menyentuh saya tanpa menggunakan tangannya. Raga dan jiwa saya bergetar saat ia mengecup saya tanpa menggunakan bibirnya. Dan tanpa sadar saya menjawab semua pertanyaan yang tak ia utarakan.

”Mama saya ada di sini. Ia tak pernah pergi. Setiap hari ia bangun paling pagi. Membangunkan kami yang sedang asyik bermimpi. Dalam mimpi kami, Mama sudah pergi. Mengapa saya katakan kami? Sebab saya bisa melihat kebingungan yang sama di wajah ayah saya setiap kami bangun tidur. Pintu di sebelahmu itu, pintu yang menyambung ke kamar ayah saya. Setiap kali ayah bangun, yang pertama kali ia lakukan adalah membuka pintu itu untuk membangunkan saya. Tapi setiap ia membuka pintu, saya sudah terbangun juga. Saya terbangun karena dibangunkan oleh Mama. Saya heran, mimpi saya begitu nyata. Mama sudah tidak ada. Tapi kenapa bisa ia membangunkan saya? Dan keheranan yang tersirat di wajah ayah saya, sudah cukup membuat saya yakin jika ia mengalami hal yang serupa. Bahwa kami sama-sama bermimpi, Mama sudah pergi. Tapi setiap hari, Mama bangun paling pagi dan membangunkan kami. Ajaib, bukan?”

Ia berjalan menuju pintu tanpa menggunakan kakinya. Lalu membuka pintu tanpa menggunakan tangannya. Saya ikut berjalan ke sisinya. Kamar ayah saya terlihat rapi. Terlihat sunyi. Ada sebuah tempat tidur jati, dengan kelambu putih yang terikat di empat sisi. Sepasang lemari yang juga terbuat dari jati, berdiri di kanan kiri. Sepasang patung pengantin jawa, duduk dengan anggunnya di atas tikar yang terhampar di depan kaki tempat tidur. Selebihnya, tumpukan kanvas-kanvas kosong dan yang sudah disapu kuas ada yang bertumpuk, ada yang berjajar bersandar di dinding yang catnya mulai luntur. Ada dua pintu lagi di dalam kamar ayah. Salah satunya pintu keluar kamar di mana saya dan ia bisa mendengar suara Bzzz… bzzz… bzzz… bzzz… menyerupai lebah yang belum juga berhenti. Dan satunya lagi pintu menuju kamar mandi. Pintu kamar mandi itu terbuat dari partisi Jepang yang biasa disebut shoji. Berupa rangka kayu berlapis kertas transparan. Sehingga jika lampu sedang dinyalakan oleh seseorang dari dalam, kita bisa melihat bayangan.

”Ada Mama di dalam.”

Bayangan berkelebat dari dalam. Membuat saya ingin segera keluar kembali ke kamar. Ia berjalan mengikuti saya dari belakang tanpa menggunakan kakinya. Dan menutup pintu kembali tanpa menggunakan tangannya.

”Setiap kami berangkat tidur, Mama selalu menyelimuti kami. Karena itu saya tahu, Mama tidak hanya bangun paling pagi, melainkan juga tidur paling malam. Tapi Mama selalu pergi dalam mimpi kami. Saya tidak tahu dengan cara apa Mama pergi. Tidak ada adegan melambaikan tangan. Tidak ada adegan cium perpisahan. Tidak ada adegan berjalan keluar pintu. Tidak ada adegan apa pun kecuali Mama tidak ada.”

Kami kembali bertatapan. Cukup panjang, amat panjang sebelum akhirnya ia menganggukkan kepalanya kepada saya, lalu pergi. Untuk yang kedua kali.

”Mama mana?”

Teman sekelas saya bertanya pelan. Tapi cukup keras terdengar di pendengaran. Dan cukup jelas untuk membuyarkan lamunan. Di belakang punggungnya bisa saya lihat antrean orang-orang semakin menyerupai permainan, ”Ular Naga Panjangnya Bukan Kepalang.”

Catatan:

Permainan Ular Naga: Dimainkan berkelompok. Dua anak menjadi gerbang, berpegangan tangan ke atas, sedangkan anak-anak lainnya saling memegang bahu temannya sehingga mirip ular yang panjang berjalan mengitari gerbang.

*Ular Naga Panjangnya – Ciptaan: Ibu Sud

Djenar Maesa Ayu, ibu dari dua orang putri, Banyu Bening dan Bidari Maharani. Eyang putri dari Embun Kinnara ini lahir di Jakarta, 14 Januari 1973. Ia telah menerbitkan enam kumpulan cerpen berjudul Mereka Bilang, Saya Monyet!, Jangan Main-main (dengan Kelaminmu), Cerita Pendek Tentang Cerita Cinta Pendek, 1 Perempuan 14 Laki-laki, T(w)ITIT!, dan SAIA. Djenar juga menerbitkan sebuah novel berjudul Nayla.

Sumber Berita : Kompas.com


Kegiatan : Menafsirkan teks prosa yang dibaca

Peserta didik diminta membaca cerpen berjudul “Saat Ayah Meninggal Dunia” karya Djenar Maesa Ayu. Setelah membaca, peserta didik diberi pertanyaan berikut:

1) Analisis dan jelaskan pemaknaan unsur intrinsik dan ekstrinsik cerpen tersebut!

2) Tuliskan kesimpulan makna secara keseluruhan dalam teks prosa cerpen tersebut!


CERPEN : Penggali Sumur yang Ingin Pensiun


Dari daun jendela yang terbuka, aku melihat Om Banus berdiri sendirian di sumur. Kedua lengannya yang kekar menekan bibir sumur. Kepalanya ditundukkan seperti sedang melihat sesuatu dalam sumur yang memikat matanya. Dalam bentangan jarak itu, aku melihat ia tercenung tanpa peduli angin sore yang menyapu-nyapu rambut ikalnya.

Kami mengenalnya sebagai lelaki penggali sumur. Ibu pernah bercerita bahwa sumur di tengah kampung kami adalah sumur pertama yang digali Om Banus. Ia tergerak menggali sumur karena orang-orang kampung hanya menaruh harapan dari curah hujan. Om Banus berhasil menggali sumur itu dengan kedalaman mencapai 16 meter. Warga membantu Om Banus membuatkan dinding sumur dengan batu bata.

Keberadaan sumur yang terbuka menghadap langit itu tidak hanya memperpanjang hidup kami di musim kemarau, tetapi menumbuhkan cinta, persaudaraan, keakraban, dan kebersamaan warga di kampung kami. Di sumur itu, kami menunggu giliran sambil bercerita, melepas penat kerja seharian, dan bergurau dalam suasana penuh keakraban. Siapa pun yang datang ke sumur itu pasti menemukan cinta yang bahagia dan menyaksikan persatuan himpunan manusia yang tak membedakan suku, agama, dan ras di kolong langit ini.

Ketika jumlah penduduk bertambah, kampung kami dibagi menjadi empat dusun. Warga dibagi merata ke dalam empat dusun itu. Om Banus diminta menggali lagi tiga sumur. Satu untuk dusun satu, satu untuk dusun tiga, dan satu untuk dusun empat. Sumur pertama ada di dusun dua, di tengah-tengah kampung. Semua itu berlangsung dalam keputusan bersama di bawah pimpinan kepala desa.

Kini, warga mulai menimba air sumur di dusunnya masing-masing. Tetap ada kegembiraan, kebersamaan, dan cinta. Tapi, tidak lagi dalam jumlah banyak. Belakangan, beberapa warga merasa perlu memiliki sumur di pekarangan rumah mereka sendiri. Alhasil, mereka mendatangi dan meminta Om Banus menggali sumur bagi mereka. Lelaki itu telah menggali empat sumur lagi untuk memenuhi permintaan warga. Sejak itu, suasana di setiap sumur berubah total. Orang-orang mulai berkurang.

Tidak ada lagi gelak tawa warga atas ulah Om Lamber yang kerap melawak sambil menunggu giliran. Tidak terdengar lagi kemarahan Om Tonis yang mengundang tawa, Nenek Maria bersama anjing jantan yang selalu mengikutinya. Tante Vero yang selalu membawa ember berukuran lebih besar dari tubuhnya. Nyanyian orang tua dan orang muda dari gambus yang dipetik Om Leo, dan tiada lagi teriakan anak-anak kecil yang berlarian serta kejar-kejaran menunggu ibu dan bapak mereka menimba air. Kegembiraan-kegembiraan yang pernah tercipta itu bergantung bagai embun lalu menghilang seperti tak memiliki masa lalu.

Om Banus masih berdiri tercenung di sumur itu. Aku tergerak untuk menemuinya. Kudapati ember dan bergegas ke sumur. Ada bersama Om Banus adalah suatu kebahagian bagiku. Apalagi mendengar ia bercerita tentang perjuangannya menggali sumur. Itu selalu menyenangkan hatiku. Entah kenapa tapi kurasa itu suatu perjuangan yang mengagungkan di muka bumi ini.

Terakhir kali aku bercerita dengan Om Banus ketika aku bersama kedua temanku, Kedaman dan Olak, menyaksikan dirinya menggali sumur Om Rino. Kebetulan rumah Om Rino cukup dekat dengan sekolah kami sehingga kami menyambangi Om Banus sepulang sekolah.

”Om Banus, sudah dapat airnya?” Kedaman bertanya sambil melongok ke dalam sumur yang sedang digali itu.

”Belum, Kedaman. Sesekali kamu bantu Om gali sumur, ya Nak,” Om Banus memberitahukan bernada gurau.

Sesudah itu, ia mengingatkan Kedaman berhati-hati agar tidak terjerumus ke dalam sumur itu. Ia menyulut sebatang rokok dan mengisapnya dalam-dalam. Aku melihat urat-urat tangannya menyembul-nyembul bagai kabel-kabel listrik di rumahku. Tubuh itu kokoh kuat dilengkapi lengan yang hitam terbakar sinar matahari. Melihatnya aku selalu teringat sosok Bapakku yang kini bekerja di tanah Malaysia. Tubuh dan kulitnya mirip Bapakku.

”Mengapa Om Banus tidak ke Malaysia saja? Biar jadi sopir seperti Bapakku. Gali sumur ini cape, Om,” kataku sambil melihat ia mengepulkan asap rokoknya yang menggelung-gelung ke udara. Rokok itu begitu kecil di tangannya. Bahkan, batangan rokok itu tidak menyamai jari-jarinya yang hitam.

”Ah, kamu ini. Senangnya ke Malaysia saja. Di sana, kerjanya lebih berat. Jadi, jangan pernah berniat pergi ke Malaysia. Kerja di sini saja,” timpal Om Banus sambil mengusap-usap rambutku. Ia begitu dekat dengan kami anak-anak, sehingga kami selalu membantu memikul alat-alat kerjanya kalau pulang kerja.

”Kenapa Om Banus ingin jadi penggali sumur?” Giliran Olak, lelaki yang suka mencari tahu itu bertanya. Om Banus mengisap rokoknya sekali lagi dan kami diam menanti jawabannya. Aku dan Olak duduk bersama Om Banus di atas bale-bale bambu. Aku di sebelah kanannya, Olak berhadapan langsung dengan Om Banus, dan Kedaman berdiri di dekat lubang sumur dengan tubuh sepenuhnya kepada kami.

Setelah mengepulkan asap ke udara, ia berkata pelan, ”Om ingin orang-orang di kampung ini bisa hidup. Karena, air adalah sumber hidup kita, anak-anakku.” Ia membuang batang rokok yang telah menjadi puntung di tangannya. Wajahnya menengadah ke atas membayang sesuatu.

”Di sumur,” lanjut Om Banus, ”Kita akan menimba kehidupan, anak-anakku. Kita akan bercerita, belajar sabar, dan dikuatkan oleh persatuan, Nak. Di sumur, kita menemukan diri kita bukan lagi satu, tapi menjelma persekutuan yang kuat, sebagaimana satu tetes air yang jatuh dari bibir sumur dan menjadi banyak di dasar sana, anak-anakku. Itu sebabnya, Om ingin jadi penggali sumur.” Aku melirik kepada Olak dan menemukan dirinya telah cukup puas. Saat kuarahkan pandangan kepada Kedaman, mata kami bertumbukan dan aku melihat Kedaman mengangguk-angguk.

”Tapi, kalau semakin banyak sumur, maka orangnya tidak akan ramai lagi, Om.”

Aku berkata begitu saja sambil menekan-nekan lengan kanan Om Banus. Ia melihatku lalu mengacak-acak rambutku dengan tangan kirinya. Bibirnya tersenyum, wajahnya merekah seperti bunga pagi hari. Raut wajah yang pernah merekah itu tak kutemukan ketika aku menjumpai dirinya di sumur, sore ini.

”Om Banus, kenapa murung?” Aku mengagetkan lamunannya. Ia menoleh dan mendapatiku sedang meletakkan emberku di lantai sumur itu. Mataku tetap mandang Om Banus yang sedih.

”Eh, Goran.” Suaranya pelan dan sendu. Ia tidak melanjutkan kata-katanya. Aku mendekati dan berdiri di samping kanannya. Aku melongok ke dalam sumur, barangkali ada sesuatu di dalam sana yang membuat Om Banus bersedih. Tapi, tidak kutemukan apa-apa. Air di dasar sumur begitu tenang, dua timba dari jeriken putih pudar pun terggantung hening. Sepi. Sunyi.

”Tidak seramai dulu lagi, Nak. Semua orang sudah bisa mendapatkan air dari sumur di rumahnya masing-masing. Mesin-mesin telah menggantikan tenaga manusia, Nak.” Kalimat ini seperti sebuah penyesalan. Dan, aku paham bahwa Om Banus merasa bersalah telah menggali sumur-sumur bagi warga. Ia menyesal telah menjadikan sumur pertama ini tidak seramai dulu.

”Tidak ada lagi nyanyian rayuan orang muda dari gambus Om Leo, kelucuan Om Lamber, kemarahan Om Tonis yang mengundang tawa, dan kegirangan anak-anak yang berlarian di lorong-lorong saat menunggu orang tuanya menimba air.”

Rupanya Om Banus juga menghafal tingkah laku warga kampung kami. Aku menutup mata dan membayang semua kenangan-kenangan itu. Semuanya melekat erat di kepalaku. Saat kubuka mata, aku menemukan dasar sumur di hadapanku semakin gelap. Sementara Om Banus tengah mengumpulkan kenangan.

”Kalau boleh meminta, maka aku ingin kebersamaan kita kembali sebagaimana dulu lagi, Nak.” Ia terdiam. Begitu pun aku. Mata kami tetap tertuju kepada dasar sumur yang sama. Aku yakin, ada kerinduan yang sama di benaknya dan benakku di detik ini. Angin sore musim kemarau berhembus-hembus. Sumur ini semakin hening di hadapan dua lelaki yang mencintai kerinduan yang sama. Sebuah kerinduan akan kebersamaan yang semakin tergerus dalam pusaran waktu.

Dari dasar sumur, kenangan-kenangan itu menjelma bayangan-bayangan tiap orang yang pernah ada di sumur ini. Semuanya serasa berlarian di mukaku, tapi tiada kenyataan sesungguhnya, kini. Orang-orang telah menggunakan caranya mendapatkan air. Sebelum matahari benar-benar terbenam, bunyi mesin pompa air di beberapa rumah bersahut-sahutan. Samar-samar, telingaku menangkap ucapan Om Banus, ”Aku ingin pensiun.”

_______________________

Selo Lamatapo, lahir di Lembata, Nusa Tenggara Timur, 31 Juli 1992. Ia menulis cerpen dan puisi. Karya cerpen dan puisinya tersiar di media cetak dan daring.

Sumber Berita : Kompas.com



Kegiatan : Membaca estetis teks prosa

Setelah membaca cerpen berjudul “Penggali Sumur yang Ingin Pensiun”, jawab pertanyaan berikut:

1) Bagaimana pemahaman atau persepsi kalian terhadap peristiwa yang terdapat pada dua paragraf terakhir?

2) Apakah kalian merasakan suatu nuansa khusus dalam batin, ketika cerpen ini kalian baca secara menyeluruh? Jika ya, kemukakanlah perasaan tersebut dalam bentuk interpretasi pribadi tentang amanat cerpen ini.