#navbar-iframe-container, #navbar-iframe, .navbar { display: none !important; height: 0 !important; visibility: hidden !important; }

My Songs

Mars SMANSAKA (Orchestra Version)
HUT SMANSAKA
Welcome to SMANSAKA

12 Januari 2025

RESENSI

Pengertian Resensi

Resensi adalah tulisan yang berisi penilaian suatu karya, seperti film, buku, drama, lagu, hingga karya sastra dan seni lainnya, baik dari segi isi maupun unsur kebahasaannya.

Dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa  Indonesia), resensi artinya pertimbangan atau pembicaraan tentang buku atau disebut dengan ulasan buku.

 

Manfaat Resensi

Manfaat utama resensi, yaitu memberi gambaran singkat kepada pembaca mengenai karya yang dibaca. Kalau dilihat dari subjek penggunaannya, resensi memiliki empat manfaat.

Bagi penulis buku, resensi dibutuhkan sebagai sarana mendapatkan feedback atau umpan balik agar ia dapat membuat karya yang lebih berkualitas. Selain mendapatkan kemudahan dalam mengevaluasi karyanya yang sudah terbit, resensi juga memudahkan penulis mengetahui antusiasme dan tanggapan masyarakat terhadap buku yang dibuatnya.

Bagi penerbit, resensi dapat menjadi bahan pertimbangan untuk menindaklanjuti kerjasama dengan penulis atau pengarang. Apakah mau lanjut atau cukup sampai di sini? Nah, salah satu cara penerbit menilai karya penulis, yaitu dengan membaca resensi buku yang dibuat oleh peresensi.

Setelah penulis dan penerbit, media massa juga membutuhkan resensi dalam proses produksi buku. Hal ini karena media massa berperan sebagai media untuk memperkenalkan buku kepada publik atau yang biasa dikenal dengan promosi. Melalui resensi buku tentu saja  membantu media massa untuk mengetahui kualitas dari buku yang akan/sedang dipromosikan.

Bagi pembaca khusus, resensi dapat dijadikan media dalam menguji atau mengembangkan suatu topik bagi para penulis novel,  cerpen,  naskah, atau bahkan peneliti. Sementara itu, bagi pembaca umum, resensi menjadi  sumber informasi untuk mengetahui kualitas sebuah buku atau karya. Dengan mengetahui informasi tersebut, pembaca bisa mengetahui kelayakan karya yang diresensi tersebut.

 

Langkah-Langkah Menyusun Resensi

1. Mengenali latar belakang penulisan buku

Hal pertama yang perlu dilakukan adalah membaca bagian pengantar yang ditulis oleh penulis buku, penerbit, atau seorang pakar yang terdapat di bagian awal buku.

Dengan begitu, penulis resensi dapat memiliki pengetahuan lebih dalam mengenai buku yang akan diresensi dari kacamata penulis buku, penerbit atau pakar sehingga dapat membantu menyampaikan pesan buku kepada pembaca dengan baik.

 

2. Membaca isi buku

Pada tahap ini kamu membaca isi buku dari awal hingga akhir untuk mendapatkan intisari dari buku tersebut. Kamu dapat membaca menggunakan teknik scanning atau membaca semua, bisa juga menggunakan teknik membaca cepat atau skimming sehingga kamu tidak perlu menghabiskan waktu untuk membacanya.  Setelah itu catat dan susun bagian penting yang akan disampaikan dalam resensi.

 

3. Membuat ringkasan atau sinopsis buku

Membuat ringkasan dari bagian penting yang sudah kamu susun tadi menjadi sebuah sinopsis. Susunan sinopsis ini kemudian nantinya dikembangkan sehingga semua aspek buku diulas secara detail namun tetap singkat.  Nah, dengan ini pembaca resensi dapat mengetahui gambaran cerita dari buku yang akan dibacanya.

 

4. Melakukan penilaian buku

Cara melakukan penilaian buku adalah dengan melihat keunggulan dan kelemahan buku. Bagian yang ditulis lebih dulu merupakan keunggulan, kemudian diikuti oleh kelemahan buku.

 

5. Menulis sasaran pembaca buku

Sasaran pembaca adalah orang-orang yang menjadi sasaran dari tujuan dibuatnya buku yang ditulis. Hal ini penting untuk menginformasikan kalangan yang cocok membaca buku dalam sebuah resensi. Tujuannya untuk memperluas jangkauan si penulis agar karya yang ditulis dapat memberikan pengaruh yang baik dan mudah diterima oleh pembaca yang tepat.

 

6. Membuat kerangka resensi

Sebelum menulis resensi, penulis dapat membuat kerangka resensi dengan menampilkan unsur-unsur pada struktur resensi. Kerangka resensi perlu dibuat agar peresensi memiliki arahan dalam menyelesaikan resensi.

 

Jenis-Jenis Resensi

Dalam mengulas karya sastra, kita bisa mengambil beberapa sudut pandang. Bisa lebih mengkritisi, mengevaluasi, atau hanya memberikan informasi secara umum aja. Nah, inilah yang membuat resensi itu ada banyak macamnya. Berikut penjelasan tentang jenis-jenis resensi:

1. Resensi Deskriptif

Resensi deskriptif akan memberikan penjelasan atau deskripsi mengenai karya yang sedang ditinjau. Bisa penjelasan mengenai cover-nya, ukurannya, fitur-fiturnya, dan lain sebagainya. Jenis resensi deskriptif tidak mencantumkan penilaian apapun terhadap karya yang ditinjau.

 

2. Resensi Informatif

Resensi informatif akan memberikan informasi secara rinci mengenai karya yang ditinjau, serta memberikan evaluasi singkat. Tujuannya, agar pembaca dapat mengetahui gambaran menyeluruh terhadap karya tersebut, meliputi kelebihan dan kekurangannya.

 

3. Resensi Evaluatif

Resensi evaluatif akan memberikan evaluasi atau penilaian yang lebih mendalam mengenai karya yang ditinjau. Ciri khas dari resensi evaluatif, penulis akan memberikan rating/skor/peringkat dengan skala angka. Hal ini bertujuan untuk membantu pembaca melihat kualitas dan nilai dari suatu karya.

 

4. Resensi Kritis

Terakhir ada resensi kritis. Maksudnya, jenis resensi ini akan memberikan penilaian secara kritis terhadap karya yang ditinjau. Resensi kritis cenderung mendorong pembaca untuk mempertimbangkan kembali asumsi atau pandangan mereka terhadap karya tersebut. Resensi kritis biasanya dibuat untuk menilai karya yang terkesan kontroversial.

 

Contoh Resensi

SEJARAH YANG HILANG DALAM LAUT BERCERITA

Identitas Buku

Judul Buku                         : Laut Bercerita

Penulis Buku                      : Leila S. Chudori

Penerbit                              : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)

Tahun Terbit                       : 2017

Jumlah Halaman                 : 379

Harga Buku                         : Rp100.000

ISBN                                   : 978-602-424-694-5

 

Pendahuluan

Dalam buku ini, Leila S. Chudori mengundang kita untuk menyelami kasus penghilangan orang secara paksa. Buku ini terdiri atas dua bagian. Bagian pertama mengambil sudut pandang seorang mahasiswa aktivis bernama Laut, menceritakan bagaimana Laut dan kawan-kawannya menyusun rencana, berpindah-pindah dalam pelarian, hingga tertangkap oleh pasukan rahasia. Sedangkan bagian kedua dikisahkan oleh Asmara, adik Laut. Bagian kedua mewakili perasaan keluarga korban penghilangan paksa, bagaimana pencarian mereka terhadap kerabat mereka yang tak pernah kembali. Berusaha mencari secercah harapan tentang saudara; jika masih hidup, dia disekap dimana. Pun jika sudah mati, dimana mereka menguburkannya. Juga tentang perasaan para korban selamat, bagaimana terpenjara nya mereka atas kejadian tersebut.

Penulis fiksi historis tersebut mampu membuat tema kelam dalam novel ini menyenangkan dibaca. Drama dan tragedi yang kental dan bernada nostalgik memberi perasaan pilu dan melankolis bagi pembaca. Pembawaan yang mengambil dua sudut pandang berbeda membuat kita dapat berempati dan memahami posisi berbagai pihak yang terlibat dalam kasus-kasus penghilangan orang secara paksa. Demi membentuk akurasi pendalaman emosi yang baik bagi pembaca saat membaca buku ini, penulis sendiri mewawancara langsung korban dan kerabat yang terlibat tragedi penculikan aktivis tahun 1998. Bahkan buku ini ditulis sebagai bentuk tribute bagi para aktivis yang diculik, yang kembali, dan yang tak kembali; dan keluarga yang terus menerus sampai sekarang mencari jawab.

 

Isi cerita

“Matilah engkau mati. Kau akan lahir berkali-kali…”

Begitulah dua larik puisi yang menyambut kita di lembar pertama. Biru Laut Wibisono mulai bercerita kepada kita bagaimana ia menemui kematian setelah tiga bulan disekap.

“Bapak, Ibu, Asmara, Anjani, dan kawan-kawan… dengarkan ceritaku…”

Ia memulai kisah di tahun 1991 pada sebuah tempat bernama Seyegan, Yogyakarta. Seyegan tak lain merupakan markas Wirasena (organisasi mahasiswa) untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang menurut pemerintah adalah sebuah aktivitas terlarang. Terkisahlah kehidupan persahabatan antara Laut, Alex, Sunu, Daniel, Kinan, Julius, Dana, dan Gusti, serta aktivis-aktivis lainnya. Pada bab Seyegan, Laut bercerita tentang ketertarikan untuk meruntuhkan ketidakadilan yang dilakukan rezim pemerintahan saat itu. Terkadang ia berkisah bagaimana indahnya keluarga dan rindunya pada Asmara (adik semata wayang) dan Anjani (kekasih) tiba-tiba hadir bersama aroma tengkleng buatan Ibu dalam imajinasinya.

Peristiwa Blangguan, demi membela petani-petani jagung yang lahannya akan dirampas pemerintah, menjebloskan Laut ke dalam penjara. Ia dipukuli habis-habisan, diinjak dengan sesuatu bergerigi, dan disetrum. Setelah mereka tak mendapat jawaban, Laut dan kawan-kawannya dibuang begitu saja di Bungurasih.

“Di kampus kita hanya belajar disiplin berpikir, tetapi pengalaman yang memberi daya dalam hidup adalah di lapangan.” –Bram

Seringnya aktivitas-aktivitas mereka bocor kepada intel, seperti peristiwa Blangguan, demo di Surabaya, aktivitas di Klender dan acara seminar untuk membahas unjuk rasa yang gagal, membuat Laut dan kawan-kawannya mencurigai Naratama sebagai agen ganda. Hingga pada sepertiga ujung cerita, terkuaklah siapa sebenarnya agen ganda tersebut. Laut pun bercerita bagaimana sakitnya ia dikhianati dari orang yang tak pernah terduga sebelumnya.

“Kita harus belajar kecewa bahwa orang yang kita percaya ternyata memegang pisau dan menusuk punggung kita. Kita tak bisa berharap semua orang akan selalu loyal pada perjuangan dan persahabatan.” –Bram

Bulan Maret 1998 giliran mereka (para aktivis Wirasena) diculik, disiksa, dan diinterogasi dengan tidak manusiawi. Laut, Sunu, Kinan, Bram, Sang Penyair, dan beberapa kawan hilang tanpa jejak setelah disekap. Merek, yaitu Alex, Daniel, Naratama, Coki, Hamdan, dan lima orang lainnya dikembalikan masih dalam keadaan hidup. Hingga saat rezim itu runtuh di Mei 1998, mereka mulai mampu bersuara atas kekejaman yang mereka terima.

“Setiap langkahmu, langkah kita, apakah terlihat atau tidak, apakah terasa atau tidak, adalah sebuah kontribusi, Laut. Mungkin saja kita keluar dari rezim ini 10 tahun lagi atau 20 tahun lagi, tapi apapun yang kamu alami di Blangguan dan Bungurasih adalah sebuah langkah. Sebuah baris dari puisimu, sebuah kalimat pertama dari cerita pendekmu.” –Kinan

Cerita kemudian berlanjut dari sudut pandang Asmara Jati, adik dari Biru Laut dan kekasih Alex. Sebagai keluarga yang ditinggalkan sang kakak secara misterius, mereka sangat kehilangan. Kisah Asmara pun dimulai tahun 2000-an. Bersama keluarga aktivis-aktivis lainnya, Asmara bergabung dengan Aswin dan mencoba mencari keadilan pada pemerintah yang dirasa lebih peduli. Duka kehilangan membuat banyak keluarga hidup dalam penyangkalan. Mereka hidup dalam imajinasi dimana keluarga mereka yang hilang masih tetap ada dalam keseharian. Ayah mereka masih tetap menyiapkan empat piring dalam ritual makan malam bersama di hari Minggu. Memutar lagu yang menandai kehadiran Laut, membersihkan buku-buku dan kamar milik Laut, seolah-olah Laut akan datang secara tiba-tiba kelak.

 

Keunggulan Buku

Sebagai orang awam yang hanya mempelajari HAM lewat buku cetak PPKn di sekolah, dari buku inilah mendapat perspektif baru. Bagaimana banyaknya orang yang hilang itu bukan sekedar angka, tetapi pembuktian bahwa kasus mereka belum tuntas. Setiap kata yang tertulis di surat demi surat membuat para pembaca dapat merasakan emosi dari si pengirim surat. Bahasa yang digunakan di novel ini mudah dipahami dalam mengulas sejarah Indonesia yang tidak tercatat di buku sekolah.

 

Kekurangan Buku

Isi novel ini masih memiliki ejaan yang salah seperti “menganalisa” yang seharusnya “menganalisis”, kata “praktek” yang seharusnya “praktik”. Juga ada beberapa kata yang salah ketik. Serta penggunaan bahasa Jawa dalam dialog yang kurang dimengerti beberapa pembaca luar Jawa.

 

Penutup

Menurut saya, ketika membaca novel ini ada perasaan kalut dan sedih bercampur marah. Tokoh-tokohnya memang fiktif, tetapi ada hal yang menginspirasi terciptanya buku ini. Reformasi 1998 itu nyata, penculikan aktivis itu benar-benar terjadi, dan peristiwa 1965 itu masih menghantui. Membaca novel “Laut Bercerita” terasa seperti sedang membaca sejarah yang hilang. Yang diceritakan dari sisi lain, sisi yang kelam.

Novel ini cocok dibaca bagi para mahasiswa, organisasi-organisasi kampus, para politikus, atau para orang-orang yang bercerita tentang kebebasan. Pembaca akan terus terseret dalam permainan emosi karakter-karakternya hingga akhir cerita. Kisah dalam buku ini merupakan sepenggal dari kisah kita bersama, menjadi bagian yang tak pernah terjelaskan dan tak akan terlupakan.

MAJAS

Pengertian Majas

Majas adalah salah satu bentuk gaya bahasa untuk mendapatkan suasana dalam sebuah kalimat agar semakin hidup. Mudahnya, bisa kita pahami bahwa majas itu menjadi ungkapan yang dapat menghidupkan suatu kalimat. Majas melakukan penyimpangan dari makna dari suatu kata yang biasa digunakan.

Contohnya seperti di awal artikel tadi, “tangan kanan”. Tangan kanan jika dilihat dari makna sebenarnya ialah anggota tubuh manusia. Namun, dalam kalimat “Dia termasuk tangan kanan Pak Budi”, maka makna anggota tubuh pun hilang. Makna “tangan kanan” berubah menjadi orang kepercayaan.

 

Jenis-Jenis Majas

Jenis majas yang ada dalam Bahasa Indonesia ada sangat banyak sekali. Tapi, di artikel ini kita akan bahas beberapa saja ya yang sering muncul di pelajaran. Secara umum, kita akan membahas macam-macam majas, di antaranya majas perbandingan, majas sindiran, majas penegasan, dan majas pertentangan.

1. Majas Perbandingan

Majas perbandingan ini cukup banyak muncul di pelajaran sekolah, lho. Majas perbandingan adalah majas yang membandingkan atau menyandingkan antara satu objek dengan objek lainnya. Ada pun majas yang termasuk ke dalam majas perbandingan, antara lain alegori, personifikasi, metafora, metonimia, asosiasi, hiperbola, simile, antonomasia, pars pro toto, totem pro parte, dan eufimisme.

2. Majas Sindiran

Majas sindiran adalah majas yang ditujukan untuk menyatakan sesuatu dengan maksud menyindir. Untuk jenis majas sindiran yang paling sering muncul di buku sekolah, seperti majas ironi, sarkasme, sinisme, satire, inuendo.

3. Majas Penegasan

Majas penegasan adalah majas yang digunakan untuk menyatakan suatu hal secara tegas. Nah, kalau untuk majas penegasan, di artikel ini nanti akan diberikan contoh dari pleonasme, repetisi, retorika, aliterasi, metonomia, simbolik, paralelisme, tautologi, dan kiasmus.

4. Majas Pertentangan

Selanjutnya, majas pertentangan adalah majas yang digunakan untuk mengekspresikan suatu hal dengan cara mempertentangkan dengan hal yang lainnya. Nah, majas pertentangan ini dibagi menjadi majas litotes, antitesis, paradoks, anakronisme, sinekdoke, oksimoron, dan kontradiksi interminus.

 

Contoh Majas

Contoh Majas Perbandingan

1. Majas Alegori

Majas alegori adalah majas yang menyatakan dengan ungkapan kiasan atau penggambaran.

Contoh:

Hidup itu seperti roda berputar, kadang di atas, kadang pula di bawah.


2. Majas Personifikasi

Majas personifikasi adalah majas yang membandingkan antara manusia dengan benda mati, seolah-olah benda tersebut memiliki sifat layaknya manusia.

Contoh:

Deburan ombak memecah karang.


3. Majas Metafora

Majas metafora ini merupakan majas yang memakai analogi atau perumpamaan terhadap dua hal yang berbeda.

Contoh:

Anak itu dikenal sebagai kutu buku di kelasnya.


4. Majas Metonimia

Majas metonomia ini menyatakan suatu hal dengan memakai kata lain yang punya keterkaitan (misalnya sebuah merek dagang).

Contoh:

Jamaah haji Indonesia pergi ke Makkah menggunakan Garuda.


5. Majas Asosiasi

Majas asosiasi digunakan untuk membandingkan perasaan atau emosi dengan suatu objek, simbol, atau situasi yang berbeda.

Contoh:

Suara hujan mengingatkanku pada kesegaran dan ketenangan.


6. Majas Hiperbola

Majas hiperbola adalah majas yang menggunakan ungkapan yang berlebihan dan tidak masuk akal.

Contoh:

Dentuman itu menggelegar membelah angkasa.


7. Majas Simile

Majas simile adalah majas yang digunakan untuk membandingkan dua hal yang berbeda, menggunakan kata ‘seperti’ atau ‘sebagai’.

Contoh:

Kulitnya putih seperti salju.


8. Majas Antonomasia

Majas antonomasia biasanya menggunakan nama atau gelar yang mewakili orang atau sesuatu yang lebih spesifik, untuk menyampaikan ide atau perasaan secara implisit.

Contoh:

“Bapak Proklamator” mengacu pada Soekarno sebagai proklamator kemerdekaan Indonesia.


9. Majas Pars Pro Toto

Majas pars pro toto adalah majas yang menggunakan sebagian unsur/objek untuk menunjukkan keseluruhan objek.

Contoh:

Dari tadi pagi, ia tak menampakkan batang hidungnya.


10. Majas Totem Pro Parte

Majas totem pro parte adalah majas yang mengungkapkan keseluruhan objek padahal hanya sebagian objek saja.

Contoh:

Indonesia mengalahkan Malaysia dalam pertandingan sepakbola tadi malam.


11. Majas Eufimisme

Majas eufinisme adalah majas yang menggunakan ungkapan lebih halus terhadap ungkapan yang dirasa kasar atau merugikan.

Contoh:

Saat ini sedang dibahas penyesuaian tarif tol.

 

Contoh Majas Sindiran

1. Majas Ironi

Majas sindiran ini digunakan dengan cara menyembunyikan fakta dan mengatakan hal yang sebaliknya.

Contoh:

Suaranya sangat merdu sekali seperti kaset kusut.


2. Majas Sarkasme

Majas sarkasme ini bisa dikatakan sebagai majas sindiran yang kasar.

Contoh:

Putih benar wajah kamu, sampai bisa aku sendoki bedaknya.


3. Majas Sinisme

Majas sinisme ini lebih bersifat mencemooh atas ide atau pemikiran.

Contoh:

Kamu sudah pintar ‘kan? Kenapa masih bertanya kepada aku.


4. Majas Satire

Majas satire adalah gaya bahasa yang mengandung penolakan, kritik, atau sindiran terhadap suatu gagasan, kebiasaan, atau ideologi. Namun, penyampaiannya dibalut dengan komedi atau sebagai bahan candaan.

Contoh:

Ya Tuhan, soal semudah ini saja kamu tidak bisa menyelesaikannya?


5. Majas Innuendo

Majas innuendo digunakan untuk menyindir seseorang dengan cara mengecilkan fakta yang ada.

Contoh:

Tak perlu takut, disuntik rasanya hanya seperti digigit semut kecil.

 

Contoh Majas Penegasan

1. Majas Pleonasme

Majas pleonasme adalah majas yang menambahkan keterangan pada kalimat yang sudah jelas (sebenarnya tidak diperlukan).

Contoh:

Dia sudah turun ke bawah.


2. Majas Repetisi

Majas repetisi ini merupakan majas pengulangan kata, frasa, atau klausa untuk mempertegas maksudnya.

Contoh:

Awas, tunggu kedatanganku besok! Tunggu!


3. Majas Retorika

Majas retorika ini berbentuk kalimat tanya, namun tidak memerlukan jawaban. Tujuan kalimat tanya tersebut sebagai penegasan akan suatu hal.

Contoh:

Siapa yang tidak ingin terlahir kaya raya.


4. Majas Aliterasi

Majas aliterasi adalah majas yang menggunakan pengulangan huruf konsonan pada awal kata.

Contoh:

Beli baju biru bersama Budi.


5. Majas Metonomia

Majas metonomia adalah majas yang menggunakan kata atau frasa untuk mewakili suatu objek. Kata yang digunakan biasanya masih terkait dengan objek tersebut.

Contoh:

Yonas dikenal sebagai anak kutu buku di sekolahnya.


6. Majas Simbolik

Majas simbolik adalah majas yang menggunakan simbol atau lambang untuk mengekspresikan suatu ide atau perasaan.

Contoh:

Mawar merah simbol dari cinta yang romantis.


7. Majas Paralelisme

Majas paralelisme adalah majas penegasan yang menggunakan pengulangan kata. Pengulangan ini memiliki struktur, ritme, atau gaya yang sama untuk menekankan ide atau perasaan.

Contoh:

Siang hari adalah untuk bekerja, malam hari adalah untuk beristirahat.


8. Majas Tautologi

Majas tautologi adalah gaya bahasa berupa pengulangan gagasan, pernyataan, atau kata-kata secara berlebihan dan tidak perlu. Majas tautologi merupakan contoh dari redundansi bahasa.

Contoh:

Saya percaya, yakin, dan mengimani kalau Tuhan selalu bersama kita.


9. Majas Kiasmus

Majas kiasmus merupakan gaya bahasa yang berisi pengulangan, sekaligus kebalikan (invers) dari susunan antar kata dalam satu kalimat.

Contoh:

Sering ditemukan dalam keseharian kita, orang pandai merasa dirinya bodoh, namun orang bodoh merasa dirinya pandai.

 

Contoh Majas Pertentangan

1. Majas Litotes

Majas litotes merupakan majas yang menggunakan ungkapan penurunan kualitas untuk merendahkan diri.

Contoh:

Silakan datang ke gubukku yang kumuh.


2. Majas Antitesis

Majas antitesis adalah majas yang menggunakan dua kata berlawanan untuk mengungkapkan suatu pertentangan.

Contoh:

Dia adalah cahaya dalam kegelapan, juga bayangan dalam cahaya.


3. Majas Paradoks

Majas paradoks adalah majas yang mengandung pertentangan antara kenyataan dengan fakta yang ada, tapi pada kenyataannya mengandung kebenaran.

Contoh:

Daerah ini tandus, tetapi penduduknya makmur.


4. Majas Anakronisme

Majas anakronisme adalah majas yang mengandung ketidaksesuaian antara suatu peristiwa dengan waktu seharusnya.

Contoh:

Di zaman sekarang, bayi baru lahir sudah bisa mencari uang.


5. Majas Sinekdoke

Majas sinekdoke adalah gaya bahasa yang menyebutkan sebagian untuk seluruh bagian, atau sebaliknya.

Contoh:

Semua mata tertuju padaku, membuatku gugup selama pertunjukan.


6. Majas Oksimoron

Majas oksimoron adalah gaya bahasa yang mengandung kata-kata berlawanan dalam satu kalimat.

Contoh:

Kini, di hatiku bercampur baur antara perasaan cinta dan benci.


7. Majas Kontradiksi Interminus

Majas kontradiksi interminus adalah gaya bahasa yang mengandung sangkalan dari pernyataan yang sudah dijelaskan sebelumnya.

Contoh:

Semua peserta lomba sudah siap, kecuali perempuan itu.

7 Januari 2025

SYAIR

Syair merupakan puisi lama yang terkenal sebagai media untuk menyampaikan pikiran, emosi, perasaan, dan berbagai peristiwa. Syair juga bisa menjadi cara yang efektif untuk memberi nasihat, menyampaikan nilai agama, dan mengungkapkan rasa cinta.

Pengertian Syair
Syair adalah puisi lama yang digunakan untuk menuliskan hal-hal yang panjang. Misalnya, cerita, nasihat, agama, dan sebagainya. Oleh karena itu, kamu mungkin pernah membaca syair dengan bait yang banyak.

Syair masuk ke Indonesia saat penyebaran agama Islam. Ciri utama syair adalah menggunakan bahasa Melayu kuno. Meskipun awalnya syair mengacu pada tradisi sastra Arab, syair terus mengalami evolusi dan modifikasi sehingga menciptakan identitas khas Melayu.

Fungsi Syair
Syair dimanfaatkan sebagai hiburan di berbagai acara sosial seperti pernikahan atau acara lainnya. Syair juga dinyanyikan untuk mengiringi tarian tertentu. Melalui keindahan lirik dan suara, syair dapat menyentuh hati pendengar dan meninggalkan kesan yang dalam. Syair digunakan untuk mengajarkan nilai-nilai melalui cerita. Syair berperan dalam acara-acara seni dan budaya masyarakat. 

Ciri-Ciri Syair
Berikut adalah ciri-ciri syair: 

1. Terdiri dari Empat Baris
Satu bait syair terdiri dari empat baris. Syair bisa terdiri dari beberapa bait, sesuai keinginan penyair. Tapi, setiap baitnya hanya terdiri dari empat baris. Berikut contohnya: 

Ke sekolah luruskan niatmu (baris 1)
Tekadkan hati mencari ilmu (baris 2)
Tak ada rugi belajar tiap waktu (baris 3)
Supaya baik masa depanmu (baris 4)

2. Tiap Baris Terdiri dari Empat Sampai Enam Kata
Ciri syair yang kedua adalah, di setiap barisnya terdiri dari empat sampai enam kata. 
Contoh syair: 

Kita saja yang masih kurang (5 kata)
Belajar juga masih jarang (4 kata)
Masih suka berbuat curang (4 kata)
Jangan salahkan siapa-siapa kalau jadi terbelakang (6 kata)

3. Tiap Baris Terdiri dari 8 – 12 Suku Kata
Suku kata adalah jumlah gabungan satu atau lebih huruf konsonan dan satu huruf vokal. Nah, setiap baris syair biasanya terdiri dari delapan sampai dua belas suku kata. Berikut contohnya: 

Se/ko/lah a/da/lah tem/pat ber/te/mu (11 suku kata)
de/ngan se/ga/la je/nis il/mu (9 suku kata) 
men/ja/di le/bih ba/ik se/la/lu (10 suku kata)
ber/te/mu te/man ti/dak je/mu (9 suku kata)

4. Semua Baris adalah Isi
Berbeda dengan pantun yang terdiri dari dua sampiran dan dua isi, semua baris dalam syair adalah isi. Setiap baris pada syair biasanya memiliki pesan atau cerita. Berikut contoh syair tentang lingkungan: 

Alam kini telah hampir mati
Waktu juga tak lagi peduli
Hati manusia makin keras layaknya besi
Berdiri angkuh di atas bumi

Saat pagi menjelang
Tak heran kicau burung menghilang
Langit juga tak tampak tenang
Namun nafsu manusia terus menjulang

Alam sudah tak seimbang
Penghuni di dalam juga jadi malang
Tapi kesadaran tak kunjung datang
Hingga bumi mau tak mau mengerang 

5. Berakhiran Rima a-a-a-a
Syair memiliki rima akhiran rima a-a-a-a. Berikut adalah contoh syair dengan akhiran rima yang sama:

Sahabat sejati akan abadi
Tak perlu lagi repot dicari
Andai kita tak bersua lagi
Alangkah hancurnya hati ini

6. Berisi Cerita atau Pesan
Biasanya, syair berisi sebuah cerita sejarah, agama, mitos, atau rekaan. Syair juga dapat berisi petuah atau nasihat baik. 

Jenis-Jenis Syair
Syair terbagi menjadi lima jenis, yaitu syair romantis, syair panji, syair agama, syair kiasan, dan syair sejarah. Berikut penjelasan lengkapnya: 

1. Syair Romantis
Syair romantis adalah syair yang membahas tentang cinta. Biasanya ada pada cerita hikayat, pelipur lara, atau cerita rakyat. Contoh syair romantis adalah Syair Bidasari yang bercerita tentang putri raja yang dibuang dan akhirnya ditemukan oleh putra bangsawan.

2. Syair Panji
Syair panji bercerita tentang kehidupan di dalam istana dan orang-orang yang ada di dalamnya. Pernah dengar kisah Roro Jonggrang dan Bandung Bondowoso? Nah, kisah Roro Jonggrang adalah contoh syair panji. Contoh syair panji lainnya yang terkenal adalah Ken Tambuhan dan Dayang Sumbi. 

3. Syair Sejarah
Sesuai namanya, syair ini bercerita sesuai sejarah yang benar-benar terjadi. Kebanyakan isi syairnya tentang peperangan. Contoh syair sejarah adalah syair Perang Mengkasar, Hikayat Puteri Johar Manikam, dan Saksi Kalimantan Selatan.

4. Syair Kiasan
Syair kiasan mengisahkan percintaan antara bunga, buah, burung, ikan, dan lainnya. Syair ini berisi kiasan atau sindiran terhadap peristiwa tertentu. Contohnya adalah syair Burung Pungguk. 

5. Syair Agama
Terakhir adalah syair agama yang mengandung pesan-pesan agama yang terbagi menjadi 4 jenis yaitu; syair sufi, syair nasihat, syair riwayat cerita nabi, dan syair tentang ajaran islam. 

Unsur-Unsur Syair
Unsur-unsur syair terbagi menjadi dua yaitu intrinsik dan ekstrinsik, berikut penjelasannya: 

1. Unsur Intrinsik 
Tema: ide pokok yang ingin disampaikan penyair kepada pembaca. Tema syair sangat beragam seperti agama, alam, lingkungan, pendidikan, kemanusiaan, dan tema lainnya. 
Perasaan: sesuatu yang ingin penyair ungkapkan, berupa cara pandang, ciri khasnya, karakter, dan lainnya. 
Nada: intonasi atau penekanan dalam isi syair, dapat berupa mengejek, menasehati, bergembira, berbelas kasihan, mengkritik, dsb.  
Amanat: pesan atau nasihat yang ingin penyair sampaikan kepada pembaca. 
 

2. Unsur Ekstrinsik
Unsur ekstrinsik adalah faktor yang berada di luar syair, seperti latar belakang penyair, latar belakang sosial dan budaya, adat atau kebiasaan masyarakat setempat, dan pendidikan penyair.

PUISI LAMA

Puisi lama adalah jenis dari karya sastra puisi yang diciptakan oleh nenek moyang sejak zaman dahulu. Dalam puisi lama biasanya terikat pada baris, bait, rima, irama, dan belum terpengaruh oleh budaya asing.
Maka dari itu, penciptaan puisi lama akan terikat oleh berbagai aturan. Aturan-aturan tersebut adalah:
  1. Terdapat persajakan atau rima. Rima adalah pengulangan bunyi yang terdapat dalam larik sajak.
  2. Jumlah kata dalam 1 baris.
  3. Jumlah baris dalam 1 bait. Bait adalah satu kesatuan puisi yang terdiri atas beberapa baris.
  4. Banyak suku kata dalam setiap barisnya.
  5. Adanya irama (pergantian kesatuan bunyi).
  6. Penciptaan puisi lama biasanya dipengaruhi oleh adanya tradisi keagamaan dan kebudayaan tertentu. Sama halnya dengan karya sastra lain, puisi lama juga memuat pesan-pesan kehidupan yang bermanfaat bagi pembaca atau pendengarnya.
Ciri-Ciri Puisi Lama
  1. Anonim (tidak diketahui siapa pengarangnya)
  2. Disampaikan dari mulut ke mulut (sastra lisan)
  3. Terikat adanya aturan, mulai dari jumlah baris dalam setiap bait, jumlah suku kata, hingga rima
  4. Gaya bahasanya tetap (statis) dan klise
  5. Isinya fantastis dan bertema istana sentris

Jenis Puisi Lama
1. Pantun
Pantun adalah puisi lama yang mempunyai sajak a-b-a-b pada baitnya. Setiap bait terdiri atas 4 baris dengan setiap barisnya terdiri dari 8-12 suku kata. Pada 2 baris awal disebut dengan sampiran, sementara pada 2 baris akhir adalah isi.

Jenis puisi lama tersebar di seluruh wilayah Indonesia, dengan sebutan yang berbeda-beda. Di Jawa, masyarakat menyebutnya dengan parikan. Di Sunda, masyarakat menyebutnya dengan susualan. Sementara di Aceh, masyarakat menyebutnya dengan Rejong.

Pantun dapat dikategorikan berdasarkan isinya, misalnya pantun anak-anak, pantun agama atau pantun nasihat, pantun jenaka, dan pantun muda-mudi. Nah, berikut adalah contoh dari pantun.

Ada pepaya ada mentimun (a)
Ada mangga ada salak (b)
Daripada duduk melamun (a)
Lebih baik membaca sajak (b)

2. Syair
Kata “syair” ini berasal dari bahasa Arab, yakni “Syi’ir” yang berarti “perasaan yang menyadari”, kemudian berkembang menjadi “Syi’ru” yang berarti “puisi dalam pengetahuan umum”.

Jenis puisi lama ini berasal dari Persia yang kemudian dibawa ke Indonesia bersamaan dengan masuknya agama Islam ke Nusantara. Namun, seiring perkembangan, syair berubah menjadi sastra klasik Melayu, yang saat ini tengah mendekati kepunahan.

Dalam sebuah syair, biasanya menggunakan sajak a-a-a-a dan berisikan mengenai nasihat atau cerita seorang tokoh besar. Syair biasanya diawali dengan beberapa kata yang klise, misalnya “Pada zaman dahulu kala…”, ”Tersebutlah sebuah cerita mengenai negeri yang aman sentosa…”, dan lain-lain.

3. Gurindam
Gurindam adalah jenis puisi lama yang pertama kali dibawa oleh orang Hindu sekaligus mendapat pengaruh dari sastra Hindu, kira-kira pada tahun 100 Masehi. Gurindam adalah salah satu bentuk puisi Melayu lama yang terdiri atas dua baris kalimat dengan irama akhir yang sama (a-a-a-a). Sama halnya dengan jenis puisi lama lainnya, gurindam juga berisikan mengenai nasihat bagi pembaca atau pendengarnya.

Contoh gurindam:

Kurang pikir kurang siasat (a)
Tentu dirimu akan tersesat (a) 

Barang siapa tinggalkan sembahyang (b)
Bagai rumah tiada bertiang (b)

Jika suami tidak berhati lurus (c)
Istri pun kelak akan kurus (c)

4. Karmina
Karmina dapat disebut juga sebagai pantun kilat karena kurang lebih sama dengan pantun, tetapi lebih pendek. Karmina hanya mempunyai dua baris saja dan bersajak a-a. Baris pertama disebut dengan sampiran, dan baris kedua disebut dengan isi. Sebuah karmina memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

Bersajak a-a, a-b
Mengisahkan seorang pahlawan (epik)
Mengandung dua hal yang bertentangan, yaitu rayuan dan perintah.

Contoh karmina:

Sebab pulut santan binasa
Sebab mulut badan binasa

5. Talibun
Talibun merupakan pantun yang dalam setiap baitnya, terdiri atas jumlah baris yang genap, misalnya 6,8, atau 10 baris. Dalam sebuah talibun, terdapat ciri-ciri sebagai berikut:
  1. Jumlah baris harus lebih dari 4 baris dan genap, misalnya 6, 8, atau 10 baris dalam setiap bait.
  2. Jika satu bait terdiri atas 6 baris, maka tiga baris awal adalah sampiran dan tiga baris akhir adalah isi.
  3. Apabila satu bait terdiri atas 6 baris, maka sajaknya adalah a-b-c-a-b-c
  4. Apabila satu bait terdiri atas 8 baris, maka sajaknya adalah a-b-c-d-a-b-c-d

Contoh talibun:

Kalau anak pergi ke pekan (a)
Yu beli belanak pun beli sampiran (b)
Ikan panjang beli dahulu (c)

Kalau anak pergi berjalan (a)
Ibu cari sanak pun cari isi (b)
Induk semang cari dahulu (c)

6. Seloka
Seloka adalah salah satu jenis puisi lama yang hampir sama dengan pantun dan disebut juga dengan pantun berkait. Pada baitnya akan terdapat keterkaitan. Misalnya pada baris kedua bait pertama menjadi baris pertama bait kedua dan baris keempat bait pertama menjadi baris ketiga bait kedua. Meskipun begitu, akhiran bunyi atau rima haruslah sama.

Contoh seloka:

Lurus jalan ke Payakumbuh
Kayu jati bertimbal jalan
Di mana hati tak akan rusuh
Ibu mati bapak berjalan

Kayu jati bertimbal jalan
Turun angin patahlah dahan
Ibu mati bapak berjalan
Kemana untuk diserahkan

7. Mantra
Mantra adalah salah satu karya sastra Melayu yang isinya dianggap memiliki kekuatan gaib. Kekuatan gaib ini disebut-sebut dapat menyembuhkan penyakit atau mendatangkan celaka bagi seseorang. Maka dari itu, untuk masyarakat Melayu, keberadaan mantra ini tidak hanya sekadar karya sastra saja tetapi juga berkaitan dengan adat kepercayaan.

Mantra dapat juga disebut sebagai doa sakral yang mengandung kekuatan gaib dan dimanfaatkan sebagai sarana untuk mempermudah dalam meraih sesuatu dengan jalan pintas. Meskipun begitu, mantra sejatinya adalah karya sastra lisan yang diciptakan oleh nenek moyang dan telah menjadi budaya Nusantara.

Sebuah mantra umumnya memiliki ciri-ciri sebagai berikut,
  1. Mempunyai rima a-b-c-a-b-c, a-b-c-d-a-b-c-d, a-b-c-d-e a-b-c-d-e
  2. Bersifat lisan
  3. Diyakini memiliki kekuatan sakti atau magis
  4. Terdapat perulangan
  5. Memiliki majas metafora
  6. Bersifat esoferik (bahasa khusus antara pembicara dengan lawan bicara)
  7. Misterius
  8. Lebih bebas dibandingkan puisi lama lainnya dalam suku kata, baris, dan sajak
Contoh mantra:

Assalamualaikum putri satulung bersar
Yang beralun berilir simayang
Mari kecil, kemari
Aku menyanggul rambutmu
Aku membawa sadap gading
Akan membasuh mukamu

Kaidah Kebahasaan dalam Puisi Lama
Dalam kaidah kebahasaan yang terdapat pada puisi lama umumnya adalah mengandung majas atau bahasa kiasan. Penggunaan majas ini diyakini dapat membuat baris dan bait dalam puisi lama menjadi lebih “hidup” dan merangsang pembaca.  Jenis bahasa kiasan yang digunakan ada berbagai macam, yakni
  1. Metafora
  2. Alegori
  3. Perumpamaan
  4. Personifikasi
  5. Sinekdok
  6. Metonimia
  7. Perumpamaan epos
  8. Simile

Selain itu, dalam puisi lama sering menggunakan pilihan kata yang menciptakan efek estetis atau keindahan. Maka dari itu, pilihan kata dan rangkaian kata yang bergaya menjadi unsur penting dalam penciptaan sebuah puisi lama.