#navbar-iframe-container, #navbar-iframe, .navbar { display: none !important; height: 0 !important; visibility: hidden !important; }

My Songs

Mars SMANSAKA (Orchestra Version) :

Dirgahayu Indonesia :

HUT SMANSAKA :

Welcome to SMANSAKA :

SMANSAKA Juara Lagi :

Ekskul Musik Anthem :

7 September 2025

Teks Laporan Hasil Observasi (LHO)



1. Pengertian

Teks Laporan Hasil Observasi (LHO) adalah teks yang berisi hasil pengamatan terhadap suatu objek, peristiwa, atau fenomena. LHO disusun secara sistematis, objektif, dan faktual untuk memberikan informasi kepada pembaca.

2. Tujuan LHO

  • Menyampaikan informasi faktual tentang objek/fenomena.

  • Memberikan pengetahuan kepada pembaca.

  • Menjadi dasar pengambilan keputusan atau tindakan.

3. Ciri-Ciri

  • Bersifat objektif, berdasarkan fakta.

  • Ditulis dengan bahasa baku dan jelas.

  • Disusun secara sistematis (umum ke khusus).

  • Tidak mengandung pendapat pribadi.

4. Struktur Teks LHO

  1. Pernyataan Umum → berisi definisi, klasifikasi, atau gambaran umum tentang objek.

  2. Deskripsi Bagian → berisi uraian detail mengenai ciri, bagian, fungsi, atau perilaku objek.

  3. Deskripsi Manfaat / Simpulan → memuat manfaat, kegunaan, atau kesimpulan dari objek yang diamati.

5. Kaidah Kebahasaan

  • Menggunakan kata benda umum (misal: burung, sampah, siswa).

  • Menggunakan kata kerja aktif (misal: hidup, berkembang, tumbuh).

  • Menggunakan istilah teknis sesuai bidang (misal: ekosistem, fotosintesis).

  • Menggunakan konjungsi perincian (misal: pertama, selain itu, selanjutnya).

  • Menggunakan kalimat definisi atau deskriptif.

6. Contoh Singkat LHO

Judul: Pohon Mangga
Pohon mangga merupakan tanaman buah tropis yang banyak ditemukan di Indonesia.
Tanaman ini memiliki batang berkayu keras dengan daun berbentuk lonjong. Buah mangga berwarna hijau ketika muda dan berubah menjadi kuning atau merah saat matang. Mangga memiliki rasa manis dan mengandung vitamin C yang tinggi.
Selain sebagai buah konsumsi, pohon mangga juga berfungsi sebagai peneduh di pekarangan rumah.


Teks Anekdot



1.    Pengertian Teks Anekdot

Teks anekdot adalah teks berisi cerita singkat yang lucu, unik, dan sering kali menyindir kebiasaan, peristiwa, atau fenomena sosial. Anekdot biasanya melibatkan tokoh publik, tokoh rekaan, atau peristiwa sehari-hari yang dikemas dengan humor dan kritik.

 

2.    Tujuan Teks Anekdot

a.   Menghibur pembaca/pendengar.

b.   Menyampaikan kritik sosial dengan cara halus dan jenaka.

c.   Memberikan sindiran agar pembaca lebih peka terhadap fenomena kehidupan.

 

3.    Ciri-Ciri Teks Anekdot

a.   Mengandung humor atau kejenakaan.

b.   Bersifat menyindir atau mengkritik.

c.   Tokoh bisa nyata (figur publik) atau fiktif.

d.   Ceritanya singkat, padat, dan menarik.

e.   Umumnya berhubungan dengan realitas sosial.

 

4.    Struktur Teks Anekdot

a.   Abstraksi → pembuka yang memberi gambaran isi cerita.

b.   Orientasi → latar awal terjadinya cerita.

c.   Krisis → muncul masalah atau kejanggalan.

d.   Reaksi → tanggapan atau cara penyelesaian masalah.

e.   Koda → penutup cerita, biasanya berupa sindiran atau kesimpulan.

 

5.    Kaidah Kebahasaan Teks Anekdot

a.   Kalimat langsung: “Kok bisa begitu?” tanya ibu.

b.   Kalimat retoris (pertanyaan tidak perlu jawaban): Masa sih negara sebesar ini tidak punya solusi?

c.   Kata kerja aksi: berkata, menjawab, menimpali.

d.   Kata keterangan waktu/latar: kemarin, di sekolah, di kantor.

e.   Bahasa persuasif dan sindiran: menyinggung dengan halus, sering dalam bentuk humor.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

6.    Contoh Teks Anekdot

Judul: Polisi Tidur

 

Suatu malam, seorang pengendara motor menabrak polisi tidur. Dengan marah, ia turun dari motor dan berkata, “Siapa sih yang tega-teganya bikin polisi kerja malam-malam di jalan begini?”

Orang-orang yang melihat tertawa.

Ternyata yang ditabrak hanyalah gundukan aspal yang memang dibuat sebagai pembatas jalan.

Pesan: Kadang kita mudah marah tanpa memahami kenyataan yang sebenarnya.

 

7.    Latihan Soal

a.   Apa tujuan utama teks anekdot?

b.   Sebutkan struktur teks anekdot!

c.   Apa yang dimaksud dengan krisis dalam teks anekdot?

d.   Mengapa teks anekdot sering digunakan untuk menyampaikan kritik sosial?

e.   Buatlah teks anekdot sederhana bertema “Sekolah”.

10 Februari 2025

PUISI

Pengertian Puisi

  1. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), puisi atau sajak merupakan ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, mantra, rima serta penyusunan larik dan bait. Biasanya puisi berisi ungkapan penulis mengenai emosi, pengalaman maupun kesan yang kemudian dituliskan dengan bahasa yang baik sehingga dapat berima dan enak untuk dibaca.
  2. H.B Jassin, menurut beliau puisi adalah suatu karya sastra yang diucapkan dengan perasaan dan memiliki gagasan atau pikiran serta tanggapan terhadap suatu hal atau kejadian tertentu.
  3. Sumardi, juga berpendapat bahwa puisi adalah sebuah karya sastra dengan menggunakan bahasa yang telah dipadatkan, dipersingkat serta diberi irama bunyi sehingga dan memiliki kata-kata bermakna kiasan atau imajinatif.
  4. James Reeves mengemukakan pula pengertian puisi yaitu ungkapan bahasa yang memiliki kaya serta daya pikat.
  5. Herman Waluyo berpendapat bahwa puisi adalah suatu karya sastra yang mengungkapkan pikiran serta perasaan penyair secara imajinatif dan disusun dengan memfokuskan kekuatan bahasa dalam struktur fisik serta struktur batin.

 

Jenis-Jenis Puisi

Puisi memiliki dua jenis yang umum, yaitu puisi lama serta puisi modern.

1.     1.  Puisi Lama

Jenis-jenis puisi lama berupa pantun, syair, talibun, mantra dan gurindam. Sedangkan jenis-jenis puisi modern berupa puisi naratif, puisi lirik dan puisi deskriptif.

Puisi lama, yaitu mantra merupakan jenis puisi yang dicipatakan dalam kepercayaan animism, biasanya dibacakan dalam acara ritual kebudayaan serta menggunakan kata yang dapat menimbulkan efek bunyi magis.

Pantun merupakan jenis puisi lama yang bersajak a b a b dengan setiap baris terdiri atas empat baris, dua baris sampiran dan dua baris isi. Sedangkan talibun terdiri dari sampiran dan isi lebih dari empat baris dan selalu genap, contohnya dua baris sampir dan dua baris isi.

Syair memiliki larik empat bait dan bersajak a a a a serta isinya mengisahkan suatu hal, dan gurindam merupakan jenis puisi lama yang terdiri atas dua baris, berirama sama, isinya baris pertama adalah sebab sedangkan baris kedua berisi akibat.

 

2.     2. Puisi Modern

Puisi modern biasa disebut puisi bebas, karena tidak terikat oleh rima, jumlah baris dan lain sebagainya.

Jenis puisi modern, yaitu puisi naratif merupakan puisi yang digunakan untuk menyampaikan suatu cerita, dibedakan menjadi tiga yaitu epic, romansa dan balada. Jenis kedua puisi modern adalah puisi lirik yang digunakan untuk mengungkapkan gagasan penyair, jenis terakhir puisi moderen adalah puisi deskriptif, yaitu puisi yang mengemukakan pendapat serta kesan penyair.

  

Ciri-Ciri Puisi Secara Umum

1. Penggunaan diksi umumnya memiliki unsur yang indah dan berupa diksi kiasan

2. Penggunaan diksi lebih memerhatikan rima serta persajakan agar menghasilkan bunyi yang indah

3. Dalam penulisannya menggunakan bait-bait yang di mana didalamnya terdiri dari beberapa baris

4. Pengunkapan alur, tokoh, dan sebagainya tidak begitu diperlihatkan

5. Penggunaan diksi majas cukup banyak.

 

Ciri-Ciri Puisi Lama

1. Gaya bahasa yang digunakan cenderung klise atau statis

2. Umumnya berasal dari sastra lisan yang disampaikan dari individu yang satu ke individu lainnya

3. Penulis puisi cenderung tidak diketahui atau biasa disebut dengan istilah anonim

4. Terpaku pada banyaknya rima, irama, baris, dan intonasi atau bunyi dari puisi itu sendiri

 

Ciri-Ciri Puisi Modern

1. Gaya bahasa yang digunakan memiliki sifat yang dinamis atau bisa dibilang tidak ada acuannya, sehingga berubah-ubah

2. Umumnya, puisi terdiri dari dua sampai empat baris dalam satu bait dan tidak begitu terpaku dengan akhiran pada setiap barisnya

3. Biasanya, isi dari puisi modern tentang keresahan yang ada di dalam diri penulis itu sendiri

4. Dalam satu barisnya cenderung menggunakan satuan sintaksis atau “gatra”

 

Unsur Puisi

Pada dasarnya, unsur atau struktur puisi ini dibagi menjadi dua jenis, yaitu struktur batin puisi dan struktur fisik puisi.

1. Unsur Batin Puisi

Struktur batin puisi bisa dikatakan sebagai unsur pembentuk puisi. Strukur batin puisi masih dibagi menjadi 4 struktur, yaitu:

a. Rasa

Struktur rasa ini dapat diartikan sebagai sentuhan rasa yang berasal dari penulis puisi. Biasanya, penulis puisi atau penyair akan  menulis sebuah puisi karena latar belakang serta keresahan dari penulis itu sendiri. Akan tetapi, ada juga penulis puisi yang menulis puisi berdasarkan permasalahan yang sedang terjadi.

b. Tema

Tema pada puisi ini biasanya akan menentukan hasil dari puisi itu sendiri. Oleh sebab itu, terkadang ada beberapa penulis puisi yang lebih menyukai untuk menentukan tema dalam membuat puisi.

c. Amanat

Amanat merupakan sebuah pesan yang berisi tentang kehidupan yang diberikan oleh penulis kepada pembaca. Amanat ini ada yang dapat dijelaskan secara langsung dan ada juga yang dijelaskan dengan menggunakan makna-makna tersirat.

d. Nada

Nada pada puisi dapat diartikan sebagai bunyi dari puisi yang dibuat oleh penulis atau penyair. Nada yang digunakan bisa nada tinggi, nada rendah, dan lain-lain.

 

Unsur Fisik Puisi

Struktur fisik puisi merupakan unsur fisik puisi, sehingga biasanya di dalam puisi akan terdapat unsur fisik puisi. Berbeda dengan struktur batin puisi, struktur fisik puisi ini terdiri dari 6 struktur, yaitu:

1. Gaya Bahasa

Puisi yang sering kita baca ini biasanya akan ada berbagai macam gaya bahasa dalam satu buah puisi. Dengan adanya gaya bahasa, maka akan memunculkan makna konotasi, sehingga membuat pembaca puisi tersentuh perasaanya.

2. Diksi

Bahasa pada puisi sangatlah pada, sehingga setiap rangkaian katanya bisa memiliki makna tersendiri. Susunan kata pada puisi itu sering dikenal dengan istilah diksi. Pemilihan diksi harus memerhatikan kata-kata lainnya agar menghasilkan estetika bagi puisi itu sendiri.

3. Tipografi

Puisi terdiri dari beberapa baris dalam satu barisnya, kemudian pada bagian akhirnya terkadang diberi tanda baca yang berbeda-beda. Tanda baca ini akan menentukan suasana yang ada di dalam puisi.

4. Rima

Rima pada puisi ini biasanya terletak pada bagian akhir baris puisi. Dengan adanya rima, bunyi puisi akan menjadi lebih indah.

5. Kata Konkret

Kata konkret merupakan kata-kata pada puisi yang bisa mengarahkan ke imajinasi pembaca. Oleh karena itu, setelah membaca puisi, bisa menghadirkan imaji bagi seseorang.

6. Imaji

Ketika membaca puisi akan lebih tersentuh apabila menghubungkannya dengan indera manusia. Imaji merupakan imajinasi yang melibatkan setiap indera manusia, biasanya imaji suara, imaji penglihatan, dan sebagainya.

 

Cara Menyampaikan Puisi 

1. Deklamasi Puisi

Deklamasi puisi adalah suatu cara menyampaikan puisi yang menggunakan lisan, tetapi dalam penyampainyya dilakukan dengan penuh perasaan, penjiwaan, dan penghayatan serta ketika membacakannya kamu tidak perlu membawa teks puisi atau bisa dibilang sudah hapal isi puisi tersebut. Selain itu, deklamasi puisi ini juga menggerakkan beberapa anggota tubuh, seperti tangan, kaki, dan sebagainya.

2. Pertunjukkan Puisi

Cara kedua berupa pertunjukkan puisi dapat diartikan sebagai pembacaan atau penyampaian puisi yang dilakukan pada suatu acara. Pada umumnya, pertunjukkan puisi berupa dramatisasi puisi atau musikalisasi puisi. Dramatisasi puisi merupakan isi teks puisi yang dibuat ke dalam bentuk drama. Sedangkan musikalisasi puisi adalah puisi akan diubah menjadi lagu.

3. Membacakan Puisi

Membacakan puisi merupakan penyampaian puisi yang dilakukan melalui lisan dan biasanya ketika membacakannya teks puisi akan dibawa ke atas pentas.

 

Contoh Puisi Berdasarkan Jenisnya

1. Mantra

Puisi lama mantra biasanya memiliki kata atau ucapan yang dipercaya memiliki kekuatan gaib. Contohnya adalah salah satu mantra yang dipercaya dapat mengobati sakit perut :

 

Gelang-gelang si gali-gali

Malukut kepada padi

Air susu kerus asalmu jadi

Aku sapa tidak berbunyi

 

Sapardi Djoko Damono (2016)

 

Jampi Dukun Betawi

 

Bismillah…

Mate jangan seliat-liatnye

Kuping jangan sedenger-dengernye

Lidah jangan sengomo-ngomongnye.

Mulut jangan semakan-makannye.

Muke jangan semerengut-merengutnya.

Bibir jangan sedower-dowernye.

Purut jangan sebuncit-buncitnye.

Jidat jangan selicin-licinnye.

Pale jangan sebotak botaknye.

Tangan jangan sepegang-pegangnye.

Kaki jangan sejalan-jalannye.

Kulit jangan sebuduk-buduknye.

 

InsyaAllah… Wabarakallah…

Nangis jangan sejadi-jadinye

Marah jangan sengamuk-ngamuknye

Otak jangan selupe-lupenye.

Hati jangan sekosong-kosongnye.

Darah jangan sekotor-kotornye.

 

Puah! Alhamdulillah

 

2. Pantun

Pantun adalah puisi lama yang memiliki sajak abab dan setiap baris berisi delapan sampai 12 suku kata. Berikut salah satu contoh pantun:

 

Berakit-rakit ke hulu

Berenang-renang ke tepian

Bersakit-sakit dahulu

Bersenang-senang kemudian

 

3. Gurindam

Puisi lama gurindam memiliki ciri-ciri yaitu terdapat bait yang terdiri dari dua baris serta bersajak aaaa. Berikut salah satu contoh gurindam:

 

Contoh 1

Pikir dahulu sebelum berkata

Supaya terelak silang sengketa

 

Apabila anak tak dilatih

Jikalau besar bapaknya letih

 

Kurang pikir kurang siasat

Tentu dirimu kelak tersesat

 

Pekerjaan marah jangan dibela

Nanti hilang akal di kepala

 

Tanda orang yang amat celaka

Aib dirinya tiada disangka

 

Contoh 2

 

Apabila mata terjaga.

Hilanglah semua dahaga.

 

Apabila kuping tertutup handuk.

Hilanglah semua kabar buruk.

 

Apabila mulut terkunci rapat.

Hilanglah semua bentuk maksiat.

 

Apabila tangan tidak terikat rapat.

Hilanglah semua akal sehat.

 

Apabila kaki tidak menapak.

Larilah semua orang serempak

 

4. Syair

Syair adalah puisi lama yang biasanya berisi nasihat atau cerita, syair bersajak aaaa serta berisi empat baris dalam satu bait. Salah satu contohnya adalah sebagai berikut:

 

Ilmu didapat tiada cepat

Mesti sabar hatinya kuat

Semoga tuhan berikan rahmat

Maka jaga hati serta niat

 

5. Talibun

Talibun merupakan puisi lama yang termasuk dalam jenis pantun serta terdiri dari bilangan genap pada setiap satu baitnya. Contoh talibun adalah sebagai berikut:

 

Pergi merantau jauh ke negeri seberang

Janganlah lalai membawa perbekalan berupa makanan

Jika tersesat di perjalanan ingatlah peta yang kau bawa

Serta jangan malu mendatangi orang untuk bertanya

Jika engkau berbuat baik kepada semua orang

Niscaya kebaikan pula yang akan engkau dapatkan

Sudahlah engkau kan dapat pahala

Di dunia pun engkau akan hidup bahagia

 

6. Puisi Romansa

Romansa merupakan puisi moderen dan berisikan mengenai kisah cinta atau perasaan penyair tentang cinta, salah satu contoh puisi romansa adalah sebagai berikut:

 

a. Aku Ingin, oleh Sapardi Djoko Damono

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan kata yang tak sempat diucapkan

kayu kepada api yang menjadikannya abu

 

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan isyarat yang tak sempat disampaikan

awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

 

b. Pacar Senja, oleh Joko Pinurbo

Senja mengajak pacarnya duduk-duduk di pantai.

Pantai sudah sepi dan tak ada yang peduli.

Pacar senja sangat pendiam: ia senyum-senyum saja

mendengarkan gurauan senja. Bila senja minta

peluk, setengah saja, pacar senja tersipu-sipu.

“Nanti saja kalau sudah gelap. Malu dilihat lanskap.”

 

Cinta seperti penyair berdarah dingin

yang pandai menorehkan luka.

Rindu seperti sajak sederhana yang tak ada matinya.

 

Tak terasa senyap pun tiba: senja tahu-tahu

melengos ke cakrawala, meninggalkan pacar senja

yang masih megap-megap oleh ciuman senja.

 

“Mengapa kau tinggalkan aku sebelum sempat

kurapikan lagi waktu? Betapa lekas cium

menjadi bekas. Betapa curangnya rindu.

 

Awas, akan kupeluk habis kau esok hari.”

Pantai telah gelap. Ada yang tak bisa lelap.

Pacar senja berangsur lebur, luluh, menggelegak

dalam gemuruh ombak.

 

c. Cinta Tanpa Tanda, Oleh Sujiwo Tejo

Telah ku tandakan semesta cintaku

kau tandaskan cinta tanpa tanda

Kuhasratkan isyarat sahaja

kau isyaratkan pintaku terlampau

terlampau berprasyarat cintaku

Kau isyaratkan cinta tanpa tanda

 

Berulang berbulan berwewinduan (kurindu)

Kupejam kutajamkan asah rasa (kubaca tanda)

Mata kubutakan terawangku hanya dengan rasa (kubaca tanda)

Kuping hidung lidah rabaanku pun telah kuenyahkan (kubaca tanda)

Tipu daya panca indrapun telah tuntas kusingkirkan (kubaca tanda)

Kutandai kurasai semesta yang tak kasat mata

Katamu kumasih jadi budak pancaindra yang membuatku terkecoh

 

7. Balada

Balada merupakan salah satu jenis puisi moderen yang menggambarkan cerita, puisi balada terdiri dari tiga bait, berikut adalah contoh dari puisi balada.

 

a. Balada Orang-Orang Tercinta, oleh W.S Rendra

Kita bergantian menghirup asam

Batuk dan lemas terceruk

Marah dan terbaret-baret

Cinta membuat kita bertahan

dengan secuil redup harapan

 

Kita berjalan terseok-seok

Mengira lelah akan hilang

di ujung terowongan yang terang

Namun cinta tidak membawa kita

memahami satu sama lain

 

Kadang kita merasa beruntung

Namun harusnya kita merenung

Akankah kita sampai di altar

Dengan berlari terpatah-patah

Mengapa cinta tak mengajari kita

Untuk berhenti berpura-pura?

 

Kita meleleh dan tergerus

Serut-serut sinar matahari

Sementara kita sudah lupa

rasanya mengalir bersama kehidupan

Melupakan hal-hal kecil

yang dulu termaafkan

 

Mengapa kita saling menyembunyikan

Mengapa marah dengan keadaan?

Mengapa lari ketika sesuatu

membengkak jika dibiarkan?

Kita percaya pada cinta

Yang borok dan tak sederhana

Kita tertangkap jatuh terperangkap

Dalam balada orang-orang tercinta

 

b. Perempuan yang Tergusur, oleh W.S Rendra

 

Hujan lebat turun di hulu subuh

disertai angin gemuruh

yang menerbangkan mimpi

yang lalu tersangkut di ranting pohon

 

Aku terjaga dan termangu

menatap rak buku-buku

mendengar hujan menghajar dinding

rumah kayuku.

Tiba-tiba pikiran mengganti mimpi

dan lalu terbayanglah wajahmu,

wahai perempuan yang tergusur!

 

Tanpa pilihan

ibumu mati ketika kamu bayi

dan kamu tak pernah tahu siapa ayahmu.

Kamu diasuh nenekmu yang miskin di desa.

Umur enam belas kamu dibawa ke kota

oleh sopir taxi yang mengawinimu.

Karena suka berjudi

ia menambah penghasilan sebagai germo.

 

Ia paksa kamu jadi primadona pelacurnya.

Bila kamu ragu dan murung,

lalu kurang setoran kamu berikan,

ia memukul kamu babak belur.

Tapi kemudian ia mati ditembak tentara

ketika ikut demonstrasi politik

sebagai demonstran bayaran.

 

Sebagai janda yang pelacur

kamu tinggal di gubuk tepi kali

dibatas kota

Gubernur dan para anggota DPRD

menggolongkanmu sebagai tikus got

yang mengganggu peradaban.

Di dalam hukum positif tempatmu tidak ada.

Jadi kamu digusur.

 

Di dalam hujan lebat pagi ini

apakah kamu lagi berjalan tanpa tujuan

sambil memeluk kantong plastik

yang berisi sisa hartamu?

Ataukah berteduh di bawah jembatan?

 

Impian dan usaha

bagai tata rias yang luntur oleh hujan

mengotori wajahmu.

kamu tidak merdeka.

Kamu adalah korban tenung keadaan.

Keadilan terletak di seberang highway yang berbahaya

yang tak mungkin kamu seberangi.

 

Aku tak tahu cara seketika untuk membelamu.

Tetapi aku memihak kepadamu.

Dengan sajak ini bolehkan aku menyusut keringat dingin

di jidatmu?

 

O,cendawan peradaban!

O, teka-teki keadilan!

 

Waktu berjalan satu arah saja.

Tetapi ia bukan garis lurus.

Ia penuh kelokan yang mengejutkan,

gunung dan jurang yang mengecilkan hati,

Setiap kali kamu melewati kelokan yang berbahaya

puncak penderitaan yang menyakitkan hati,

atau tiba di dasar jurang yang berlimbah lelah,

selalu kamu dapati kedudukan yang tak berubah,

ialah kedudukan kaum terhina.

 

Tapi aku kagum pada daya tahanmu,

pada caramu menikmati setiap kesempatan,

pada kemampuanmu berdamai dengan dunia,

pada kemampuanmu berdamai dengan diri sendiri,

dan caramu merawat selimut dengan hati-hati.

 

Ternyata di gurun pasir kehidupan yang penuh bencana

semak yang berduri bisa juga berbunga.

Menyaksikan kamu tertawa

karena melihat ada kelucuan di dalam ironi,

diam-diam aku memuja kamu di hati ini.

 

8. Epik

Puisi epic merupakan salah satu jenis puisi moderen yang berisi tuntutan atau ajaran hidup serta memiliki cerita kepahlawanan. Berikut adalah contoh-contoh puisi epik oleh beberapa sastrawan Indonesia.

 

a. Diponegoro, Oleh Chairil Anwar (Februari 1943)

Di masa pembangunan ini

Tuan hidup kembali

 

Dan bara kagum menjadi api

 

Di depan sekali tuan menanti

Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.

Pedang di kanan, keris di kiri

Berselempang semangat yang tidak bisa mati.

 

MAJU

 

Ini barisan tak bergenderang-berpalu

Kepercayaan tanda menyerbu.

 

Sekali berarti

Sudah itu mati.

 

MAJU

 

Bagimu Negeri

Menyediakan api.

 

 

Punah di atas menghamba

Binasa di atas ditinda.

 

Sungguhpun dalam ajal baru tercapai

Jika hidup baru bisa merasai.

 

Maju.

Serbu.

Serang.

Terjang.

 

b. Karawang-Bekasi, Oleh Chairil Anwar

Kami yang ingin terbaring antara Karawang-Bekasi

tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi.

Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,

terbayang kami maju dan mendegap hati?

 

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi

Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.

Kenang, kenanglah kami.

 

Kami sudah coba apa yang kami bisa

Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan 4-5 ribu

nyawa

 

 

Kami cuma tulang-tulang berserakan

Tapi adalah kepunyaanmu

Kaulah lagi yan tentukan nilai tulang-tulang berserakan

 

Atau kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan

harapan

atau tidak untuk apa-apa,

Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata

Kaulah sekarang yang berkata

 

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi

Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

 

Kenang, kenanglah kami

Teruskan, teruskan jiwa kami

Menjaga Bung Karno

menjaga Bung Hatta

menjaga Bung Sjahrir

 

Kami sekarang mayat

Beri kami arti

Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian

Keang, kenanglah kami

yang tinggal tulang-tulang diliputi debu

Beribu kami terbaring antara Karawang-Bekasi


GURINDAM

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Gurindam secara umum merupakan susunan sajak yang terdiri dua baris dan mengandung petuah hidup. Karya Gurindam adalah sebuah nasehat kepada sesama manusia agar menjalankan kebaikan.

Menurut buku Mengenal Lebih Dekat “Puisi Rakyat” (2020) karya Sri Khairani Lubis, dkk, gurindam adalah jenis puisi lama yang berasal dari negara India. Gurindam identik dengan moral dan nilai agama. Pada zaman dahulu, masyarakat menjadikan gurindam sebagai norma kehidupan. Menurut Fitria Rosa, dkk dalam buku Karya Sastra Melayu Riau (2017), gurindam merupakan bentuk puisi Melayu lama yang terdiri dari dua larik (baris), memiliki irama akhir sama dan merupakan satu kesatuan utuh. Larik pertama berisikan soal atau perjanjian. Sementara larik kedua memuat jawaban soal atau akibat dari perjanjian tersebut.

 

Pendapat Para Ahli Lain

1. Masruchin (2017)

Karya sastra lama yang berbentuk puisi, yang terdiri dari dua baris kalimat yang memiliki rima atau sajak yang sama. Gurindam sendiri memiliki lebih dari satu bait yang terdiri dari dua baris tiap baitnya. Dalam baris pertama sebagai baris syarat, masalah, persoalan dan perjanjian. Sementara baris kedua sebagai jawaban akibat dari masalah atau hal yang terjadi pada baris pertama.

 

2. Raja Ali Haji (1989)

Salah satu bentuk puisi Melayu yang terdiri dari dua baris yang berpasangan, bersajak atau berima dan memberikan ide yang lengkap atau sempurna dalam pasangannya. Dengan keadaan yang demikian, baris pertamanya dapat dianggap sebagai syarat (protasis) dan baris kedua sebagai jawab (apodosis).

 

3. Ismail Hamid (1989)

Gurindam berasal dari kata sanskrit yaitu Kirindam yang berarti perumpamaan. Gurindam ini berkembang dalam masyarakat Melayu dan memiliki bentuk teks atau naskah tersendiri.

 

4. Sutan Takdir Alisjahbana

Sebuah kalimat majemuk yang terbagi menjadi dua baris yang bersajak. Tiap baris merupakan kalimat yang terhubung, yang terdiri dari anak kalimat dan induk kalimat, dengan jumlah suku kata yang tidak ditentukan tiap barisnya.


5. Harun Mat Piah

Gurindam adalah puisi Melayu lama, yang memiliki bentuk terikat dan tidak terikat. Bentuk yang terikat terdiri dari dua baris serangkap dan memiliki tiga hingga enam patah perkataan dengan rima a-a.

 

Ciri-Ciri Gurindam

Dikutip dari buku Master Bahasa Indonesia (2015) oleh Ainia Prihantini, berikut ciri-ciri gurindam

  1. Tiap bait terdiri atas dua larik atau baris, 
  2. Dua baris dalam gurindam membentuk kalimat majemuk.
  3. Antara baris pertama dan kedua memiliki hubungan sebab akibat. Baris pertama memuat soal, masalah, atau perjanjian. Baris kedua berisikan jawaban soal atau akibat masalah atau perjanjian pada baris pertama.
  4. Isi gurindam tercantum pada larik kedua
  5. Umumnya gurindam berisikan nasihat atau pelajaran
  6. Jumlah suku kata tiap baris tidak tetap, tetapi biasanya berjumlah antara 8 hingga dua 12 suku kata.
  7. Ada gurindam yang bersajak penuh (A-A, B-B, C-C), namun ada pula yang tidak.

 

Jenis Gurindam

Karya sastra puisi lama gurindam, memiliki dua jenis yang perlu sobat Grameds ketahui. Gurindam berkait dan gurindam berangkai. Agar tidak bingung membedakannya, yuk langsung saja kupas satu persatu.

 

1. Gurindam berkait

Gurindam jenis pertama ini memiliki teks berkait antara baris satu dan dua. Begitupun dengan baru selanjutnya terus berkaitan.

2. Gurindam berangkai

Berbeda dengan gurindam berkait, gurindam ini memiliki kata yang sama pada setiap dua baris. Jadi selain bunyi konsonan sama, kata awal juga memiliki kesamaan.

 

Fungsi Karya Sastra Gurindam

Karya sastra gurindam dibuat secara khusus dan mendalam tersebut pasti ada fungsinya. Tentu saja fungsinya mengarah kepada kebaikan dan menghindari dari keburukan. Seseorang yang membacai karya sastra gurindam maka ia akan mendapatkan fungsi secara intelektual dari teks-teks berbaris tidak lebih dari 6 kata itu.

 

1. Mendidik jiwa

Keaslian sebuah karya sastra yang dibarengi penghayatan hidup secara otomatis akan  mendidik jiwa baik si pembuatnya maupun pembaca. Gurindam yang sebagian besar berupa petuah agama dapat berfungsi untuk mendidik sisi kejiwaan manusia.

 

2. Menghibur manusia

Sebagai karya rekaan manusia selain berfungsi untuk mendidik jiwa manusia lebih baik lagi, gurindam bisa berfungsi untuk menghibur juga lho. Tema-tema gurindam yang berlatar “kasmaran” biasanya sangat menghibur pembaca. Sebab dari sana dilihatkan bagaimana lebay dan konyolnya orang yang sedang jatuh cinta.

 

3. Merekam kondisi sosial masyarakat

Kreativitas penulis gurindam yang dapat merekam kondisi sosial masyarakat menjadikan karya sastra puisi lama ini berfungsi untuk mengamati kondisi sosial budaya masyarakat. Gurindam mampu merekam segala kejadian dalam beberapa kalimat pendek.

 

4. Menyampaikan dakwah agama

Adanya karya sastra gurindam, akhirnya memudahkan para da’i menyebarkan ajaran-ajaran agama. Agama manapun yang tujuannya agar manusia melakukan kebaikan dan senantiasa menghindari keburukan.

 

Bahkan banyak karya sastra gurindam yang mengandung nilai-nilai ajaran luhur agama Islam dan budaya bangsa. Sebab gurindam sendiyoun dari budaya Melayu yang memiliki kedekatan dengan agama.

 

Contoh Gurindam

Salah satu karya sastra puisi lama Gurindam yang terkenal adalah milik Raja Ali Haji. Karya sastra puisi lama milik Raja Ali Haji berisikan 12 pasal.

 

Gurindam Dua Belas

 

Pasal 1:

Barang siapa tiada memegang agama,

sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama.

Barang siapa mengenal yang empat,

maka ia itulah orang yang ma’rifat.

Barang siapa mengenal Allah,

suruh dan tegahnya tiada ia menyalah.

Barang siapa mengenal diri,

maka telah mengenal akan Tuhan yang bahri.

Barang siapa mengenal dunia,

tahulah ia barang yang teperdaya.

Barang siapa mengenal akhirat,

tahulah Ia dunia mudarat.

 

Pasal 2:

Barang siapa mengenal yang tersebut,

tahulah ia makna takut.

Barang siapa meninggalkan sembahyang,

seperti rumah tiada bertiang.

Barang siapa meninggalkan puasa,

tidaklah mendapat dua termasa.

Barang siapa meninggalkan zakat,

tiadalah hartanya beroleh berkat.

Barang siapa meninggalkan haji,

tiadalah ia menyempurnakan janji.

 

Pasal 3:

Apabila terpelihara mata,

sedikitlah cita-cita.

Apabila terpelihara kuping,

khabar yang jahat tiadaiah damping.

Apabila terpelihara lidah,

niscaya dapat daripadanya paedah.

Bersungguh-sungguh engkau memeliharakan tangan,

daripada segala berat dan ringan.

Apabila perut terlalu penuh,

keluarlah fi’il yang tiada senunuh.

Anggota tengah hendaklah ingat,

di situlah banyak orang yang hilang semangat.

Hendaklah peliharakan kaki,

daripada berjaian yang membawa rugi.

 

Pasal 4:

Hail kerajaan di dalam tubuh,

jikalau lalim segala anggotapun rubuh.

Apabila dengki sudah bertanah,

datanglah daripadanya beberapa anak panah.

Mengumpat dan memuji hendaklah pikir,

di situlah banyak orang yang tergelincir.

Pekerjaan marah jangan dibela,

nanti hilang akal di kepala.

Jika sedikitpun berbuat bohong,

boleh diumpamakan mulutnya itu pekong.

Tanda orang yang amat celaka,

aib dirinya tiada ia sangka.

Bakhil jangan diberi singgah,

itupun perampok yang amat gagah.

Barang siapa yang sudah besar,

janganlah kelakuannya membuat kasar.

Barang siapa perkataan kotor,

mulutnya itu umpama ketur.

Di mana tahu salah diri,

jika tidak orang lain yang berperi.

 

Pasal 5:

Jika hendak mengenai orang berbangsa,

lihat kepada budi dan bahasa,

Jika hendak mengenal orang yang berbahagia,

sangat memeliharakan yang sia-sia.

Jika hendak mengenal orang mulia,

lihatlah kepada kelakuan dia.

Jika hendak mengenal orang yang berilmu,

bertanya dan belajar tiadalah jemu.

Jika hendak mengenal orang yang berakal,

di dalam dunia mengambil bekal.

Jika hendak mengenal orang yang baik perangai,

lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai.

 

Pasal 6:

Cahari olehmu akan sahabat,

yang boleh dijadikan obat.

Cahari olehmu akan guru,

yang boleh tahukan tiap seteru.

Cahari olehmu akan isteri,

yang boleh dimenyerahkan diri.

Cahari olehmu akan kawan,

pilih segala orang yang setiawan.

Cahari olehmu akan abdi,

yang ada baik sedikit budi.

 

Pasal 7:

Apabila banyak berkata-kata,

di situlah jalan masuk dusta.

Apabila banyak berlebih-lebihan suka,

itulah landa hampirkan duka.

Apabila kita kurang siasat,

itulah tanda pekerjaan hendak sesat.

Apabila anak tidak dilatih,

I’ika besar bapanya letih.

Apabila banyak mencela orang,

itulah tanda dirinya kurang.

Apabila orang yang banyak tidur,

sia-sia sahajalah umur.

Apabila mendengar akan khabar,

menerimanya itu hendaklah sabar.

Apabila menengar akan aduan,

membicarakannya itu hendaklah cemburuan.

Apabila perkataan yang lemah-lembut,

lekaslah segala orang mengikut.

Apabila perkataan yang amat kasar,

lekaslah orang sekalian gusar.

Apabila pekerjaan yang amat benar,

tidak boleh orang berbuat onar.

 

Pasal 8:

Barang siapa khianat akan dirinya,

apalagi kepada lainnya.

Kepada dirinya ia aniaya,

orang itu jangan engkau percaya.

Lidah yang suka membenarkan dirinya,

daripada yang lain dapat kesalahannya.

Daripada memuji diri hendaklah sabar,

biar dan pada orang datangnya khabar.

Orang yang suka menampakkan jasa,

setengah daripada syirik mengaku kuasa.

Kejahatan diri sembunyikan,

kebalikan diri diamkan.

Keaiban orang jangan dibuka,

keaiban diri hendaklah sangka.

 

Pasal 9:

Tahu pekerjaan tak baik, tetapi dikerjakan,

bukannya manusia yaituiah syaitan.

Kejahatan seorang perempuan tua,

itulah iblis punya penggawa.

Kepada segaia hamba-hamba raja,

di situlah syaitan tempatnya manja.

Kebanyakan orang yang muda-muda,

di situlah syaitan tempat berkuda.

Perkumpulan laki-laki dengan perempuan,

di situlah syaitan punya jamuan.

Adapun orang tua yang hemat,

syaitan tak suka membuat sahabat.

Jika orang muda kuat berguru,

dengan syaitan jadi berseteru.

 

Pasal 10:

Dengan bapa jangan durhaka,

supaya Allah tidak murka.

Dengan ibu hendaklah hormat,

supaya badan dapat selamat.

Dengan anak janganlah lalai,

supaya boleh naik ke tengah balai.

Dengan isteri dan gundik janganlah alpa,

supaya kemaluan jangan menerpa.

Dengan kawan hendaklah adil supaya tangannya jadi kafill.

 

Pasal 11:

Hendaklah berjasa,

kepada yang sebangsa.

Hendaklah jadi kepala,

buang perangai yang cela.

Hendaklah memegang amanat, buanglah khianat.

Hendak marah, dahulukan hajat.

Hendak dimulai, jangan melalui.

Hendak ramai, murahkan perangai.

 

Pasal 12:

Raja muafakat dengan menteri,

seperti kebun berpagarkan duri.

Betul hati kepada raja,

tanda jadi sebarang kerja.

Hukum adil atas rakyat,

tanda raja beroleh anayat.

Kasihan orang yang berilmu,

tanda rahmat atas dirimu.

Hormat akan orang yang pandai,

tanda mengenal kasa dan cindai.

Ingatkan dirinya mati,

itulah asal berbuat bakti.

Akhirat itu terlalu nyata,

kepada hati yang tidak buta.