#navbar-iframe-container, #navbar-iframe, .navbar { display: none !important; height: 0 !important; visibility: hidden !important; }

My Songs

Mars SMANSAKA (Orchestra Version) :

Dirgahayu Indonesia :

HUT SMANSAKA :

Welcome to SMANSAKA :

SMANSAKA Juara Lagi :

Ekskul Musik Anthem :

27 Agustus 2026

SOAL PEMANTAPAN Bahasa Indonesia – Standar TKA

Soal Nomor 1

Soal TKA 2025 – Level Menengah

Teks 1

Pemerintah mendorong usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk segera melakukan transformasi digital. Dengan memasuki platform e-commerce, UMKM dapat memperluas jangkauan pasar hingga ke tingkat nasional bahkan internasional. Digitalisasi juga memungkinkan efisiensi dalam manajemen inventaris dan pencatatan keuangan yang merupakan kunci untuk pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.

Teks 2

Meskipun potensi digitalisasi UMKM tetap sangat besar, implementasinya di lapangan menghadapi tantangan serius. Banyak pelaku UMKM, terutama di daerah, masih gagap teknologi dan tidak memiliki akses memadai terhadap pelatihan digital. Selain itu, persaingan dalam e-commerce sangat ketat, sering kali didominasi oleh pemain besar sehingga UMKM lokal kesulitan untuk bersaing jika tidak dibarengi dengan strategi pemasaran yang kuat dan branding produk yang unik.

Kalimat berikut memiliki hubungan makna ....

“Walaupun harga bahan pokok naik drastis, masyarakat tetap berbondong-bondong ke pasar tradisional untuk berbelanja.”

A. sebab–akibat
B. penambahan
C. pertentangan
D. perbandingan
E. tujuan


Soal Nomor 2

Soal TKA 2025 – Level Menengah

Pak Tua itu adalah sang penjaga waktu terakhir di kotaku. Bukan arloji digital berkilau yang ia sentuh, melainkan roda-roda gerigi kuningan dan pendulum yang berayun dengan detak khidmat. Bengkelnya yang remang berbau minyak dan kayu tua. Baginya, setiap jam tua yang ia perbaiki bukan sekadar mesin, tetapi kapsul memori—saksi bisu dari tawa, tangis, dan generasi yang datang dan pergi.

Ia sering berkata, “Orang sekarang ingin tahu waktu dengan cepat, tetapi mereka lupa cara merasakannya.” Ia tidak pernah terburu-buru; jemarinya yang keriput bergerak dengan presisi seorang seniman, seolah ia sedang memutar kembali kenangan, bukan sekadar pegas.

Penggunaan frasa “kapsul memori” dan “saksi bisu” dalam teks berfungsi untuk ....

A. menggambarkan jam sebagai objek biasa
B. menjelaskan harga jam yang sangat mahal
C. menunjukkan bahwa jam tersebut rusak
D. memberikan instruksi teknis perbaikan jam
E. memberikan makna yang lebih dalam dan puitis pada jam


Teks untuk Soal Nomor 3–5

Teknologi 5G adalah generasi terbaru jaringan seluler yang menawarkan kecepatan internet jauh lebih tinggi dibandingkan 4G. Selain kecepatan, 5G juga memiliki kapasitas lebih besar untuk menghubungkan banyak perangkat secara serentak, mengurangi latensi (buffering) sehingga data dapat diterima dan diproses lebih cepat, serta mempercepat transfer data. Di Indonesia, teknologi ini mulai diperkenalkan dan diharapkan menjadi tulang punggung transformasi digital di berbagai sektor.

Salah satu keunggulan 5G adalah kemampuannya mendukung Internet of Things (IoT) dan smart cities dengan mengakomodasi jutaan perangkat terhubung. Hal ini membuka peluang inovasi di sektor industri, pendidikan, dan hiburan. Kecepatan yang tinggi dan latensi yang rendah pada 5G memungkinkan streaming video berkualitas, pengalaman virtual reality (VR) dan augmented reality (AR) yang lebih mendalam serta mendukung pekerjaan jarak jauh dengan lebih lancar.

Meski memiliki banyak manfaat, 5G juga menghadapi tantangan serius. Infrastruktur yang diperlukan sangat kompleks dan mahal serta sinyal 5G memiliki daya tembus yang lebih rendah dibandingkan 4G sehingga perlu lebih banyak menara pemancar. Selain itu, frekuensi radio yang digunakan sudah banyak dipakai layanan lain sehingga perlu pengelolaan untuk menghindari gangguan. Isu privasi dan keamanan juga menjadi perhatian karena banyaknya perangkat yang terhubung.

Penerapan 5G di Indonesia dapat memberikan dampak positif tidak hanya pada teknologi, tetapi juga kehidupan sehari-hari, pendidikan, dan ekonomi. Penggunaan 5G dapat meningkatkan efisiensi industri dan mendorong perkembangan ekonomi digital. Namun, kolaborasi antara pemerintah, swasta, dan masyarakat sangat penting untuk mengatasi hambatan dan memastikan teknologi ini dapat dinikmati secara merata.


Soal Nomor 3

Soal Standar TKA – Level HOTS

Teknologi 5G membawa perubahan besar bagi konektivitas digital. Dari teknologi tersebut, apakah faktor yang memengaruhi efektivitas dan hambatan implementasinya? Pilihlah semua pernyataan yang benar! Jawaban benar lebih dari satu.

  1. Kapasitas 5G yang lebih besar menyebabkan data dapat diterima dan diproses lebih cepat sehingga mengurangi latensi secara signifikan.

  2. Jaringan 5G mampu mendukung smart cities karena memiliki kemampuan untuk mengakomodasi jutaan perangkat yang terhubung secara simultan.

  3. Pengalaman Virtual Reality (VR) menjadi lebih mendalam karena teknologi 5G menawarkan kecepatan internet tinggi dan latensi yang rendah.

  4. Sinyal 5G memiliki daya tembus yang lebih rendah dibandingkan 4G sehingga mengakibatkan perlunya pembangunan lebih banyak menara pemancar.

  5. Pengelolaan frekuensi radio diperlukan karena banyaknya perangkat yang terhubung dapat mengancam isu privasi dan keamanan data pengguna.


Soal Nomor 4

Soal Standar TKA – Level Menengah

Tentukan Tepat atau Tidak Tepat untuk setiap pernyataan berikut terkait dengan penggunaan konjungsi dalam setiap kalimat!

No.PernyataanTepatTidak Tepat
1Konjungsi selain pada kutipan “Selain kecepatan, 5G juga memiliki kapasitas lebih besar ...” digunakan untuk menambahkan keunggulan lain dari teknologi 5G.
2Konjungsi sehingga pada kutipan “... mengurangi latensi sehingga data dapat diterima dan diproses lebih cepat” digunakan untuk menegaskan alasan utama penggunaan 5G.
3Konjungsi namun pada kutipan “Namun, kolaborasi antara pemerintah, swasta, dan masyarakat sangat penting ...” digunakan untuk mempertentangkan harapan dengan syarat yang harus dipenuhi.

Soal Nomor 5

Soal Standar TKA – Level Dasar

Penjabaran informasi dalam teks tersebut dapat disusun menjadi kerangka. Manakah kerangka isi yang paling mencerminkan struktur dan urutan teks tersebut?

A. Pengertian 5G dan keunggulannya → manfaat 5G bagi inovasi dan gaya hidup → tantangan infrastruktur dan keamanan → simpulan tentang dampak ekonomi dan pentingnya kolaborasi.

B. Perbandingan kecepatan 4G dan 5G → daftar perangkat yang mendukung IoT → biaya pembangunan menara pemancar → rincian pembagian frekuensi radio di Indonesia.

C. Sejarah perkembangan jaringan seluler → kegunaan VR dan AR dalam pendidikan → daftar tantangan pengelolaan privasi data → prediksi masa depan teknologi digital setelah 5G.

D. Keunggulan latensi rendah bagi industri → peluang kerja jarak jauh dengan internet lancar → analisis kelemahan daya tembus sinyal → harapan pemerataan teknologi oleh pemerintah.

E. Definisi 5G → cara kerja Internet of Things (IoT) → hambatan pembangunan infrastruktur mahal → ikhtisar perubahan perilaku masyarakat akibat internet cepat.


Soal Nomor 6

Soal Standar TKA – Level Menengah

(1) Peningkatan usaha ekonomi bagi masyarakat desa diyakini mampu menjadi daya tangkap bagi masyarakat desa untuk hijrah ke kota. (2) Melibatkan mereka dalam kegiatan ekonomi produktif setidaknya membuat masyarakat tidak melirik kota. (3) Untuk keberhasilan kegiatan tersebut, pemda setempat menggandeng berbagai pihak, di antaranya Pusat Pelatihan dan Ketrampilan. (4) Peserta pelatihan difasilitasi modal usaha dan pendampingan.

Kesalahan penggunaan kata baku dalam paragraf tersebut adalah kata ....

A. hijrah pada kalimat (1) seharusnya hijroh
B. produktif pada kalimat (2) seharusnya produsen
C. pihak pada kalimat (3) seharusnya fihak
D. ketrampilan pada kalimat (3) seharusnya keterampilan
E. difasilitasi pada kalimat (4) seharusnya divasilitasi


Soal Nomor 7

Soal Standar TKA – Level Dasar

Diperlukan proses yang panjang untuk menghasilkan kopi luwak yang nikmat. Biji kopi yang benar-benar segar dan berwarna merah yang akan digunakan. ..., biji kopi dipilih dengan memisahkan biji kopi yang segar dan busuk dengan cara direndam. Biji kopi yang baik akan tenggelam, ... yang busuk akan mengapung. ..., biji kopi tersebut diberikan kepada musang atau luwak jenis binturong dan bulan (luwak pemakan kopi). Dalam proses ini, luwak mempunyai peran yang sangat penting karena indera penciumannya hanya akan memilih biji kopi yang sempurna.

Konjungsi yang tepat untuk melengkapi paragraf tersebut adalah ....

A. sementara, karena, sementara
B. sementara, bahkan, kemudian
C. selanjutnya, sedangkan, kemudian
D. kemudian, bahkan, selanjutnya
E. jika, sementara, kemudian


Soal Nomor 8

Soal Standar TKA – Level Dasar

Kopi menjadi salah satu bagian rencana [...] ekonomi “Negeri Mutiara Hitam”, Papua. Kopi juga bukan untuk [...] besar-besaran oleh investor asing, melainkan untuk perekonomian masyarakat lokal. Pembudidayaannya bukan hanya industri kecil koperasi, melainkan juga sekolah dan asrama.

Kata berimbuhan yang tepat untuk melengkapi paragraf tersebut adalah ....

A. mengembangkan, mengeksploitasi, tumbuhkan
B. kembangkan, eksploitasikan, tumbuhkan
C. dikembangkan, dieksploitasi, ditumbuhkan
D. pengembangan, dieksploitasi, menumbuhkan
E. pengembangan, dieksploitasi, ditumbuhkan


Soal Nomor 9

Soal Standar TKA – Level Dasar

Perhatikan paragraf berikut!

  1. Sementara di Hotel Hyatt Regency Yogya, 1.000 lampion diterbangkan ke langit bersama harapan pada tahun 2016 di Bogey’s Teras.

  2. Dalam setiap lampion yang diterbangkan, terdapat tulisan akan harapan pada tahun 2016.

  3. Kita percaya pada tahun 2016 lebih baik ketimbang tahun sebelumnya, ujar Ayu Hellena Coenellia, Marketing Communication Hotel Hyatt Regency Yogya.

Sumber: Kedaulatan Rakyat, 2 Januari 2016

Kalimat nomor (2) tidak efektif karena tidak bersubjek. Penyebabnya adalah ....

A. penggunaan kata dalam di awal kalimat
B. penggunaan frasa setiap lampion
C. penggunaan frasa akan harapan
D. penggunaan frasa yang diterbangkan
E. penggunaan kata pada dan tahun


Soal Nomor 10

Soal Standar TKA – Level Dasar

Cermati paragraf berikut!

Walaupun ayahnya seorang pengusaha hebat dan terkenal di bidang ekspor-impor, Julia tetap bersikap rendah hati. Ia sangat memamerkan kekayaan yang dimiliki orang tuanya. Ia tidak mau hanya menadahkan tangan. Kini ia akan menyelesaikan pendidikan dari jerih payahnya sendiri dan memperoleh nilai sangat memuaskan.

Frasa yang tepat untuk mengganti frasa yang bercetak tebal tersebut adalah ....

A. pengusaha ternama, akan memamerkan, telah menyelesaikan
B. orang yang berkuasa, telah memamerkan, akan menyelesaikan
C. pengusaha kaya, tidak memamerkan, telah menyelesaikan
D. pengusaha rajin, ingin memamerkan, sudah menyelesaikan
E. orang yang berkuasa, tidak memamerkan, ingin menyelesaikan


Soal Nomor 11

Soal Standar TKA – Level Menengah

Cermati teks berikut!

Setelah pembelajaran di kelas terakhir, kepala sekolah bersama guru-guru mengadakan rapat. Dalam rapat itu membicarakan kelulusan siswa kelas XII.

Perbaikan kalimat tidak efektif yang bercetak miring pada paragraf tersebut dengan cara ....

A. mengganti kata membicarakan dengan kata dibicarakan
B. membubuhkan tanda koma di belakang kata itu
C. kata membicarakan diganti dengan kata berbicara
D. menghilangkan kata itu
E. menambahkan tanda koma di belakang kata siswa


Soal Nomor 12

Soal Standar TKA – Level Menengah

(1) Berdasarkan hasil penelitian, tahun ini luas hutan bakau di Indonesia sangat berkurang dibandingkan tahun lalu. (2) Sebagian besar lahan hutan bakau berubah fungsi menjadi tambak udang maupun ikan. (3) Ada pula yang berubah fungsi menjadi wilayah industri maupun permukiman. (4) Selain itu, terjadi penebangan hutan bakau yang sebagian besar digunakan untuk kayu bakar. (5) Hal ini juga menambah parahnya hutan bakau.

Perbaikan kalimat yang salah dan alasannya yang tepat adalah ....

PilihanPerbaikan kalimatAlasan
ABerdasarkan penelitian, tahun ini luas hutan bakau di Indonesia sangat berkurang sekali dibandingkan tahun lalu.Kata penelitian sudah menyatakan hasil.
BBerdasarkan hasil penelitian, tahun ini luas hutan bakau di Indonesia sangat berkurang dibandingkan tahun lalu.Kata sangat sudah bermakna intensitas, tidak perlu kata sekali.
CSebagian besar lahan hutan bakau berubah fungsi menjadi tambak udang dan ikan.Konjungsi maupun seharusnya berkait dengan konjungsi baik yang menyatakan pilihan.
DNamun, terjadi penebangan hutan bakau yang sebagian besar digunakan untuk kayu bakar.Konjungsi namun menyatakan pertentangan.
ESelain itu, terjadi penebangan hutan bakau dan sebagian besar digunakan untuk kayu bakar.Konjungsi yang tidak menyatakan penghubung antarklausa.

Soal Nomor 13

Soal Standar TKA – Level Dasar

Jangan terkecoh membeli ikan. Kadang-kadang kita kecewa membeli ikan. Disangka ... ternyata sudah busuk. Caranya supaya kita terkecoh? Ikan yang segar dagingnya ... kalau dipegang. Sisiknya atau kulitnya masih mengilap. Insangnya berdarah merah segar. Matanya masih bening. Kalau sudah tidak sesuai dengan ciri-ciri tersebut berarti ikan itu ....

Frasa adjektiva yang tepat untuk melengkapi bagian rumpang tersebut adalah ....

A. sangat baru, sudah lembek, sudah busuk
B. masih baru, masih keras, sangat busuk
C. lebih baru, masih keras, sangat busuk
D. masih baru, masih keras, sudah busuk
E. sangat baru, masih lunak, sudah busuk


Soal Nomor 14

Soal Standar TKA – Level Dasar

Cermati teks berikut!

Perubahan ketetapan melalui peraturan pemerintah secara berkala lumrahnya mengundang pertanyaan di benak pelaku industri akan interperetasi undang-undang seperti apa yang dimulai paling ideal oleh pemerintah. Bukan apa-apa, inplikasi yang dibawa sebagai dampak dari kewajiban yang digarisbawahi oleh kata “dan” dan “atau” ini dapat menimbulkan perbedaan nilai inves hingga jutaan dolar AS yang harus ditanamkan pelaku industri.

Kata serapan yang tepat untuk memperbaiki kata yang bercetak miring adalah ....

A. berintepretasi, berimplikasi, investor
B. menginterpretasi, diimplikasi, investor
C. interfletasi, imflikasi, inpestasi
D. interpretasi, implikasi, investasi
E. berinterpretasi, implikasi, berinvestasi


Soal Nomor 15

Soal Standar TKA – Level HOTS

Perhatikan teks berikut dengan saksama!

Studi analisis [...] global yang dipimpin oleh Imperial College London dalam jurnal The Lancet meneliti tinggi dan berat anak usia sekolah di seluruh dunia. Studi ini menggunakan data 65 juta anak berusia 5 hingga 19 tahun di 193 negara dari tahun 1985 sampai 2019.

Studi tersebut mengungkap bahwa tinggi dan berat badan anak usia sekolah yang merupakan indikator kesehatan dan kualitas makanan mereka sangat bervariasi di seluruh dunia. Sebagai contoh, rata-rata anak perempuan yang berusia 19 tahun di Bangladesh dan Guatemala, negara dengan anak perempuan terpendek di dunia, memiliki tinggi yang sama dengan rata-rata anak perempuan berusia 11 tahun di Belanda, negara dengan anak perempuan tertinggi di dunia.

Kata yang tepat untuk mengisi rumpang pada frasa “analisis [...] global” dalam kalimat di atas adalah ....

A. fase
B. jangkauan
C. skala
D. cakupan
E. tingkat

21 Agustus 2026

Hal-Hal yang Terasa Aneh di Negeri Ini: Ketika Aturan, Sistem, dan Kenyataan Tidak Selalu Berjalan Bersama

Indonesia adalah negara besar dengan masyarakat yang beragam, sistem pemerintahan yang terus berkembang, serta berbagai upaya untuk memperbaiki pelayanan publik, pendidikan, dan tata kelola. Karena itu, tulisan ini tidak dimaksudkan untuk mengatakan bahwa segala sesuatu di Indonesia buruk.

Namun, ada sejumlah keadaan yang menarik untuk direnungkan. Beberapa bahkan terasa seperti paradoks: sesuatu yang secara aturan seharusnya berjalan dengan cara tertentu, tetapi dalam kehidupan sehari-hari dapat berlangsung dengan cara yang berbeda.

Apa saja hal yang terasa “aneh” itu?

1. Aturannya Ada, tetapi Pelaksanaannya Belum Selalu Sama

Indonesia sebenarnya tidak kekurangan aturan. Hampir setiap bidang memiliki undang-undang, peraturan, petunjuk teknis, standar operasional, hingga berbagai mekanisme pengawasan.

Masalahnya, keberadaan aturan belum otomatis menjamin pelayanan berjalan sebagaimana mestinya.

Ombudsman RI mencatat sekitar 10 ribu laporan masyarakat sepanjang 2025 dan memilih 29 praktik penanganan maladministrasi untuk dihimpun dalam Ombudsprudensi 2025. Dalam siaran pers peluncurannya, Ombudsman menyebut buku tersebut merangkum 29 praktik terpilih dari sekitar 10 ribu laporan yang diterima sepanjang 2025. (Sumber: Ombudsman RI, 13 Februari 2026)

Di Jawa Tengah, misalnya, Ombudsman RI Perwakilan Jawa Tengah dalam siaran pers Januari 2026 mencatat 644 laporan masyarakat sepanjang 2025. Substansi laporan terbanyak berkaitan dengan dugaan maladministrasi berupa penundaan berlarut, penyimpangan prosedur, dan tidak memberikan pelayanan, disertai pula dugaan penyalahgunaan wewenang dan permintaan imbalan. (Sumber: Ombudsman RI Perwakilan Jawa Tengah, 13 Januari 2026)

Di sinilah paradoksnya: prosedur dibuat agar pelayanan menjadi pasti, tetapi penyimpangan prosedur itu sendiri masih menjadi sesuatu yang dilaporkan masyarakat.

2. Pemerintahan Semakin Digital, tetapi Urusan Belum Tentu Semakin Sederhana

Transformasi digital pemerintah sebenarnya terus mengalami kemajuan. Kementerian PANRB menyatakan evaluasi SPBE 2024 dilakukan terhadap 615 instansi pusat dan pemerintah daerah. Hasilnya, indeks SPBE nasional mencapai 3,12 dari skala 5 dengan predikat baik, melampaui target RPJMN 2020–2024 sebesar 2,60. (Sumber: Kementerian PANRB, 6 Januari 2025)

Namun, digitalisasi tidak otomatis berarti penyederhanaan.

Sebuah pelayanan dapat berubah dari formulir kertas menjadi formulir daring, tetapi jika prosedurnya tetap panjang, aplikasi tidak terintegrasi, atau masyarakat masih harus mengulang informasi yang sama di berbagai tempat, yang berubah sebenarnya hanya medianya.

Kita harus membedakan antara mendigitalkan birokrasi dan menyederhanakan birokrasi.

Memindahkan kerumitan dari meja pelayanan ke layar telepon bukanlah transformasi yang sesungguhnya.

3. Administrasi Kadang Lebih Terlihat daripada Substansi

Dalam berbagai organisasi, dokumentasi memang diperlukan. Laporan, daftar hadir, foto kegiatan, formulir, dan bukti administrasi merupakan bagian penting dari akuntabilitas.

Persoalan muncul ketika alat pembuktian justru dianggap lebih penting daripada kegiatan yang dibuktikan.

Sebuah kegiatan yang bermanfaat tetapi dokumentasinya kurang lengkap dapat terlihat buruk secara administratif. Sebaliknya, kegiatan yang biasa saja dapat tampak sangat berhasil apabila laporan, foto, dan presentasinya tersusun sempurna.

Pada titik itu muncul pertanyaan sederhana:

Apakah kita sedang bekerja untuk menghasilkan dampak, atau bekerja untuk menghasilkan bukti bahwa kita telah bekerja?

Keduanya memang diperlukan. Namun urutannya jangan sampai terbalik.

4. Pendidikan Mengejar Nilai, tetapi Kemampuan Membaca Masih Menjadi Tantangan

Pendidikan mungkin menjadi salah satu contoh paradoks yang paling menarik.

Masyarakat Indonesia memberikan penghargaan tinggi terhadap pendidikan formal. Sekolah, ijazah, gelar, nilai, dan kelulusan mempunyai posisi penting dalam kehidupan sosial.

Namun, PISA 2022 Results: Country Notes—Indonesia yang diterbitkan OECD menunjukkan hanya sekitar 25 persen siswa Indonesia usia 15 tahun yang mencapai Level 2 atau lebih dalam kemampuan membaca, sedangkan rata-rata OECD mencapai 74 persen. Pada Level 2, siswa setidaknya mampu menemukan gagasan utama dalam teks dengan panjang sedang, menemukan informasi berdasarkan kriteria tertentu, serta merefleksikan tujuan dan bentuk teks ketika diarahkan. OECD juga mencatat sekitar 74,5 persen siswa Indonesia berada di bawah Level 2 dalam membaca. (Sumber: OECD, PISA 2022, Country Note: Indonesia)

Angka tersebut tentu tidak berarti bahwa anak Indonesia tidak mampu membaca. PISA mengukur kemampuan memahami, menggunakan, dan merefleksikan informasi dalam teks pada tingkat tertentu.

Tetapi data itu memberi pertanyaan penting:

Jangan-jangan kita terlalu lama mengukur keberhasilan pendidikan melalui nilai, kelulusan, dan dokumen, sementara kemampuan memahami informasi justru belum mendapatkan perhatian yang sebanding?

5. Guru Diminta Fokus kepada Murid, tetapi Sistem Juga Membutuhkan Banyak Data

Guru pada dasarnya adalah pendidik. Tugas utamanya berhubungan dengan manusia: mengajar, membimbing, mengamati perkembangan, memberi umpan balik, dan membantu siswa berkembang.

Namun pendidikan modern juga membutuhkan data, asesmen, perencanaan, dokumentasi, evaluasi, dan pelaporan.

Semua itu mempunyai fungsi.

Masalahnya bukan pada keberadaan administrasi, melainkan pada proporsinya.

Jika terlalu banyak energi pendidik terserap untuk membuktikan bahwa pembelajaran telah dilaksanakan, kita perlu bertanya apakah sistem tersebut masih membantu guru mengajar atau justru membuat guru lebih sibuk melayani sistem.

6. Pelayanan Publik Dibuat untuk Masyarakat, tetapi Masyarakat Masih Harus Mengadu tentang Pelayanan

Pada 2024, Ombudsman RI menerima 10.846 aduan masyarakat, meningkat dari 8.452 pada tahun sebelumnya atau sekitar 28 persen. Menurut Ombudsman, substansi yang paling banyak dilaporkan adalah agraria/pertanahan (17,17%), kepegawaian (12,45%), pendidikan (9,56%), perhubungan (6,68%), serta hak sipil dan politik (6,31%). Ombudsman sendiri menafsirkan peningkatan laporan tersebut antara lain sebagai tanda tumbuhnya kesadaran masyarakat untuk melapor. (Sumber: Ombudsman RI, 22 Januari 2025)

Jumlah pengaduan tentu tidak boleh dibaca secara sederhana sebagai bukti bahwa semua pelayanan publik buruk. Meningkatnya laporan juga dapat menunjukkan meningkatnya kesadaran masyarakat untuk menggunakan mekanisme pengawasan.

Namun keberadaan ribuan pengaduan tetap menunjukkan sesuatu yang penting: jarak antara standar pelayanan dan pengalaman masyarakat masih ada.

Dan justru di situlah fungsi kritik diperlukan.

7. Kita Sering Membuat Aturan Baru untuk Memperbaiki Aturan Lama

Ketika sebuah persoalan muncul, salah satu respons yang paling mudah adalah membuat ketentuan baru: surat edaran baru, aplikasi baru, formulir baru, mekanisme baru, atau prosedur baru.

Padahal persoalannya belum tentu karena tidak adanya aturan.

Bisa jadi aturan sebelumnya sudah cukup baik, tetapi pelaksanaannya tidak konsisten.

Akibatnya terjadi fenomena menarik: sistem semakin lengkap, tetapi sekaligus semakin kompleks.

Kadang yang kita perlukan bukan aturan tambahan, melainkan keberanian untuk bertanya:

Aturan yang sudah ada ini sebenarnya dijalankan atau tidak?

8. Kritik terhadap Kebijakan Kadang Dianggap Kritik terhadap Orangnya

Dalam kehidupan organisasi maupun masyarakat, kita juga masih sering kesulitan memisahkan gagasan, kebijakan, dan pribadi.

Ketika seseorang mengatakan sebuah kebijakan kurang tepat, pernyataan tersebut dapat dianggap sebagai serangan terhadap orang yang membuat kebijakan.

Padahal kritik terhadap kebijakan tidak selalu berarti permusuhan terhadap pembuatnya.

Budaya diskusi yang sehat justru membutuhkan kemampuan mengatakan:

“Saya menghormati Anda, tetapi saya tidak setuju dengan keputusan Anda.”

Dua hal tersebut dapat berjalan bersamaan.

9. Yang Ramai Lebih Cepat Mendapat Perhatian

Di era media sosial muncul fenomena lain: persoalan yang viral dapat memperoleh perhatian luar biasa cepat.

Sementara itu, persoalan serupa yang disampaikan melalui jalur biasa belum tentu memperoleh perhatian sebesar itu.

Tidak berarti setiap masalah di Indonesia hanya akan diselesaikan setelah viral. Pernyataan seperti itu terlalu berlebihan dan sulit dibuktikan secara nasional.

Namun fenomena tersebut layak direnungkan karena menciptakan insentif yang kurang sehat: masyarakat dapat merasa bahwa membuat kegaduhan lebih efektif daripada mengikuti prosedur.

Jika persepsi seperti itu semakin kuat, yang dirugikan justru lembaga formal itu sendiri.

10. Kita Hebat Membuat Sistem, Tantangannya Adalah Membuat Sistem Itu Hidup

Barangkali inilah benang merah dari berbagai keanehan tersebut.

Indonesia sebenarnya memiliki banyak sistem yang baik. Ada regulasi, lembaga pengawas, mekanisme pengaduan, transformasi digital, evaluasi pendidikan, serta berbagai program reformasi birokrasi.

Masalahnya sering berada pada jarak antara apa yang tertulis dan apa yang dialami.

Antara prosedur dan praktik.

Antara indikator dan dampak.

Antara laporan dan kenyataan.

Antara tujuan sebuah kebijakan dan apa yang akhirnya dirasakan masyarakat.

Penutup: Aneh Bukan Berarti Tidak Bisa Berubah

Tulisan ini bukan ajakan untuk menertawakan Indonesia, apalagi menganggap negara ini tidak mempunyai harapan.

Sebaliknya, kemampuan melihat kontradiksi merupakan bagian dari kedewasaan masyarakat.

Kita tidak harus membenci negara untuk mengkritik pelayanan publik. Kita tidak harus membenci sekolah untuk mempertanyakan sistem pendidikan. Kita juga tidak harus membenci pemerintah untuk mempertanyakan sebuah kebijakan.

Kritik yang sehat justru muncul karena kita percaya sesuatu masih dapat diperbaiki.

Mungkin persoalan terbesar kita bukan kekurangan aturan, kekurangan aplikasi, kekurangan program, atau kekurangan slogan.

Kita hanya perlu semakin berani memastikan bahwa semua itu benar-benar bekerja untuk manusia.

Sebab pada akhirnya, negara yang baik bukanlah negara yang mempunyai aturan paling banyak, melainkan negara yang aturan baiknya benar-benar terasa dalam kehidupan rakyatnya.


Catatan: Beberapa bagian tulisan ini merupakan refleksi dan interpretasi terhadap fenomena sosial, bukan klaim bahwa keadaan tersebut terjadi di seluruh Indonesia. Data digunakan pada bagian yang dapat diverifikasi untuk membedakan fakta dari pengamatan dan opini.

Sumber Data

  1. Ombudsman Republik Indonesia. “Ombudsman RI Luncurkan Buku Ombudsprudensi Tahun 2025, Himpun 29 Praktik Penanganan Maladministrasi dari 10 Ribu Laporan Masyarakat.” 13 Februari 2026.
  2. Ombudsman RI Perwakilan Jawa Tengah. “Ombudsman RI Jateng Catat 644 Laporan Masyarakat, Pendidikan dan Kepolisian Dominasi Aduan 2025.” 13 Januari 2026.
  3. Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi. “Indeks SPBE Nasional Meningkat, Menteri Rini: Penguatan Integrasi Pelayanan Publik Berbasis Digital.” 6 Januari 2025.
  4. OECD. PISA 2022 Results (Volume I and II) – Country Notes: Indonesia. 5 Desember 2023.
  5. Ombudsman Republik Indonesia. “Jumlah Laporan Masyarakat ke Ombudsman RI Meningkat.” 22 Januari 2025.

19 Agustus 2026

Gagasan Alfabet Bahasa Indonesia yang Lebih Fonemis



Bahasa Indonesia saat ini menggunakan 26 huruf alfabet Latin sebagaimana ditetapkan dalam Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD). Sistem tersebut telah berfungsi dengan baik dan menjadi standar resmi dalam pendidikan, pemerintahan, penerbitan, serta komunikasi masyarakat.

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menyatakan bahwa ejaan resmi sekarang salah dan bukan pula usulan kebijakan resmi. Tulisan ini merupakan sebuah eksperimen pemikiran: bagaimana jika alfabet bahasa Indonesia dirancang sedikit lebih fonemis, yaitu dengan membuat hubungan antara bunyi dan lambang tulis menjadi lebih langsung?

Dari pertanyaan tersebut lahirlah rancangan alternatif berikut:

A B C D É Ê F G H I J K L M N Ɲ Ŋ O P R S T U W Y Z

Dalam bentuk huruf kecil/kapitil:

a b c d é ê f g h i j k l m n ɲ ŋ o p r s t u w y z

Menariknya, rancangan ini tetap berjumlah 26 huruf, sama dengan alfabet bahasa Indonesia saat ini. Namun, komposisinya berbeda.

Dalam rancangan ini, Q, V, X, dan E tanpa diakritik tidak digunakan, sedangkan É, Ê, Ɲ, dan Ŋ diperlakukan sebagai huruf tersendiri.



Prinsip yang Digunakan

Rancangan ini menggunakan tiga gagasan sederhana:
  1. perbedaan bunyi yang dianggap penting dapat diberi lambang yang berbeda;
  2. satu bunyi yang sekarang ditulis dengan dua huruf dapat, jika dianggap bermanfaat, diberi satu grafem;
  3. huruf yang dalam sistem alternatif dianggap dapat digantikan tanpa kehilangan informasi bunyi dapat dikeluarkan.

Prinsip tersebut sengaja tidak diterapkan secara mutlak. Jika seluruh perbedaan bunyi harus mendapatkan lambang tersendiri, alfabet justru dapat menjadi terlalu rumit dan menjauh dari tujuan penyederhanaan.

Rancangan ini juga berfokus pada kebutuhan bahasa Indonesia, bukan untuk merepresentasikan seluruh sistem bunyi bahasa daerah di Indonesia.

1. Q, V, dan X dalam Rancangan Alternatif

Dalam ejaan resmi saat ini, Q, V, dan X tetap merupakan bagian dari 26 huruf alfabet bahasa Indonesia. Karena itu, penghilangan ketiganya dalam tulisan ini harus dipahami semata-mata sebagai pilihan dalam rancangan alternatif, bukan sebagai pernyataan bahwa ketiga huruf tersebut tidak sah atau tidak berguna dalam bahasa Indonesia baku.

Q → K

Dalam rancangan ini, Q digantikan oleh K apabila bunyi yang hendak dilambangkan memang /k/.

Cara tersebut mengutamakan pelafalan bahasa Indonesia dibandingkan dengan mempertahankan bentuk grafis bahasa sumber.

Dengan demikian, keberadaan Q tidak lagi diperlukan sebagai huruf tersendiri dalam alfabet alternatif ini.

V → F

Rancangan ini memilih F sebagai satu-satunya lambang pada pasangan F–V.

Pilihan tersebut merupakan bentuk penyederhanaan. Namun, konsekuensinya juga harus diakui: perbedaan antara /f/ dan /v/ yang dipertahankan dalam sejumlah kata atau pengucapan tidak lagi dibedakan secara grafis.

Karena itu, penghilangan V merupakan salah satu bagian rancangan yang paling terbuka untuk diperdebatkan.

X → KS

X tidak digunakan sebagai huruf tersendiri. Jika X melambangkan urutan bunyi /k/ dan /s/, penulisannya digantikan dengan KS.

Dengan demikian, penghilangan Q, V, dan X bukan didasarkan pada anggapan bahwa ketiganya merupakan huruf yang “salah”, melainkan pada pilihan untuk membuat sistem alternatif yang lebih hemat grafem.

2. É dan Ê untuk Membedakan Bunyi E

Salah satu persoalan menarik dalam tulisan bahasa Indonesia adalah huruf e, karena satu bentuk huruf tersebut dapat mewakili pengucapan yang berbeda.

Dalam rancangan alternatif ini, perbedaan tersebut dibuat eksplisit melalui dua huruf:

- É é untuk e taling;
- Ê ê untuk e pepet.

Dengan demikian, E/e tanpa tanda tidak digunakan lagi.

Tujuannya adalah memberikan informasi pengucapan secara langsung melalui tulisan sehingga pembaca tidak selalu harus menentukan pengucapan berdasarkan konteks.

Pembedaan tersebut juga membuat hubungan antara grafem dan bunyi menjadi lebih transparan.

Namun, penggunaan É dan Ê secara konsisten dalam seluruh tulisan merupakan konvensi rancangan alternatif ini, bukan ketentuan ejaan bahasa Indonesia yang berlaku sekarang.

3. NG → Ŋ

Dalam EYD, ng merupakan gabungan huruf konsonan yang digunakan untuk melambangkan satu bunyi konsonan /ŋ/. Penulisan ng tentu bukan kesalahan ataupun kekurangan dalam sistem ejaan bahasa Indonesia sekarang.

Namun, apabila prinsip yang digunakan adalah satu bunyi tertentu dapat diwakili oleh satu grafem, /ŋ/ dapat dilambangkan dengan:

Ŋ ŋ

Karakter tersebut telah tersedia dalam Unicode dan dikenal sebagai eng.

Contoh:

bunga → buŋa

datang → dataŋ

Dengan cara tersebut, satu bunyi /ŋ/ ditulis dengan satu grafem, bukan lagi gabungan dua huruf n dan g.

Keuntungannya adalah hubungan antara bunyi dan tulisan menjadi lebih langsung. Kekurangannya, masyarakat harus mempelajari bentuk huruf yang saat ini tidak digunakan dalam ejaan bahasa Indonesia baku.

4. NY → Ɲ

Prinsip yang sama diterapkan pada ny.

Dalam ejaan bahasa Indonesia sekarang, ny merupakan gabungan huruf konsonan yang digunakan untuk melambangkan bunyi /ɲ/.

Dalam rancangan alternatif, bunyi tersebut diberi satu grafem:

Ɲ ɲ

Contoh:

banyak → baɲak

nyanyi → ɲaɲi

Karakter Ɲ/ɲ telah tersedia dalam Unicode.

Dengan pilihan tersebut, sistem memperoleh tiga lambang nasal yang berbeda secara grafis:

N – Ɲ – Ŋ

atau dalam bentuk kecil:

n – ɲ – ŋ

Sekali lagi, penggunaan Ɲ bukan koreksi terhadap ny dalam ejaan yang berlaku sekarang. Ini hanyalah alternatif grafis apabila prinsip satu bunyi–satu grafem ingin diterapkan lebih jauh.

5. C, KH, dan SY Tetap Dipertahankan

Eksperimen ini tidak berusaha mengubah seluruh sistem tulisan bahasa Indonesia sekaligus.

Huruf C tetap dipertahankan.

Demikian pula kh dan sy tetap ditulis seperti sekarang.

Pertanyaan yang mungkin muncul adalah: jika ng dan ny diganti dengan satu grafem, mengapa kh dan sy tidak diperlakukan dengan cara yang sama?

Secara teoretis, keduanya tentu dapat saja diberi lambang tersendiri. Namun, rancangan ini sengaja memberikan batas agar perubahan tidak berkembang menjadi sistem fonetik yang terlalu kompleks.

Dengan kata lain, rancangan ini tidak mengejar kesempurnaan fonetik. Tujuannya hanya menguji beberapa perubahan yang dianggap dapat membuat hubungan antara bunyi dan tulisan lebih langsung tanpa merombak seluruh sistem.

Susunan Alfabet Alternatif

Jika seluruh keputusan tersebut diterapkan, alfabet alternatif bahasa Indonesia menjadi:

A B C D É Ê F G H I J K L M N Ɲ Ŋ O P R S T U W Y Z

Dalam bentuk huruf kecil:

a b c d é ê f g h i j k l m n ɲ ŋ o p r s t u w y z

Jumlah keseluruhannya tetap:

26 huruf

Perbedaannya dengan alfabet yang digunakan sekarang dapat diringkas sebagai berikut:

Bentuk dalam sistem sekarang| Bentuk dalam rancangan alternatif
Q| K
V| F
X| KS
E/e| tidak digunakan sebagai huruf tersendiri
e taling| É/é
e pepet| Ê/ê
ng /ŋ/| Ŋ/ŋ
ny /ɲ/| Ɲ/ɲ

Dengan demikian, perubahan komposisinya adalah:

Dikeluarkan: Q, V, X, E

Ditambahkan: É, Ê, Ɲ, Ŋ

Hasil akhirnya tetap 26 huruf, tetapi bukan lagi susunan A–Z yang sama dengan alfabet Latin bahasa Indonesia saat ini.

Mengapa Tidak Ada Ḍ dan Ṭ?

Dalam versi awal eksperimen ini, sempat dipertimbangkan penggunaan Ḍ/ḍ dan Ṭ/ṭ untuk melambangkan bunyi retrofleks /ɖ/ dan /ʈ/.

Setelah dipertimbangkan kembali, keduanya tidak dimasukkan.

Alasannya, rancangan ini dimaksudkan sebagai eksperimen alfabet bahasa Indonesia, bukan sebagai sistem yang harus mampu merepresentasikan seluruh perbedaan bunyi dalam bahasa-bahasa daerah Nusantara.

Memasukkan setiap perbedaan fonetis yang terdapat dalam bahasa daerah justru dapat membuat alfabet menjadi semakin kompleks.

Karena itu, D dan T tetap dipertahankan tanpa penambahan Ḍ dan Ṭ.

Keputusan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa prinsip fonemis dalam rancangan ini tidak diterapkan secara mutlak. Kesederhanaan dan fungsi praktis tetap menjadi pertimbangan.

Apa Keuntungannya?

Secara hipotetis, sistem seperti ini dapat membuat beberapa hubungan antara bunyi dan tulisan menjadi lebih transparan.

Pembedaan É–Ê memberikan informasi pengucapan yang lebih jelas. Sementara itu, Ŋ dan Ɲ membuat bunyi /ŋ/ dan /ɲ/ masing-masing memiliki satu grafem tersendiri.

Penghilangan Q, V, dan X juga mengurangi sejumlah huruf yang dalam rancangan ini dianggap dapat digantikan oleh huruf atau gabungan huruf lain.

Namun, keteraturan fonologis bukan satu-satunya ukuran baik atau buruknya suatu sistem tulisan.

Perubahan alfabet akan berpengaruh terhadap kebiasaan membaca dan menulis, papan ketik, bahan ajar, kamus, pengurutan alfabetis, pencarian digital, administrasi, basis data, penerbitan, serta berbagai sistem teknologi.

Karena itu, alfabet yang secara fonologis lebih teratur belum tentu otomatis lebih praktis bagi masyarakat.

Tetap 26 Huruf, tetapi Berbeda

Salah satu hal menarik dari rancangan ini justru bukan bertambah atau berkurangnya jumlah alfabet.

Jumlahnya tetap 26 huruf.

Yang berubah adalah komposisinya.

Empat bentuk dikeluarkan:

Q, V, X, E

dan empat bentuk lainnya masuk:

É, Ê, Ɲ, Ŋ

Perubahan tersebut menghasilkan alfabet yang mencoba memberikan hubungan lebih langsung antara tulisan dan pengucapan tanpa menambah jumlah keseluruhan huruf.

Hal ini menunjukkan bahwa pembaruan sistem tulisan tidak selalu harus berarti menambah banyak karakter baru. Sistem dapat disusun ulang dengan mempertimbangkan fungsi setiap grafem.

Sebuah Eksperimen, Bukan Pengganti EYD

Sejarah ejaan Indonesia memperlihatkan bahwa konvensi tulisan memang dapat berubah. Akan tetapi, perubahan ejaan tidak cukup hanya didasarkan pada pertimbangan keteraturan sistem.

Perubahan harus mempertimbangkan sejarah bahasa, variasi pengucapan, kemudahan belajar, penerimaan masyarakat, teknologi, hubungan dengan bahasa lain, serta fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa bersama bagi masyarakat dengan latar bahasa daerah yang sangat beragam.

Karena itu, rancangan alfabet ini lebih tepat dipandang sebagai eksperimen ortografis, bukan tuntutan untuk mengganti EYD atau alfabet bahasa Indonesia yang berlaku sekarang.

Pertanyaan yang hendak diajukan bukan:

“Apakah alfabet bahasa Indonesia sekarang salah?”

melainkan:

“Jika alfabet bahasa Indonesia dirancang kembali dengan memberi bobot lebih besar pada hubungan antara bunyi dan tulisan, seperti apakah bentuk yang cukup fonemis, sederhana, dan tetap praktis?”

Salah satu kemungkinan jawabannya adalah:

A B C D É Ê F G H I J K L M N Ɲ Ŋ O P R S T U W Y Z

Dua puluh enam huruf juga—tetapi dengan cara berpikir yang berbeda.

Kemungkinan lain tentu dapat dibuat, diperdebatkan, dan diuji. Justru di situlah nilai eksperimen ini: membuka ruang untuk membicarakan sistem tulisan bahasa Indonesia secara kritis tanpa harus menganggap sistem yang berlaku sekarang sebagai sesuatu yang salah.

4 Agustus 2026

MATERI BAHASA INDONESIA: INFOGRAFIK


A. Tujuan Pembelajaran

Setelah mempelajari materi ini, peserta didik diharapkan mampu:

  1. menjelaskan pengertian, tujuan, dan fungsi infografik;

  2. mengidentifikasi unsur-unsur infografik;

  3. membedakan berbagai jenis infografik;

  4. menemukan informasi tersurat dan tersirat dalam infografik;

  5. menilai ketepatan data, bahasa, dan tampilan infografik;

  6. menyimpulkan isi infografik secara tepat;

  7. mengubah teks atau data menjadi infografik; dan

  8. mempresentasikan infografik secara logis dan komunikatif.

      
      Contoh Infografik:

B. Pengertian Infografik

Kata infografik merupakan gabungan dari kata informasi dan grafik. Infografik adalah penyajian informasi, data, pengetahuan, atau gagasan dalam bentuk visual agar dapat dipahami secara cepat dan mudah.

Infografik biasanya memadukan:

  • teks singkat;

  • angka atau data;

  • gambar;

  • ikon;

  • diagram;

  • grafik;

  • peta;

  • garis waktu; dan

  • unsur warna.

Dengan demikian, infografik bukan sekadar gambar yang diberi tulisan. Infografik harus menyampaikan informasi yang benar, terstruktur, dan mudah dipahami.

Rumus sederhana infografik

Informasi yang akurat + visual yang tepat + bahasa yang ringkas = infografik yang efektif


C. Perbedaan Infografik dan Infografis

Dalam pemakaian sehari-hari, istilah infografik dan infografis sering digunakan dengan makna yang sama. Namun, keduanya dapat dibedakan sebagai berikut.

IstilahPengertian
Infografik                                          Produk atau media visual yang menyajikan informasi
Infografis                                          Berkaitan dengan penyajian informasi secara grafis

Contoh:

  • Sekolah menerbitkan sebuah infografik tentang bahaya perundungan.

  • Data tersebut disajikan secara infografis agar mudah dipahami.

Dalam materi ini, istilah yang digunakan adalah infografik karena merujuk pada produk atau media informasinya.


D. Tujuan Infografik

Infografik dibuat dengan beberapa tujuan berikut.

1. Menyederhanakan informasi

Informasi yang panjang dan rumit dapat diringkas menjadi bagian-bagian penting.

2. Mempercepat pemahaman

Pembaca dapat menangkap gagasan utama melalui perpaduan teks dan visual.

3. Menarik perhatian

Warna, gambar, ikon, dan susunan visual dapat mendorong pembaca untuk memperhatikan informasi.

4. Menampilkan hubungan antardata

Infografik dapat memperlihatkan perbandingan, perkembangan, urutan, atau hubungan sebab-akibat.

5. Membantu mengingat informasi

Informasi visual umumnya lebih mudah diingat daripada uraian panjang.

6. Mengajak pembaca melakukan sesuatu

Beberapa infografik memuat imbauan atau ajakan, misalnya menghemat air, menjaga kebersihan, atau menghindari perundungan.


E. Fungsi Infografik

Berdasarkan penggunaannya, infografik memiliki beberapa fungsi.

1. Fungsi informatif

Menyampaikan fakta, data, atau pengetahuan kepada pembaca.

Contoh: infografik hasil sensus penduduk.

2. Fungsi edukatif

Membantu pembaca mempelajari suatu konsep atau proses.

Contoh: infografik proses terjadinya hujan.

3. Fungsi persuasif

Mengajak atau memengaruhi pembaca agar melakukan sesuatu.

Contoh: infografik ajakan mengurangi sampah plastik.

4. Fungsi instruktif

Memberikan petunjuk melakukan suatu kegiatan.

Contoh: infografik langkah mencuci tangan.

5. Fungsi publikasi

Menyebarluaskan informasi tentang kegiatan, program, atau kebijakan.

Contoh: infografik jadwal penerimaan peserta didik baru.


F. Ciri-Ciri Infografik

Infografik yang baik memiliki ciri-ciri berikut.

  1. Memuat informasi yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan.

  2. Memiliki topik atau tujuan yang jelas.

  3. Mengutamakan informasi penting.

  4. Menggunakan teks yang singkat dan padat.

  5. Menggunakan visual yang sesuai dengan informasi.

  6. Memiliki susunan informasi yang runtut.

  7. Menggunakan ukuran huruf yang mudah dibaca.

  8. Menggunakan warna secara konsisten.

  9. Mencantumkan sumber data.

  10. Sesuai dengan karakteristik pembaca sasaran.


G. Unsur-Unsur Infografik

1. Judul

Judul menunjukkan topik utama infografik. Judul harus singkat, jelas, menarik, dan mewakili isi.

Contoh:

  • Kenali Bahaya Perundungan

  • Lima Langkah Menghemat Energi

  • Perkembangan Pengguna Internet di Indonesia

2. Subjudul

Subjudul memberikan penjelasan tambahan mengenai judul.

Contoh:

Kebiasaan sederhana yang dapat dilakukan setiap hari di sekolah.

3. Teks informasi

Teks digunakan untuk menjelaskan fakta, data, konsep, atau langkah-langkah. Teks dalam infografik sebaiknya tidak terlalu panjang.

4. Data dan fakta

Data dapat berupa angka, persentase, jumlah, hasil penelitian, atau perbandingan.

Contoh:

Sebanyak 70% peserta didik membawa botol minum sendiri.

Data harus benar dan disertai sumber.

5. Gambar atau ilustrasi

Gambar membantu menjelaskan informasi dan menarik perhatian pembaca. Gambar harus berkaitan dengan topik, bukan sekadar hiasan.

6. Ikon atau simbol

Ikon mewakili objek atau gagasan tertentu.

Contoh:

  • ikon tempat sampah melambangkan pengelolaan sampah;

  • ikon buku melambangkan pendidikan;

  • ikon tetes air melambangkan penggunaan air.

7. Grafik atau diagram

Grafik digunakan untuk menampilkan data kuantitatif.

Bentuk visualKegunaan
Diagram batangMembandingkan beberapa kategori
Diagram garisMenunjukkan perubahan dari waktu ke waktu
Diagram lingkaranMenunjukkan bagian dari keseluruhan
PiktogramMenyajikan jumlah dengan simbol atau gambar
TabelMenampilkan data secara terperinci
PetaMenunjukkan informasi berdasarkan wilayah

8. Warna

Warna berfungsi untuk:

  • membedakan bagian informasi;

  • menegaskan informasi penting;

  • membangun suasana;

  • memperkuat identitas visual.

Penggunaan warna yang berlebihan justru dapat mengganggu pembaca.

9. Tata letak

Tata letak merupakan pengaturan posisi judul, teks, data, dan gambar. Tata letak harus mengarahkan pembaca mengikuti urutan informasi secara mudah.

10. Sumber informasi

Sumber menunjukkan asal data atau informasi. Unsur ini sangat penting untuk menjamin kredibilitas infografik.

Contoh:

Sumber: Badan Pusat Statistik, 2025.

11. Identitas pembuat

Identitas dapat berupa nama pembuat, lembaga, logo, atau alamat situs.


H. Jenis-Jenis Infografik Berdasarkan Isi

1. Infografik statistik

Infografik statistik menonjolkan angka, persentase, grafik, dan hasil penelitian.

Contoh: data jumlah pengunjung perpustakaan selama satu tahun.

2. Infografik informasi

Infografik informasi menjelaskan suatu topik atau konsep secara umum.

Contoh: pengertian, ciri, dan dampak perubahan iklim.

3. Infografik proses

Infografik proses menjelaskan tahapan melakukan atau terjadinya sesuatu.

Contoh: proses pembuatan kompos.

4. Infografik kronologis

Infografik kronologis menyajikan peristiwa berdasarkan urutan waktu. Jenis ini sering disebut infografik lini masa atau timeline.

Contoh: rangkaian peristiwa Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

5. Infografik perbandingan

Infografik perbandingan menunjukkan persamaan atau perbedaan dua objek atau lebih.

Contoh: perbandingan buku cetak dan buku digital.

6. Infografik geografis

Infografik geografis menampilkan informasi berdasarkan lokasi atau wilayah dengan menggunakan peta.

Contoh: persebaran gunung api di Indonesia.

7. Infografik hierarkis

Infografik hierarkis menunjukkan tingkatan, urutan kedudukan, atau klasifikasi.

Contoh: struktur organisasi OSIS.

8. Infografik daftar

Infografik daftar menyajikan sejumlah informasi penting dalam bentuk butir-butir.

Contoh: tujuh cara menjaga kesehatan mental.

9. Infografik sebab-akibat

Infografik ini menunjukkan hubungan antara penyebab dan akibat suatu peristiwa.

Contoh: penyebab dan dampak pencemaran udara.


I. Jenis Infografik Berdasarkan Media

1. Infografik statis

Infografik statis berupa gambar yang tidak bergerak. Jenis ini dapat dicetak atau dibagikan melalui media digital.

Format yang umum digunakan adalah JPG, PNG, dan PDF.

2. Infografik animasi

Infografik animasi memadukan gambar bergerak, teks, suara, atau musik. Jenis ini biasanya berbentuk video.

3. Infografik interaktif

Infografik interaktif memungkinkan pembaca memilih, menekan, atau menggerakkan bagian tertentu untuk memperoleh informasi tambahan.

Contoh: peta digital yang menampilkan data ketika suatu wilayah dipilih.


J. Prinsip-Prinsip Infografik yang Baik

1. Akurat

Data harus benar, mutakhir, dan berasal dari sumber tepercaya. Jangan mengubah skala grafik untuk menggiring pembaca pada kesimpulan tertentu.

2. Relevan

Setiap teks, gambar, dan ikon harus mendukung topik. Hiasan yang tidak relevan sebaiknya dihilangkan.

3. Ringkas

Infografik hanya memuat informasi yang paling penting. Uraian panjang perlu diringkas tanpa mengubah makna.

4. Jelas

Pilihan kata, bentuk grafik, dan urutan informasi harus mudah dipahami oleh sasaran pembaca.

5. Hierarkis

Informasi diatur berdasarkan tingkat kepentingannya. Judul biasanya paling menonjol, diikuti data utama dan informasi pendukung.

6. Konsisten

Jenis huruf, warna, ikon, dan gaya visual digunakan secara konsisten.

7. Seimbang

Komposisi teks dan gambar harus proporsional. Infografik tidak boleh terlalu penuh atau terlalu kosong.

8. Menarik

Tampilan visual harus mampu menarik perhatian tanpa mengurangi kejelasan informasi.

9. Terbaca

Ukuran dan warna huruf harus memungkinkan teks dibaca dengan mudah.

10. Etis

Pembuat infografik harus:

  • mencantumkan sumber;

  • tidak memanipulasi data;

  • tidak menggunakan karya orang lain tanpa izin;

  • tidak menyebarkan informasi palsu;

  • tidak menampilkan informasi yang diskriminatif; dan

  • menjaga data pribadi.


K. Penggunaan Bahasa dalam Infografik

Bahasa infografik harus efektif karena ruang penyajiannya terbatas.

Ciri kebahasaan infografik

  1. Menggunakan kata baku.

  2. Menggunakan kalimat efektif.

  3. Mengutamakan kata kunci.

  4. Menggunakan istilah sesuai bidangnya.

  5. Menghindari kalimat yang bermakna ganda.

  6. Menggunakan angka atau persentase secara tepat.

  7. Menggunakan kata kerja tindakan dalam infografik petunjuk.

  8. Menggunakan kalimat persuasif dalam infografik ajakan.

  9. Menggunakan ejaan dan tanda baca secara benar.

  10. Menyesuaikan bahasa dengan pembaca sasaran.

Contoh peringkasan kalimat

Kalimat panjang:

Para peserta didik diharapkan untuk selalu membuang sampah pada tempat yang telah disediakan oleh pihak sekolah.

Kalimat infografik:

Buanglah sampah pada tempatnya!

Atau:

Pilah dan buang sampah sesuai jenisnya.

Contoh kalimat persuasif

  • Mari kurangi penggunaan plastik sekali pakai!

  • Lindungi data pribadimu!

  • Hentikan perundungan mulai sekarang!

  • Bawa botol minum sendiri!

Contoh kalimat instruktif

  • Pisahkan sampah organik dan anorganik.

  • Matikan lampu setelah digunakan.

  • Periksa kebenaran informasi sebelum membagikannya.

  • Cuci tangan dengan sabun selama 20 detik.


L. Pola Penyajian Informasi

1. Umum–khusus

Informasi dimulai dengan gagasan umum, kemudian dijelaskan dengan rincian.

2. Khusus–umum

Infografik menyajikan sejumlah fakta terlebih dahulu, kemudian diakhiri dengan kesimpulan.

3. Kronologis

Informasi disusun berdasarkan urutan waktu.

4. Prosedural

Informasi disusun berdasarkan tahapan kegiatan.

5. Sebab–akibat

Informasi menjelaskan penyebab dan dampak.

6. Perbandingan

Informasi menunjukkan persamaan dan perbedaan beberapa objek.

7. Masalah–solusi

Informasi dimulai dengan masalah, kemudian diikuti alternatif penyelesaiannya.


M. Cara Membaca dan Memahami Infografik

Infografik tidak cukup dibaca dari teksnya saja. Pembaca harus menghubungkan unsur verbal dan visual.

Langkah-langkah membaca infografik

1. Membaca judul

Judul membantu mengenali topik dan arah pembahasan.

2. Mengenali tujuan

Tentukan apakah infografik bertujuan memberikan informasi, menjelaskan proses, membandingkan, atau mengajak pembaca.

3. Mengamati sumber

Periksa lembaga, tahun penerbitan, dan sumber data.

4. Menemukan data utama

Perhatikan angka, persentase, warna mencolok, ukuran huruf, dan bagian yang ditempatkan secara dominan.

5. Mengikuti alur informasi

Ikuti urutan panah, nomor, kolom, garis waktu, atau pembagian bagian.

6. Menghubungkan teks dan visual

Tentukan hubungan gambar, simbol, grafik, dan tulisan.

7. Membandingkan data

Jika terdapat beberapa kategori, tentukan data tertinggi, terendah, sama, meningkat, atau menurun.

8. Menarik kesimpulan

Simpulkan keseluruhan informasi, bukan hanya menyalin salah satu data.

9. Menilai kredibilitas

Pastikan data logis, sumbernya jelas, dan penyajiannya tidak menyesatkan.


N. Informasi Tersurat dan Tersirat

1. Informasi tersurat

Informasi tersurat dinyatakan secara langsung dalam infografik.

Contoh data:

Penggunaan botol plastik berkurang 30%.

Informasi tersuratnya adalah penggunaan botol plastik mengalami penurunan sebesar 30%.

2. Informasi tersirat

Informasi tersirat tidak dituliskan secara langsung, tetapi diperoleh melalui penalaran terhadap data.

Jika penggunaan botol plastik berkurang setelah program membawa botol minum diterapkan, dapat disimpulkan bahwa program tersebut membantu mengurangi sampah plastik.

Kesimpulan tersirat harus tetap didukung oleh informasi yang tersedia. Jangan membuat kesimpulan yang melampaui data.


O. Menentukan Ide Pokok Infografik

Ide pokok adalah gagasan utama yang menjadi dasar seluruh informasi.

Cara menentukan ide pokok:

  1. baca judul;

  2. amati informasi yang paling dominan;

  3. perhatikan data yang berulang;

  4. tentukan hubungan antarbagian;

  5. rumuskan dalam satu kalimat umum.

Contoh

Judul: Kurangi Sampah Plastik di Sekolah

Isi:

  • membawa botol minum;

  • menggunakan kotak makan;

  • menolak sedotan plastik;

  • memilah sampah;

  • menggunakan kembali barang yang masih layak.

Ide pokok:

Berbagai tindakan yang dapat dilakukan untuk mengurangi sampah plastik di sekolah.


P. Menyimpulkan Isi Infografik

Kesimpulan harus:

  • mencakup informasi utama;

  • sesuai dengan data;

  • tidak menambahkan opini pribadi;

  • disampaikan secara ringkas; dan

  • menggunakan kalimat sendiri.

Contoh data

Tahun             Pengunjung perpustakaan
20232.500 orang
20243.100 orang
20254.000 orang

Kesimpulan yang tepat:

Jumlah pengunjung perpustakaan meningkat secara konsisten dari 2023 hingga 2025.

Kesimpulan yang tidak tepat:

Perpustakaan tersebut pasti menjadi perpustakaan terbaik di Indonesia.

Kesimpulan kedua tidak tepat karena tidak didukung oleh data.


Q. Menilai Kualitas Infografik

Kualitas infografik dapat dinilai dari tiga aspek utama.

1. Aspek isi

  • Apakah informasi sesuai dengan topik?

  • Apakah data akurat?

  • Apakah sumber dicantumkan?

  • Apakah kesimpulan sesuai dengan data?

  • Apakah informasi masih relevan?

2. Aspek bahasa

  • Apakah menggunakan kata baku?

  • Apakah kalimatnya efektif?

  • Apakah terdapat kesalahan ejaan?

  • Apakah istilah mudah dipahami?

  • Apakah teks cukup ringkas?

3. Aspek visual

  • Apakah tulisan mudah dibaca?

  • Apakah warna digunakan secara tepat?

  • Apakah ikon sesuai dengan maknanya?

  • Apakah grafik menggunakan skala yang benar?

  • Apakah tata letaknya runtut?

  • Apakah tampilan tidak terlalu padat?


R. Waspadai Infografik yang Menyesatkan

Tampilan menarik tidak menjamin kebenaran informasi. Infografik dapat menyesatkan jika:

  1. tidak mencantumkan sumber;

  2. menggunakan sumber yang tidak kredibel;

  3. memotong data secara tidak utuh;

  4. menggunakan grafik tanpa skala;

  5. memperbesar atau memperkecil gambar secara tidak proporsional;

  6. mencampurkan fakta dan opini;

  7. menggunakan data yang sudah kedaluwarsa;

  8. menampilkan persentase tanpa menjelaskan jumlah sampel;

  9. menggunakan judul sensasional yang tidak sesuai dengan isi;

  10. menyimpulkan hubungan sebab-akibat hanya berdasarkan kebetulan.

Contoh manipulasi grafik

Data sebenarnya:

  • Kelas A: 80

  • Kelas B: 85

Jika sumbu grafik dimulai dari angka 79, perbedaan keduanya akan terlihat sangat besar. Padahal selisih sebenarnya hanya lima poin.

Karena itu, pembaca harus memeriksa:

  • titik awal sumbu;

  • satuan data;

  • rentang waktu;

  • jumlah responden;

  • sumber data; dan

  • konteks pengambilan data.


S. Langkah-Langkah Membuat Infografik

1. Menentukan tujuan

Tentukan pesan yang ingin disampaikan.

Contoh:

Mengajak peserta didik mengurangi sampah plastik.

2. Menentukan sasaran pembaca

Bahasa dan desain untuk peserta didik sekolah dasar tentu berbeda dari desain untuk masyarakat umum.

3. Menentukan topik

Pilih topik yang spesifik.

Terlalu luas:

Lingkungan

Lebih terarah:

Cara Mengurangi Sampah Plastik di Sekolah

4. Mengumpulkan informasi

Gunakan sumber yang dapat dipercaya, seperti:

  • buku;

  • jurnal;

  • situs lembaga pemerintah;

  • laporan penelitian;

  • hasil survei; dan

  • wawancara dengan narasumber yang kompeten.

5. Memeriksa kebenaran data

Bandingkan informasi dari beberapa sumber. Catat nama sumber, tahun, dan alamat laman jika data diperoleh dari internet.

6. Menyeleksi informasi

Pilih fakta yang benar-benar mendukung tujuan. Jangan memasukkan seluruh informasi yang ditemukan.

7. Menentukan jenis infografik

Sesuaikan bentuk dengan informasi.

Informasi         Bentuk yang tepat
Perubahan jumlah dari tahun ke tahun         Grafik garis
Perbandingan beberapa kelompok         Diagram batang
Bagian dari keseluruhan         Diagram lingkaran
Rangkaian peristiwa         Garis waktu
Tahapan kegiatan         Diagram proses
Persebaran wilayah         Peta
Persamaan dan perbedaan         Infografik perbandingan

8. Membuat kerangka

Susun urutan:

  1. judul;

  2. pengantar singkat;

  3. data atau informasi utama;

  4. penjelasan pendukung;

  5. kesimpulan atau ajakan;

  6. sumber.

9. Membuat sketsa tata letak

Tentukan posisi setiap unsur sebelum mendesain.

10. Memilih unsur visual

Pilih warna, jenis huruf, ikon, gambar, dan grafik yang sesuai dengan topik.

11. Menulis teks

Gunakan kalimat singkat, efektif, dan mudah dipahami.

12. Membuat desain

Infografik dapat dibuat menggunakan aplikasi desain, presentasi, atau pengolah grafis.

13. Menyunting

Periksa kembali:

  • ketepatan data;

  • kelengkapan sumber;

  • ejaan;

  • keterbacaan;

  • konsistensi warna;

  • urutan informasi; dan

  • kesesuaian visual.

14. Mempublikasikan

Simpan dalam ukuran dan format yang sesuai dengan media publikasi.


T. Contoh Kerangka Infografik

Judul

Lima Cara Menghemat Listrik di Sekolah

Pengantar

Penggunaan energi secara bijak dapat mengurangi pemborosan dan menjaga lingkungan.

Isi utama

  1. Matikan lampu saat ruangan tidak digunakan.

  2. Manfaatkan cahaya matahari pada siang hari.

  3. Cabut pengisi daya setelah digunakan.

  4. Matikan komputer sebelum meninggalkan ruangan.

  5. Gunakan perangkat hemat energi.

Penutup

Hemat energi dimulai dari kebiasaan sederhana.

Sumber

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.


U. Mengubah Teks Menjadi Infografik

Teks sumber

Sampah plastik membutuhkan waktu yang sangat lama untuk terurai. Penggunaan botol minum, kantong belanja, dan wadah makanan yang dapat digunakan kembali merupakan beberapa cara mengurangi sampah plastik. Sekolah juga dapat menyediakan tempat sampah terpilah dan melaksanakan kegiatan pengumpulan sampah untuk didaur ulang.

Hasil pemetaan informasi

Bagian                Isi
Topik                                   Pengurangan sampah plastik
Masalah                                   Plastik sulit terurai
Solusi 1                                   Membawa botol minum
Solusi 2                                   Menggunakan kantong belanja pakai ulang
Solusi 3                                   Membawa wadah makanan
Solusi 4                                   Menyediakan tempat sampah terpilah
Solusi 5                                   Mendaur ulang sampah
Ajakan                                   Kurangi plastik mulai hari ini

Judul infografik

Kurangi Sampah Plastik Mulai dari Sekolah

Penyajian tersebut lebih ringkas daripada teks asal, tetapi tidak mengubah informasi pentingnya.


V. Mempresentasikan Infografik

Presentasi infografik tidak dilakukan dengan membaca seluruh tulisan. Penyaji harus menjelaskan hubungan antarbagian.

Struktur presentasi:

  1. menyampaikan topik dan tujuan;

  2. menjelaskan sumber data;

  3. menunjukkan data utama;

  4. menjelaskan hubungan antarunsur;

  5. menyampaikan kesimpulan; dan

  6. memberikan rekomendasi jika diperlukan.

Contoh pembukaan:

Infografik ini membahas upaya mengurangi sampah plastik di sekolah. Data dan informasi diperoleh dari sumber yang tercantum pada bagian bawah infografik.

Contoh penutup:

Berdasarkan informasi tersebut, pengurangan sampah plastik dapat dimulai melalui perubahan kebiasaan sederhana, terutama dengan membawa botol minum dan wadah makanan sendiri.


W. Rangkuman

  1. Infografik adalah penyajian informasi atau data dalam bentuk visual.

  2. Infografik memadukan teks, gambar, ikon, warna, grafik, dan tata letak.

  3. Tujuan utamanya adalah menyampaikan informasi secara cepat, jelas, dan menarik.

  4. Jenis infografik antara lain statistik, proses, kronologis, perbandingan, geografis, hierarkis, dan sebab-akibat.

  5. Infografik yang baik harus akurat, relevan, ringkas, terbaca, konsisten, dan mencantumkan sumber.

  6. Memahami infografik memerlukan kemampuan menghubungkan unsur teks dengan unsur visual.

  7. Kesimpulan harus didasarkan pada keseluruhan data dan tidak boleh melampaui informasi.

  8. Pembaca perlu mewaspadai manipulasi data, grafik, gambar, dan judul.

  9. Pembuatan infografik dimulai dari menentukan tujuan hingga melakukan penyuntingan.

  10. Keindahan visual harus mendukung informasi, bukan menutupi kelemahan data.


X. Latihan Pemahaman

Bacaan untuk Soal 1–5

Perhatikan deskripsi infografik berikut.

Kunjungan Perpustakaan Tunas Cendekia

Tahun                   Jumlah kunjungan
20222.000
20232.500
20243.500
20253.200

Keterangan tambahan:

  • Program literasi pagi dimulai pada 2023.

  • Pojok baca digital dibuka pada 2024.

  • Pada 2025, perpustakaan ditutup selama satu bulan untuk perbaikan.

  • Sumber: Laporan Perpustakaan SMA Cendekia, 2025.

Soal 1

Informasi utama yang disampaikan dalam infografik tersebut adalah ....

A. proses pembangunan perpustakaan sekolah
B. perkembangan jumlah kunjungan perpustakaan
C. jenis buku yang disukai peserta didik
D. penyebab kerusakan ruang perpustakaan
E. perbandingan perpustakaan beberapa sekolah

Soal 2

Peningkatan jumlah kunjungan terbesar terjadi pada periode ....

A. 2022–2023
B. 2023–2024
C. 2024–2025
D. 2022–2024
E. 2023–2025

Soal 3

Simpulan yang paling tepat berdasarkan data tersebut adalah ....

A. Jumlah kunjungan selalu meningkat setiap tahun.
B. Pojok baca digital menyebabkan perpustakaan ditutup.
C. Program literasi gagal meningkatkan jumlah kunjungan.
D. Kunjungan meningkat hingga 2024, lalu menurun pada 2025.
E. Penurunan kunjungan terjadi karena koleksi buku berkurang.

Soal 4

Pernyataan yang berupa informasi tersurat adalah ....

A. Peserta didik lebih menyukai buku digital daripada buku cetak.
B. Program literasi merupakan satu-satunya penyebab peningkatan kunjungan.
C. Pojok baca digital dibuka pada 2024.
D. Perpustakaan sekolah tersebut merupakan yang terbaik.
E. Perbaikan perpustakaan tidak disukai peserta didik.

Soal 5

Penurunan kunjungan pada 2025 perlu ditafsirkan secara hati-hati karena ....

A. data tahun 2022 tidak dapat dibandingkan
B. jumlah peserta didik tidak dicantumkan
C. perpustakaan sempat ditutup untuk perbaikan
D. program literasi dihentikan pada tahun tersebut
E. sumber data berasal dari lembaga luar sekolah


Soal 6–10

Soal 6

Unsur yang paling menentukan kredibilitas sebuah infografik adalah ....

A. variasi warna
B. ukuran ilustrasi
C. bentuk huruf
D. sumber data
E. jumlah ikon

Soal 7

Jenis infografik yang paling tepat untuk menjelaskan tahapan pendaftaran sekolah adalah ....

A. geografis
B. prosedural
C. statistik
D. perbandingan
E. hierarkis

Soal 8

Kalimat yang paling efektif untuk digunakan dalam infografik adalah ....

A. Para siswa semuanya diharapkan agar supaya membawa botol minum sendiri.
B. Membawa botol minum sendiri merupakan suatu hal yang harus dilaksanakan siswa.
C. Bawalah botol minum sendiri untuk mengurangi sampah plastik!
D. Semua siswa-siswa harus membawa botol minumnya sendiri-sendiri.
E. Dalam rangka pengurangan sampah, botol minum hendaknya dibawa oleh siswa.

Soal 9

Diagram garis paling tepat digunakan untuk menyajikan ....

A. tahapan membuat kompos
B. struktur organisasi sekolah
C. persebaran penduduk antarpulau
D. perubahan suhu selama sepekan
E. bagian-bagian sistem pencernaan

Soal 10

Sebuah infografik menyatakan bahwa 90% responden menyukai pembelajaran digital, tetapi tidak mencantumkan jumlah dan karakteristik responden. Kelemahan utama infografik tersebut adalah ....

A. ilustrasinya kurang beragam
B. pilihan warnanya terlalu sederhana
C. data tidak memiliki konteks yang memadai
D. judulnya menggunakan kalimat pendek
E. persentasenya tidak boleh ditampilkan

Kunci Jawaban

  1. B

  2. B

  3. D

  4. C

  5. C

  6. D

  7. B

  8. C

  9. D

  10. C


Y. Tugas Individu

Buatlah sebuah infografik bertema salah satu hal berikut.

  1. Bijak menggunakan media sosial

  2. Pencegahan perundungan

  3. Gerakan literasi sekolah

  4. Pengurangan sampah plastik

  5. Dampak kecerdasan buatan dalam pendidikan

Ketentuan:

  • menggunakan minimal dua sumber tepercaya;

  • memuat judul, informasi utama, visual, dan sumber;

  • menggunakan bahasa Indonesia baku;

  • tidak memuat lebih dari 250 kata;

  • memiliki alur informasi yang jelas;

  • dibuat dalam ukuran vertikal;

  • dikumpulkan dalam format PNG, JPG, atau PDF.


Z. Rubrik Penilaian Infografik

Aspek              Bobot
Ketepatan dan kelengkapan informasi30
Kejelasan struktur informasi20
Ketepatan bahasa dan ejaan15
Kesesuaian visual dengan isi15
Kreativitas dan keterbacaan desain10
Kelengkapan serta kredibilitas sumber10
Jumlah100

Pedoman penilaian

  • 86–100: sangat baik

  • 76–85: baik

  • 66–75: cukup

  • ≤65: perlu perbaikan

Materi ini selaras dengan keterampilan literasi informasi, yaitu menemukan informasi, menafsirkan data, menyusun inferensi, serta mengevaluasi isi dan unsur visual. Kemampuan tersebut juga digunakan dalam asesmen membaca yang melibatkan grafik, gambar, dan tabel. 

3 Agustus 2026

KEY ARGUE

Kunci Jawaban:

  1. C
  2. A
  3. E
  4. B
  5. D
  6. B
  7. D
  8. A
  9. E
  10. C
  11. E
  12. C
  13. B
  14. D
  15. A


Sumber berita : klik di sini!

LATIHAN SOAL TEKS ARGUMENTASI TINGKAT LANJUT

Soal Bahasa Indonesia Kelas XI

Materi Teks Argumentasi – Tingkat Lanjut

Petunjuk: Pilihlah satu jawaban yang paling tepat.


Bacaan untuk Soal Nomor 1–5

Otomatisasi dan Masa Depan Pekerjaan

Kekhawatiran bahwa otomatisasi akan menghilangkan sebagian besar pekerjaan manusia tidak sepenuhnya keliru, tetapi sering disampaikan tanpa mempertimbangkan perubahan struktur pekerjaan. Mesin memang mampu menggantikan pekerjaan yang bersifat rutin dan berulang. Namun, pada saat yang sama, perkembangan teknologi juga melahirkan jenis pekerjaan baru yang sebelumnya tidak dikenal. Dengan demikian, persoalan utama bukan sekadar berkurangnya pekerjaan, melainkan ketidaksesuaian antara keterampilan tenaga kerja dan kebutuhan industri.

Anggapan bahwa setiap pekerja harus menguasai pemrograman juga terlalu menyederhanakan persoalan. Dunia kerja tetap membutuhkan kemampuan berkomunikasi, berpikir kritis, bekerja sama, dan memecahkan masalah. Keterampilan teknis memang penting, tetapi nilainya akan berkurang jika tidak disertai kemampuan menilai situasi dan beradaptasi terhadap perubahan.

Oleh karena itu, pemerintah dan lembaga pendidikan perlu mengembangkan sistem pembelajaran yang lebih lentur. Program pelatihan tidak cukup hanya diberikan sebelum seseorang memasuki dunia kerja, tetapi harus tersedia sepanjang perjalanan kariernya. Tanpa kebijakan tersebut, otomatisasi berpotensi memperlebar kesenjangan antara pekerja yang mampu beradaptasi dan pekerja yang tertinggal.

1. Inti argumentasi penulis dalam bacaan tersebut adalah …

A. Otomatisasi harus dibatasi karena menghilangkan pekerjaan manusia.
B. Pemrograman harus menjadi kemampuan utama seluruh tenaga kerja.
C. Dampak otomatisasi perlu dihadapi melalui pengembangan keterampilan yang berkelanjutan.
D. Kemampuan berkomunikasi lebih menentukan daripada kemampuan teknis.
E. Industri harus mempertahankan seluruh pekerjaan yang bersifat rutin.

2. Asumsi yang mendasari rekomendasi penulis pada paragraf ketiga adalah …

A. Kebutuhan keterampilan dapat terus berubah selama seseorang menjalani karier.
B. Seluruh pekerja memiliki kesempatan yang sama untuk mempelajari teknologi.
C. Lembaga pendidikan telah mampu memprediksi semua pekerjaan masa depan.
D. Perusahaan akan menghentikan penggunaan mesin jika pekerja tidak siap.
E. Pekerjaan baru hanya dapat dilakukan oleh lulusan pendidikan tinggi.

3. Pernyataan yang paling tepat menggambarkan sikap penulis terhadap otomatisasi adalah …

A. Menolak otomatisasi karena dianggap merugikan semua pekerja.
B. Mendukung otomatisasi tanpa mempertimbangkan dampak sosialnya.
C. Meragukan otomatisasi karena teknologi tidak mampu menciptakan pekerjaan.
D. Membatasi otomatisasi hanya untuk pekerjaan yang membutuhkan pemrograman.
E. Memandang otomatisasi secara kritis dengan memperhatikan peluang dan risikonya.

4. Data yang paling efektif untuk memperkuat argumentasi pada paragraf pertama adalah …

A. Persentase pekerja yang menggunakan internet dalam kehidupan sehari-hari.
B. Perbandingan jumlah pekerjaan rutin yang hilang dan pekerjaan baru yang muncul.
C. Daftar perusahaan yang menggunakan mesin dalam proses produksinya.
D. Pendapat pekerja mengenai kenyamanan menggunakan perangkat digital.
E. Sejarah perkembangan komputer sejak pertama kali ditemukan.

5. Jika pelatihan hanya diberikan sebelum seseorang memasuki dunia kerja, kemungkinan yang terjadi menurut logika bacaan adalah …

A. Pekerja akan menguasai seluruh keterampilan teknis yang dibutuhkan.
B. Perusahaan tidak lagi memerlukan pelatihan bagi tenaga kerjanya.
C. Kesenjangan keterampilan akan hilang karena pendidikan telah mencukupi.
D. Keterampilan pekerja dapat tertinggal ketika kebutuhan pekerjaan berubah.
E. Otomatisasi akan berhenti karena tenaga kerja tidak mampu beradaptasi.


Bacaan untuk Soal Nomor 6–10

Membatasi Kendaraan Bukan Satu-Satunya Jawaban

Sejumlah pemerintah kota menerapkan pembatasan kendaraan pribadi untuk menekan kemacetan dan pencemaran udara. Kebijakan tersebut terlihat masuk akal karena jumlah kendaraan yang beroperasi dapat dikurangi. Akan tetapi, efektivitasnya sangat bergantung pada tersedianya pilihan transportasi lain. Pembatasan tanpa perbaikan angkutan umum hanya memindahkan kesulitan dari jalan raya kepada masyarakat yang mobilitasnya bergantung pada kendaraan pribadi.

Pembangunan transportasi umum pun tidak cukup dilakukan dengan menambah jumlah armada. Jaringan angkutan harus terhubung, memiliki jadwal yang dapat diperkirakan, dan menjangkau kawasan permukiman. Sebuah bus yang nyaman tidak banyak berguna jika calon penumpang harus berjalan terlalu jauh menuju halte atau menunggu tanpa kepastian.

Selain itu, kebijakan transportasi harus mempertimbangkan perbedaan kondisi warga. Pekerja dengan jadwal malam, penyandang disabilitas, dan penduduk daerah pinggiran menghadapi kebutuhan mobilitas yang tidak selalu dapat dipenuhi oleh layanan umum yang seragam. Karena itu, keberhasilan kebijakan tidak semestinya hanya diukur berdasarkan berkurangnya kendaraan, tetapi juga berdasarkan terjaganya akses masyarakat terhadap pekerjaan, pendidikan, dan layanan publik.

6. Kelemahan utama kebijakan pembatasan kendaraan menurut penulis adalah …

A. Kebijakan tersebut selalu menambah jumlah kendaraan di jalan raya.
B. Kebijakan dapat menghambat mobilitas jika tidak disertai pilihan transportasi yang layak.
C. Kebijakan hanya dapat diterapkan kepada penduduk di daerah pinggiran.
D. Kebijakan menyebabkan masyarakat tidak lagi membutuhkan angkutan umum.
E. Kebijakan membuat pemerintah berhenti membangun jaringan transportasi.

7. Mengapa penambahan jumlah armada belum menjamin keberhasilan transportasi umum?

A. Masyarakat selalu lebih memilih kendaraan pribadi daripada kendaraan umum.
B. Seluruh armada baru hanya dapat digunakan oleh warga pusat kota.
C. Biaya penambahan armada selalu lebih besar daripada manfaat yang diperoleh.
D. Kualitas layanan juga ditentukan oleh keterhubungan, kepastian jadwal, dan jangkauan.
E. Penambahan armada menyebabkan waktu tunggu penumpang menjadi lebih lama.

8. Prinsip yang mendasari argumentasi pada paragraf ketiga adalah …

A. Kebijakan publik perlu memperhitungkan keberagaman kebutuhan masyarakat.
B. Keberhasilan transportasi hanya ditentukan oleh penurunan jumlah kendaraan.
C. Semua warga dapat dilayani dengan sistem transportasi yang sama persis.
D. Penduduk daerah pinggiran seharusnya berpindah ke pusat kota.
E. Kepentingan lingkungan harus selalu didahulukan daripada mobilitas warga.

9. Pernyataan yang paling mungkin ditolak oleh penulis adalah …

A. Jadwal yang pasti dapat meningkatkan keandalan transportasi umum.
B. Jaringan angkutan perlu menjangkau kawasan tempat tinggal masyarakat.
C. Pembatasan kendaraan membutuhkan dukungan pilihan transportasi lain.
D. Kondisi kelompok rentan perlu dipertimbangkan dalam kebijakan transportasi.
E. Penurunan jumlah kendaraan sudah cukup membuktikan keberhasilan kebijakan.

10. Berdasarkan bacaan, indikator keberhasilan kebijakan transportasi yang paling komprehensif adalah …

A. Bertambahnya armada dan meningkatnya pembangunan tempat parkir.
B. Berkurangnya kendaraan dan meningkatnya penjualan tiket angkutan umum.
C. Berkurangnya kemacetan tanpa mengurangi akses masyarakat terhadap layanan penting.
D. Menurunnya kendaraan pribadi dan bertambahnya halte di pusat kota.
E. Meningkatnya penggunaan bus oleh pekerja yang tinggal di perkotaan.


Bacaan untuk Soal Nomor 11–15

Perlukah Telepon Seluler Dilarang di Sekolah?

Larangan total penggunaan telepon seluler di sekolah sering dipandang sebagai cara cepat untuk meningkatkan konsentrasi peserta didik. Pandangan ini memperoleh dukungan dari berbagai temuan yang menunjukkan bahwa notifikasi dan media sosial dapat mengganggu perhatian. Meskipun demikian, hubungan antara keberadaan telepon seluler dan rendahnya hasil belajar tidak selalu bersifat langsung. Cara penggunaan, aturan kelas, dan tujuan pembelajaran turut menentukan pengaruh perangkat tersebut.

Telepon seluler juga dapat mendukung proses pembelajaran. Peserta didik dapat mengakses kamus, sumber ilmiah, simulasi, dan media interaktif. Akan tetapi, manfaat tersebut tidak muncul secara otomatis. Penggunaan perangkat tanpa rancangan pembelajaran yang jelas justru dapat mengalihkan perhatian peserta didik dari kegiatan utama.

Karena itu, sekolah sebaiknya tidak terjebak pada dua pilihan ekstrem: membebaskan penggunaan telepon seluler atau melarangnya secara mutlak. Kebijakan yang lebih masuk akal adalah membatasi penggunaannya berdasarkan waktu, tempat, dan tujuan. Kebijakan semacam ini memang lebih sulit diterapkan karena membutuhkan pengawasan dan konsistensi. Namun, pendidikan seharusnya tidak hanya menghindarkan peserta didik dari gangguan, tetapi juga melatih mereka mengendalikan penggunaan teknologi.

11. Alasan utama penulis tidak menyetujui larangan total telepon seluler adalah …

A. Larangan total hanya dapat diterapkan di sekolah dengan jumlah siswa sedikit.
B. Telepon seluler tidak pernah mengganggu konsentrasi peserta didik di kelas.
C. Sekolah tidak memiliki kewenangan mengatur perangkat milik peserta didik.
D. Seluruh materi pelajaran hanya dapat diakses melalui telepon seluler.
E. Dampak telepon seluler bergantung pada cara penggunaan dan konteks pembelajaran.

12. Fungsi kalimat “Manfaat tersebut tidak muncul secara otomatis” dalam argumentasi penulis adalah …

A. Menegaskan bahwa semua penggunaan perangkat memberikan hasil yang sama.
B. Membantah bahwa telepon seluler dapat digunakan sebagai sumber pembelajaran.
C. Membatasi klaim sebelumnya dengan menambahkan syarat agar manfaat dapat diperoleh.
D. Menyimpulkan bahwa telepon seluler lebih banyak membawa kerugian daripada manfaat.
E. Menunjukkan bahwa peserta didik mampu mengendalikan perangkat tanpa bimbingan.

13. Kelemahan penalaran yang terdapat dalam pernyataan “Nilai siswa menurun setelah mereka membawa telepon seluler; berarti telepon seluler adalah satu-satunya penyebab penurunan tersebut” adalah …

A. Menggunakan istilah yang memiliki makna tidak jelas.
B. Menyimpulkan hubungan sebab-akibat tanpa mempertimbangkan faktor lain.
C. Menyerang pribadi pengguna telepon seluler dan bukan gagasannya.
D. Menggunakan pendapat mayoritas sebagai bukti kebenaran mutlak.
E. Membandingkan dua keadaan yang tidak memiliki persamaan sama sekali.

14. Bukti yang paling relevan untuk menguji efektivitas kebijakan yang ditawarkan penulis adalah …

A. Data jumlah merek telepon seluler yang digunakan peserta didik.
B. Pendapat produsen mengenai fitur pendidikan pada perangkat mereka.
C. Riwayat perubahan peraturan sekolah selama sepuluh tahun terakhir.
D. Perbandingan fokus belajar sebelum dan sesudah pembatasan berbasis waktu dan tujuan.
E. Daftar aplikasi yang paling sering diunduh oleh peserta didik.

15. Simpulan yang paling mencerminkan keseluruhan argumentasi penulis adalah …

A. Penggunaan telepon seluler perlu diatur secara kontekstual sekaligus dijadikan sarana melatih pengendalian diri.
B. Penggunaan telepon seluler harus dibebaskan karena teknologi selalu mendukung proses pembelajaran.
C. Larangan total harus diterapkan karena gangguan digital tidak mungkin dikendalikan oleh peserta didik.
D. Pengaturan telepon seluler tidak diperlukan apabila guru telah merancang pembelajaran dengan baik.

E. Telepon seluler hanya boleh digunakan untuk mencari kamus dan sumber ilmiah di dalam kelas.



Sumber berita : Klik di sini!