Bahasa Indonesia saat ini menggunakan 26 huruf alfabet Latin sebagaimana ditetapkan dalam Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD). Sistem tersebut telah berfungsi dengan baik dan menjadi standar resmi dalam pendidikan, pemerintahan, penerbitan, serta komunikasi masyarakat.
Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menyatakan bahwa ejaan resmi sekarang salah dan bukan pula usulan kebijakan resmi. Tulisan ini merupakan sebuah eksperimen pemikiran: bagaimana jika alfabet bahasa Indonesia dirancang sedikit lebih fonemis, yaitu dengan membuat hubungan antara bunyi dan lambang tulis menjadi lebih langsung?
Dari pertanyaan tersebut lahirlah rancangan alternatif berikut:
A B C D É Ê F G H I J K L M N Ɲ Ŋ O P R S T U W Y Z
Dalam bentuk huruf kecil/kapitil:
a b c d é ê f g h i j k l m n ɲ ŋ o p r s t u w y z
Menariknya, rancangan ini tetap berjumlah 26 huruf, sama dengan alfabet bahasa Indonesia saat ini. Namun, komposisinya berbeda.
Dalam rancangan ini, Q, V, X, dan E tanpa diakritik tidak digunakan, sedangkan É, Ê, Ɲ, dan Ŋ diperlakukan sebagai huruf tersendiri.
Prinsip yang Digunakan
Rancangan ini menggunakan tiga gagasan sederhana:
- perbedaan bunyi yang dianggap penting dapat diberi lambang yang berbeda;
- satu bunyi yang sekarang ditulis dengan dua huruf dapat, jika dianggap bermanfaat, diberi satu grafem;
- huruf yang dalam sistem alternatif dianggap dapat digantikan tanpa kehilangan informasi bunyi dapat dikeluarkan.
Prinsip tersebut sengaja tidak diterapkan secara mutlak. Jika seluruh perbedaan bunyi harus mendapatkan lambang tersendiri, alfabet justru dapat menjadi terlalu rumit dan menjauh dari tujuan penyederhanaan.
Rancangan ini juga berfokus pada kebutuhan bahasa Indonesia, bukan untuk merepresentasikan seluruh sistem bunyi bahasa daerah di Indonesia.
1. Q, V, dan X dalam Rancangan Alternatif
Dalam ejaan resmi saat ini, Q, V, dan X tetap merupakan bagian dari 26 huruf alfabet bahasa Indonesia. Karena itu, penghilangan ketiganya dalam tulisan ini harus dipahami semata-mata sebagai pilihan dalam rancangan alternatif, bukan sebagai pernyataan bahwa ketiga huruf tersebut tidak sah atau tidak berguna dalam bahasa Indonesia baku.
Q → K
Dalam rancangan ini, Q digantikan oleh K apabila bunyi yang hendak dilambangkan memang /k/.
Cara tersebut mengutamakan pelafalan bahasa Indonesia dibandingkan dengan mempertahankan bentuk grafis bahasa sumber.
Dengan demikian, keberadaan Q tidak lagi diperlukan sebagai huruf tersendiri dalam alfabet alternatif ini.
V → F
Rancangan ini memilih F sebagai satu-satunya lambang pada pasangan F–V.
Pilihan tersebut merupakan bentuk penyederhanaan. Namun, konsekuensinya juga harus diakui: perbedaan antara /f/ dan /v/ yang dipertahankan dalam sejumlah kata atau pengucapan tidak lagi dibedakan secara grafis.
Karena itu, penghilangan V merupakan salah satu bagian rancangan yang paling terbuka untuk diperdebatkan.
X → KS
X tidak digunakan sebagai huruf tersendiri. Jika X melambangkan urutan bunyi /k/ dan /s/, penulisannya digantikan dengan KS.
Dengan demikian, penghilangan Q, V, dan X bukan didasarkan pada anggapan bahwa ketiganya merupakan huruf yang “salah”, melainkan pada pilihan untuk membuat sistem alternatif yang lebih hemat grafem.
2. É dan Ê untuk Membedakan Bunyi E
Salah satu persoalan menarik dalam tulisan bahasa Indonesia adalah huruf e, karena satu bentuk huruf tersebut dapat mewakili pengucapan yang berbeda.
Dalam rancangan alternatif ini, perbedaan tersebut dibuat eksplisit melalui dua huruf:
- É é untuk e taling;
- Ê ê untuk e pepet.
Dengan demikian, E/e tanpa tanda tidak digunakan lagi.
Tujuannya adalah memberikan informasi pengucapan secara langsung melalui tulisan sehingga pembaca tidak selalu harus menentukan pengucapan berdasarkan konteks.
Pembedaan tersebut juga membuat hubungan antara grafem dan bunyi menjadi lebih transparan.
Namun, penggunaan É dan Ê secara konsisten dalam seluruh tulisan merupakan konvensi rancangan alternatif ini, bukan ketentuan ejaan bahasa Indonesia yang berlaku sekarang.
3. NG → Ŋ
Dalam EYD, ng merupakan gabungan huruf konsonan yang digunakan untuk melambangkan satu bunyi konsonan /ŋ/. Penulisan ng tentu bukan kesalahan ataupun kekurangan dalam sistem ejaan bahasa Indonesia sekarang.
Namun, apabila prinsip yang digunakan adalah satu bunyi tertentu dapat diwakili oleh satu grafem, /ŋ/ dapat dilambangkan dengan:
Ŋ ŋ
Karakter tersebut telah tersedia dalam Unicode dan dikenal sebagai eng.
Contoh:
bunga → buŋa
datang → dataŋ
Dengan cara tersebut, satu bunyi /ŋ/ ditulis dengan satu grafem, bukan lagi gabungan dua huruf n dan g.
Keuntungannya adalah hubungan antara bunyi dan tulisan menjadi lebih langsung. Kekurangannya, masyarakat harus mempelajari bentuk huruf yang saat ini tidak digunakan dalam ejaan bahasa Indonesia baku.
4. NY → Ɲ
Prinsip yang sama diterapkan pada ny.
Dalam ejaan bahasa Indonesia sekarang, ny merupakan gabungan huruf konsonan yang digunakan untuk melambangkan bunyi /ɲ/.
Dalam rancangan alternatif, bunyi tersebut diberi satu grafem:
Ɲ ɲ
Contoh:
banyak → baɲak
nyanyi → ɲaɲi
Karakter Ɲ/ɲ telah tersedia dalam Unicode.
Dengan pilihan tersebut, sistem memperoleh tiga lambang nasal yang berbeda secara grafis:
N – Ɲ – Ŋ
atau dalam bentuk kecil:
n – ɲ – ŋ
Sekali lagi, penggunaan Ɲ bukan koreksi terhadap ny dalam ejaan yang berlaku sekarang. Ini hanyalah alternatif grafis apabila prinsip satu bunyi–satu grafem ingin diterapkan lebih jauh.
5. C, KH, dan SY Tetap Dipertahankan
Eksperimen ini tidak berusaha mengubah seluruh sistem tulisan bahasa Indonesia sekaligus.
Huruf C tetap dipertahankan.
Demikian pula kh dan sy tetap ditulis seperti sekarang.
Pertanyaan yang mungkin muncul adalah: jika ng dan ny diganti dengan satu grafem, mengapa kh dan sy tidak diperlakukan dengan cara yang sama?
Secara teoretis, keduanya tentu dapat saja diberi lambang tersendiri. Namun, rancangan ini sengaja memberikan batas agar perubahan tidak berkembang menjadi sistem fonetik yang terlalu kompleks.
Dengan kata lain, rancangan ini tidak mengejar kesempurnaan fonetik. Tujuannya hanya menguji beberapa perubahan yang dianggap dapat membuat hubungan antara bunyi dan tulisan lebih langsung tanpa merombak seluruh sistem.
Susunan Alfabet Alternatif
Jika seluruh keputusan tersebut diterapkan, alfabet alternatif bahasa Indonesia menjadi:
A B C D É Ê F G H I J K L M N Ɲ Ŋ O P R S T U W Y Z
Dalam bentuk huruf kecil:
a b c d é ê f g h i j k l m n ɲ ŋ o p r s t u w y z
Jumlah keseluruhannya tetap:
26 huruf
Perbedaannya dengan alfabet yang digunakan sekarang dapat diringkas sebagai berikut:
Bentuk dalam sistem sekarang| Bentuk dalam rancangan alternatif
Q| K
V| F
X| KS
E/e| tidak digunakan sebagai huruf tersendiri
e taling| É/é
e pepet| Ê/ê
ng /ŋ/| Ŋ/ŋ
ny /ɲ/| Ɲ/ɲ
Dengan demikian, perubahan komposisinya adalah:
Dikeluarkan: Q, V, X, E
Ditambahkan: É, Ê, Ɲ, Ŋ
Hasil akhirnya tetap 26 huruf, tetapi bukan lagi susunan A–Z yang sama dengan alfabet Latin bahasa Indonesia saat ini.
Mengapa Tidak Ada Ḍ dan Ṭ?
Dalam versi awal eksperimen ini, sempat dipertimbangkan penggunaan Ḍ/ḍ dan Ṭ/ṭ untuk melambangkan bunyi retrofleks /ɖ/ dan /ʈ/.
Setelah dipertimbangkan kembali, keduanya tidak dimasukkan.
Alasannya, rancangan ini dimaksudkan sebagai eksperimen alfabet bahasa Indonesia, bukan sebagai sistem yang harus mampu merepresentasikan seluruh perbedaan bunyi dalam bahasa-bahasa daerah Nusantara.
Memasukkan setiap perbedaan fonetis yang terdapat dalam bahasa daerah justru dapat membuat alfabet menjadi semakin kompleks.
Karena itu, D dan T tetap dipertahankan tanpa penambahan Ḍ dan Ṭ.
Keputusan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa prinsip fonemis dalam rancangan ini tidak diterapkan secara mutlak. Kesederhanaan dan fungsi praktis tetap menjadi pertimbangan.
Apa Keuntungannya?
Secara hipotetis, sistem seperti ini dapat membuat beberapa hubungan antara bunyi dan tulisan menjadi lebih transparan.
Pembedaan É–Ê memberikan informasi pengucapan yang lebih jelas. Sementara itu, Ŋ dan Ɲ membuat bunyi /ŋ/ dan /ɲ/ masing-masing memiliki satu grafem tersendiri.
Penghilangan Q, V, dan X juga mengurangi sejumlah huruf yang dalam rancangan ini dianggap dapat digantikan oleh huruf atau gabungan huruf lain.
Namun, keteraturan fonologis bukan satu-satunya ukuran baik atau buruknya suatu sistem tulisan.
Perubahan alfabet akan berpengaruh terhadap kebiasaan membaca dan menulis, papan ketik, bahan ajar, kamus, pengurutan alfabetis, pencarian digital, administrasi, basis data, penerbitan, serta berbagai sistem teknologi.
Karena itu, alfabet yang secara fonologis lebih teratur belum tentu otomatis lebih praktis bagi masyarakat.
Tetap 26 Huruf, tetapi Berbeda
Salah satu hal menarik dari rancangan ini justru bukan bertambah atau berkurangnya jumlah alfabet.
Jumlahnya tetap 26 huruf.
Yang berubah adalah komposisinya.
Empat bentuk dikeluarkan:
Q, V, X, E
dan empat bentuk lainnya masuk:
É, Ê, Ɲ, Ŋ
Perubahan tersebut menghasilkan alfabet yang mencoba memberikan hubungan lebih langsung antara tulisan dan pengucapan tanpa menambah jumlah keseluruhan huruf.
Hal ini menunjukkan bahwa pembaruan sistem tulisan tidak selalu harus berarti menambah banyak karakter baru. Sistem dapat disusun ulang dengan mempertimbangkan fungsi setiap grafem.
Sebuah Eksperimen, Bukan Pengganti EYD
Sejarah ejaan Indonesia memperlihatkan bahwa konvensi tulisan memang dapat berubah. Akan tetapi, perubahan ejaan tidak cukup hanya didasarkan pada pertimbangan keteraturan sistem.
Perubahan harus mempertimbangkan sejarah bahasa, variasi pengucapan, kemudahan belajar, penerimaan masyarakat, teknologi, hubungan dengan bahasa lain, serta fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa bersama bagi masyarakat dengan latar bahasa daerah yang sangat beragam.
Karena itu, rancangan alfabet ini lebih tepat dipandang sebagai eksperimen ortografis, bukan tuntutan untuk mengganti EYD atau alfabet bahasa Indonesia yang berlaku sekarang.
Pertanyaan yang hendak diajukan bukan:
“Apakah alfabet bahasa Indonesia sekarang salah?”
melainkan:
“Jika alfabet bahasa Indonesia dirancang kembali dengan memberi bobot lebih besar pada hubungan antara bunyi dan tulisan, seperti apakah bentuk yang cukup fonemis, sederhana, dan tetap praktis?”
Salah satu kemungkinan jawabannya adalah:
A B C D É Ê F G H I J K L M N Ɲ Ŋ O P R S T U W Y Z
Dua puluh enam huruf juga—tetapi dengan cara berpikir yang berbeda.
Kemungkinan lain tentu dapat dibuat, diperdebatkan, dan diuji. Justru di situlah nilai eksperimen ini: membuka ruang untuk membicarakan sistem tulisan bahasa Indonesia secara kritis tanpa harus menganggap sistem yang berlaku sekarang sebagai sesuatu yang salah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silakan Anda mengisi komentar jika mendapat manfaat dari uraian di atas. Hindari SARA dan junjung tinggi etika kesopanan... No SPAM...!!! Terima kasih...