#navbar-iframe-container, #navbar-iframe, .navbar { display: none !important; height: 0 !important; visibility: hidden !important; }

My Songs

Mars SMANSAKA (Orchestra Version)
HUT SMANSAKA
Welcome to SMANSAKA
SMANSAKA Juara Lagi
Ekskul Musik Anthem : Guitar Zero Club (GZC)

3 Agustus 2026

LATIHAN SOAL TEKS ARGUMENTASI TINGKAT LANJUT

Soal Bahasa Indonesia Kelas XI

Materi Teks Argumentasi – Tingkat Lanjut

Petunjuk: Pilihlah satu jawaban yang paling tepat.


Bacaan untuk Soal Nomor 1–5

Otomatisasi dan Masa Depan Pekerjaan

Kekhawatiran bahwa otomatisasi akan menghilangkan sebagian besar pekerjaan manusia tidak sepenuhnya keliru, tetapi sering disampaikan tanpa mempertimbangkan perubahan struktur pekerjaan. Mesin memang mampu menggantikan pekerjaan yang bersifat rutin dan berulang. Namun, pada saat yang sama, perkembangan teknologi juga melahirkan jenis pekerjaan baru yang sebelumnya tidak dikenal. Dengan demikian, persoalan utama bukan sekadar berkurangnya pekerjaan, melainkan ketidaksesuaian antara keterampilan tenaga kerja dan kebutuhan industri.

Anggapan bahwa setiap pekerja harus menguasai pemrograman juga terlalu menyederhanakan persoalan. Dunia kerja tetap membutuhkan kemampuan berkomunikasi, berpikir kritis, bekerja sama, dan memecahkan masalah. Keterampilan teknis memang penting, tetapi nilainya akan berkurang jika tidak disertai kemampuan menilai situasi dan beradaptasi terhadap perubahan.

Oleh karena itu, pemerintah dan lembaga pendidikan perlu mengembangkan sistem pembelajaran yang lebih lentur. Program pelatihan tidak cukup hanya diberikan sebelum seseorang memasuki dunia kerja, tetapi harus tersedia sepanjang perjalanan kariernya. Tanpa kebijakan tersebut, otomatisasi berpotensi memperlebar kesenjangan antara pekerja yang mampu beradaptasi dan pekerja yang tertinggal.

1. Inti argumentasi penulis dalam bacaan tersebut adalah …

A. Otomatisasi harus dibatasi karena menghilangkan pekerjaan manusia.
B. Pemrograman harus menjadi kemampuan utama seluruh tenaga kerja.
C. Dampak otomatisasi perlu dihadapi melalui pengembangan keterampilan yang berkelanjutan.
D. Kemampuan berkomunikasi lebih menentukan daripada kemampuan teknis.
E. Industri harus mempertahankan seluruh pekerjaan yang bersifat rutin.

2. Asumsi yang mendasari rekomendasi penulis pada paragraf ketiga adalah …

A. Kebutuhan keterampilan dapat terus berubah selama seseorang menjalani karier.
B. Seluruh pekerja memiliki kesempatan yang sama untuk mempelajari teknologi.
C. Lembaga pendidikan telah mampu memprediksi semua pekerjaan masa depan.
D. Perusahaan akan menghentikan penggunaan mesin jika pekerja tidak siap.
E. Pekerjaan baru hanya dapat dilakukan oleh lulusan pendidikan tinggi.

3. Pernyataan yang paling tepat menggambarkan sikap penulis terhadap otomatisasi adalah …

A. Menolak otomatisasi karena dianggap merugikan semua pekerja.
B. Mendukung otomatisasi tanpa mempertimbangkan dampak sosialnya.
C. Meragukan otomatisasi karena teknologi tidak mampu menciptakan pekerjaan.
D. Membatasi otomatisasi hanya untuk pekerjaan yang membutuhkan pemrograman.
E. Memandang otomatisasi secara kritis dengan memperhatikan peluang dan risikonya.

4. Data yang paling efektif untuk memperkuat argumentasi pada paragraf pertama adalah …

A. Persentase pekerja yang menggunakan internet dalam kehidupan sehari-hari.
B. Perbandingan jumlah pekerjaan rutin yang hilang dan pekerjaan baru yang muncul.
C. Daftar perusahaan yang menggunakan mesin dalam proses produksinya.
D. Pendapat pekerja mengenai kenyamanan menggunakan perangkat digital.
E. Sejarah perkembangan komputer sejak pertama kali ditemukan.

5. Jika pelatihan hanya diberikan sebelum seseorang memasuki dunia kerja, kemungkinan yang terjadi menurut logika bacaan adalah …

A. Pekerja akan menguasai seluruh keterampilan teknis yang dibutuhkan.
B. Perusahaan tidak lagi memerlukan pelatihan bagi tenaga kerjanya.
C. Kesenjangan keterampilan akan hilang karena pendidikan telah mencukupi.
D. Keterampilan pekerja dapat tertinggal ketika kebutuhan pekerjaan berubah.
E. Otomatisasi akan berhenti karena tenaga kerja tidak mampu beradaptasi.


Bacaan untuk Soal Nomor 6–10

Membatasi Kendaraan Bukan Satu-Satunya Jawaban

Sejumlah pemerintah kota menerapkan pembatasan kendaraan pribadi untuk menekan kemacetan dan pencemaran udara. Kebijakan tersebut terlihat masuk akal karena jumlah kendaraan yang beroperasi dapat dikurangi. Akan tetapi, efektivitasnya sangat bergantung pada tersedianya pilihan transportasi lain. Pembatasan tanpa perbaikan angkutan umum hanya memindahkan kesulitan dari jalan raya kepada masyarakat yang mobilitasnya bergantung pada kendaraan pribadi.

Pembangunan transportasi umum pun tidak cukup dilakukan dengan menambah jumlah armada. Jaringan angkutan harus terhubung, memiliki jadwal yang dapat diperkirakan, dan menjangkau kawasan permukiman. Sebuah bus yang nyaman tidak banyak berguna jika calon penumpang harus berjalan terlalu jauh menuju halte atau menunggu tanpa kepastian.

Selain itu, kebijakan transportasi harus mempertimbangkan perbedaan kondisi warga. Pekerja dengan jadwal malam, penyandang disabilitas, dan penduduk daerah pinggiran menghadapi kebutuhan mobilitas yang tidak selalu dapat dipenuhi oleh layanan umum yang seragam. Karena itu, keberhasilan kebijakan tidak semestinya hanya diukur berdasarkan berkurangnya kendaraan, tetapi juga berdasarkan terjaganya akses masyarakat terhadap pekerjaan, pendidikan, dan layanan publik.

6. Kelemahan utama kebijakan pembatasan kendaraan menurut penulis adalah …

A. Kebijakan tersebut selalu menambah jumlah kendaraan di jalan raya.
B. Kebijakan dapat menghambat mobilitas jika tidak disertai pilihan transportasi yang layak.
C. Kebijakan hanya dapat diterapkan kepada penduduk di daerah pinggiran.
D. Kebijakan menyebabkan masyarakat tidak lagi membutuhkan angkutan umum.
E. Kebijakan membuat pemerintah berhenti membangun jaringan transportasi.

7. Mengapa penambahan jumlah armada belum menjamin keberhasilan transportasi umum?

A. Masyarakat selalu lebih memilih kendaraan pribadi daripada kendaraan umum.
B. Seluruh armada baru hanya dapat digunakan oleh warga pusat kota.
C. Biaya penambahan armada selalu lebih besar daripada manfaat yang diperoleh.
D. Kualitas layanan juga ditentukan oleh keterhubungan, kepastian jadwal, dan jangkauan.
E. Penambahan armada menyebabkan waktu tunggu penumpang menjadi lebih lama.

8. Prinsip yang mendasari argumentasi pada paragraf ketiga adalah …

A. Kebijakan publik perlu memperhitungkan keberagaman kebutuhan masyarakat.
B. Keberhasilan transportasi hanya ditentukan oleh penurunan jumlah kendaraan.
C. Semua warga dapat dilayani dengan sistem transportasi yang sama persis.
D. Penduduk daerah pinggiran seharusnya berpindah ke pusat kota.
E. Kepentingan lingkungan harus selalu didahulukan daripada mobilitas warga.

9. Pernyataan yang paling mungkin ditolak oleh penulis adalah …

A. Jadwal yang pasti dapat meningkatkan keandalan transportasi umum.
B. Jaringan angkutan perlu menjangkau kawasan tempat tinggal masyarakat.
C. Pembatasan kendaraan membutuhkan dukungan pilihan transportasi lain.
D. Kondisi kelompok rentan perlu dipertimbangkan dalam kebijakan transportasi.
E. Penurunan jumlah kendaraan sudah cukup membuktikan keberhasilan kebijakan.

10. Berdasarkan bacaan, indikator keberhasilan kebijakan transportasi yang paling komprehensif adalah …

A. Bertambahnya armada dan meningkatnya pembangunan tempat parkir.
B. Berkurangnya kendaraan dan meningkatnya penjualan tiket angkutan umum.
C. Berkurangnya kemacetan tanpa mengurangi akses masyarakat terhadap layanan penting.
D. Menurunnya kendaraan pribadi dan bertambahnya halte di pusat kota.
E. Meningkatnya penggunaan bus oleh pekerja yang tinggal di perkotaan.


Bacaan untuk Soal Nomor 11–15

Perlukah Telepon Seluler Dilarang di Sekolah?

Larangan total penggunaan telepon seluler di sekolah sering dipandang sebagai cara cepat untuk meningkatkan konsentrasi peserta didik. Pandangan ini memperoleh dukungan dari berbagai temuan yang menunjukkan bahwa notifikasi dan media sosial dapat mengganggu perhatian. Meskipun demikian, hubungan antara keberadaan telepon seluler dan rendahnya hasil belajar tidak selalu bersifat langsung. Cara penggunaan, aturan kelas, dan tujuan pembelajaran turut menentukan pengaruh perangkat tersebut.

Telepon seluler juga dapat mendukung proses pembelajaran. Peserta didik dapat mengakses kamus, sumber ilmiah, simulasi, dan media interaktif. Akan tetapi, manfaat tersebut tidak muncul secara otomatis. Penggunaan perangkat tanpa rancangan pembelajaran yang jelas justru dapat mengalihkan perhatian peserta didik dari kegiatan utama.

Karena itu, sekolah sebaiknya tidak terjebak pada dua pilihan ekstrem: membebaskan penggunaan telepon seluler atau melarangnya secara mutlak. Kebijakan yang lebih masuk akal adalah membatasi penggunaannya berdasarkan waktu, tempat, dan tujuan. Kebijakan semacam ini memang lebih sulit diterapkan karena membutuhkan pengawasan dan konsistensi. Namun, pendidikan seharusnya tidak hanya menghindarkan peserta didik dari gangguan, tetapi juga melatih mereka mengendalikan penggunaan teknologi.

11. Alasan utama penulis tidak menyetujui larangan total telepon seluler adalah …

A. Larangan total hanya dapat diterapkan di sekolah dengan jumlah siswa sedikit.
B. Telepon seluler tidak pernah mengganggu konsentrasi peserta didik di kelas.
C. Sekolah tidak memiliki kewenangan mengatur perangkat milik peserta didik.
D. Seluruh materi pelajaran hanya dapat diakses melalui telepon seluler.
E. Dampak telepon seluler bergantung pada cara penggunaan dan konteks pembelajaran.

12. Fungsi kalimat “Manfaat tersebut tidak muncul secara otomatis” dalam argumentasi penulis adalah …

A. Menegaskan bahwa semua penggunaan perangkat memberikan hasil yang sama.
B. Membantah bahwa telepon seluler dapat digunakan sebagai sumber pembelajaran.
C. Membatasi klaim sebelumnya dengan menambahkan syarat agar manfaat dapat diperoleh.
D. Menyimpulkan bahwa telepon seluler lebih banyak membawa kerugian daripada manfaat.
E. Menunjukkan bahwa peserta didik mampu mengendalikan perangkat tanpa bimbingan.

13. Kelemahan penalaran yang terdapat dalam pernyataan “Nilai siswa menurun setelah mereka membawa telepon seluler; berarti telepon seluler adalah satu-satunya penyebab penurunan tersebut” adalah …

A. Menggunakan istilah yang memiliki makna tidak jelas.
B. Menyimpulkan hubungan sebab-akibat tanpa mempertimbangkan faktor lain.
C. Menyerang pribadi pengguna telepon seluler dan bukan gagasannya.
D. Menggunakan pendapat mayoritas sebagai bukti kebenaran mutlak.
E. Membandingkan dua keadaan yang tidak memiliki persamaan sama sekali.

14. Bukti yang paling relevan untuk menguji efektivitas kebijakan yang ditawarkan penulis adalah …

A. Data jumlah merek telepon seluler yang digunakan peserta didik.
B. Pendapat produsen mengenai fitur pendidikan pada perangkat mereka.
C. Riwayat perubahan peraturan sekolah selama sepuluh tahun terakhir.
D. Perbandingan fokus belajar sebelum dan sesudah pembatasan berbasis waktu dan tujuan.
E. Daftar aplikasi yang paling sering diunduh oleh peserta didik.

15. Simpulan yang paling mencerminkan keseluruhan argumentasi penulis adalah …

A. Penggunaan telepon seluler perlu diatur secara kontekstual sekaligus dijadikan sarana melatih pengendalian diri.
B. Penggunaan telepon seluler harus dibebaskan karena teknologi selalu mendukung proses pembelajaran.
C. Larangan total harus diterapkan karena gangguan digital tidak mungkin dikendalikan oleh peserta didik.
D. Pengaturan telepon seluler tidak diperlukan apabila guru telah merancang pembelajaran dengan baik.

E. Telepon seluler hanya boleh digunakan untuk mencari kamus dan sumber ilmiah di dalam kelas.



Sumber berita : Klik di sini!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan Anda mengisi komentar jika mendapat manfaat dari uraian di atas. Hindari SARA dan junjung tinggi etika kesopanan... No SPAM...!!! Terima kasih...