Bercanda Ada Waktunya, Jumat Bukan Waktunya
Bercanda dengan teman itu biasa. Mengobrol juga biasa. Tetapi orang yang mulai dewasa seharusnya tahu satu hal sederhana: ada waktu untuk berbicara, ada waktu untuk diam.
Sayangnya, ketika Salat Jumat dilaksanakan di sekolah, masih ada pemandangan yang memprihatinkan. Khatib sedang menyampaikan khutbah, tetapi sebagian siswa justru asyik mengobrol. Ada yang berbisik, saling menyenggol, tertawa, bahkan seolah khutbah hanyalah suara latar.
Ketika salat dimulai, persoalannya kadang belum selesai. Masih ada yang cekikikan, bercanda, mengganggu teman, atau mengikuti salat tanpa kesungguhan.
Kalau Saat Khutbah Masih Mengobrol, Apa yang Dicari?
Rasulullah saw. memberikan tuntunan yang sangat tegas mengenai sikap ketika khutbah Jumat berlangsung. Bahkan mengatakan “diamlah” kepada teman ketika khatib sedang berkhutbah disebut sebagai perbuatan yang sia-sia.
Artinya, saat khutbah berlangsung, tugas jamaah sebenarnya sangat sederhana:
duduk, diam, dan dengarkan.
Tidak membutuhkan kemampuan khusus. Tidak membutuhkan nilai rapor yang tinggi. Hanya membutuhkan kesadaran dan kemampuan mengendalikan diri.
Jika diam beberapa menit saja terasa sulit, barangkali persoalannya bukan karena khutbah terlalu lama, melainkan karena kita belum terbiasa mengendalikan diri.
Salat Kok Masih Cekikikan?
Ini yang seharusnya membuat kita berpikir lebih serius.
Ketika takbir sudah dikumandangkan dan salat telah dimulai, kita bukan lagi sedang duduk santai bersama teman. Kita sedang melaksanakan ibadah.
Namun, masih ada yang sengaja membuat temannya tertawa, saling melirik kemudian cekikikan, atau bercanda di tengah salat.
Coba tanyakan kepada diri sendiri:
Jika di depan guru kita mampu menahan diri, mengapa ketika sedang menghadap Allah justru masih bercanda?
Jangan sampai kita lebih takut ditegur manusia daripada memiliki kesadaran untuk menghormati ibadah kita sendiri.
Dewasa Itu Tahu Tempat dan Waktu
Menjadi siswa SMA berarti sedang bergerak menuju kedewasaan. Kedewasaan tidak hanya ditunjukkan oleh usia, penampilan, keberanian berbicara, atau banyaknya teman.
Salah satu tanda kedewasaan justru sangat sederhana:
mampu menempatkan diri.
Di lapangan, silakan bergembira.
Saat istirahat, silakan bercanda.
Bersama teman, silakan mengobrol.
Tetapi ketika khutbah berlangsung, dengarkan.
Ketika salat dimulai, tunaikan dengan sungguh-sungguh.
Tidak perlu menunggu guru berdiri di belakang untuk menjadi tertib. Tidak perlu menunggu ditegur untuk berhenti bercanda.
Sebab tujuan pendidikan bukan menghasilkan siswa yang tertib ketika diawasi, melainkan manusia yang tahu bagaimana bersikap meskipun tidak ada yang mengawasi.
Jumat Bukan Sekadar Rutinitas
Salat Jumat di sekolah jangan sampai berubah menjadi kegiatan mingguan yang sekadar menggugurkan kewajiban.
Datang. Duduk. Mengobrol. Salat. Pulang.
Jika hanya itu yang terjadi, ada sesuatu yang hilang dari proses pendidikan kita.
Jumat seharusnya menjadi kesempatan untuk melatih ketenangan, kedisiplinan, penghormatan kepada orang lain, dan terutama kesadaran dalam beribadah.
Mulailah dari sesuatu yang sangat sederhana:
Saat khutbah, berhenti mengobrol.
Saat salat, berhenti bercanda.
Bercanda ada waktunya.
Jumat bukan waktunya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silakan Anda mengisi komentar jika mendapat manfaat dari uraian di atas. Hindari SARA dan junjung tinggi etika kesopanan... No SPAM...!!! Terima kasih...